Oleh: David Ardhian | Maret 21, 2012

Akses Pasar untuk Petani

Suatu hari saya berkunjung ke Pangalengan, sebuah kecamatan Bandung Selatan. Saya bertemu kelompok tani yang sedang bergiat untuk memasarkan produknya. Saya bertanya pada seorang petani jenis tanaman apa yang sedang ditanam. Seorang petani menjawab : “Kami menanam sepinat, Mas”. Lalu saya berpikir keras apa yang dimaksud tanaman “sepinat”? Setelah saya lihat ke kebun mereka ternyata adalah tanaman “bayam”. Maksudnya adalah “spinach”, bahasa Inggris dari bayam.

Penyebutan spinach dalam logat Sunda tersebut bagi saya menarik. Tentu saja istilah “sepinat” tersebut diperoleh dari proses interaksi sosial. Ceritanya, kelompok tani tersebut bekerjasama dengan pedagang sayur dengan pembeli dari Korea. Artinya bayam produk petani Pangalengan tersebut akan diekspor ke negeri Ginseng. Benar adanya, petani menggunakan istilah yang sama dengan bahasa para pedagang eksportir tersebut, bahkan para pembeli dari Korea juga pernah beberapa kali datang ke Pangalengan.

Selepas dari Pangalengan dengan berbagai cerita lengkap soal ekspor bayam, seluk beluk dan suka duka petani memberikan banyak inspirasi sekaligus perenungan. Akses pasar terhadap produk petani kini terbuka luas. Petani dengan skala kecil pun kini telah menjadi bagian dalam sebuah rantai pasar produk pertanian global. Para pedagang dari kota, eksportir dan bahkan importir dari luar negeri bisa langsung berhubungan dengan petani di pedesaan. Dugaan saya tidak hanya di Pangalengan, namun juga di berbagai daerah yang lain.

Keterbukaan pasar ini memberikan peluang namun sekaligus ancaman. Kasus petani di Pangalengan membuat saya merasakan perubahan sosial ekonomi yang nyata di dunia pertanian. Bayam yang seikat hanya dijual dua ribu rupiah jika kita beli di tukang sayur keliling, bisa menjadi sebuah produk dengan kelas ekspor. Tentu saja dengan akses pasar semakin terbuka, maka peluang untuk mendapatkan nilai tambah dari produk akan semakin besar. Petani punya peluang untuk melipatkan pendapatan, yang akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan mereka.

Namun hal tersebut bukan berarti tanpa resiko. Ada tiga level pasar, yakni pasar lokal, pasar lintas wilayah dan pasar ekspor, dimana semakin tinggi dan eksklusif akses pasar maka semakin tinggi resikonya. Jika menjual bayam pada tengkulak lokal maka resiko petani rendah, mereka tidak berurusan dengan standar kualitas yang ribet dan resiko komplain dari pembeli. Ketika masuk pasar lintas wilayah, apalagi ketika mendapatkan label produk organik, maka pasar semakin cerewet. Petani mesti mengubah cara bertanam, mulai harus cermat dalam kualitas bibit, serta perlu pengemasan yang enak dipandang sehingga layak dimata konsumen kota yang ingin hidup sehat. Terlebih jika petani harus menjual produk dengan standar ekspor, jelas ukuran yang digunakan dalam standarisasi adalah ukuran negara pengimpor. Petani harus makin ketat dalam pengelolaan budidaya yang sesuai dengan standar negara pengimpor.

Pertanyaannya adalah apakah setiap pihak yang terlibat dalam rantai pasar, memperoleh keuntungan yang sesuai dengan pengorbanan yang diberikan? Ini masalahnya. Petani masih saja sebagai pihak yang memiliki resiko terbesar, namun memperoleh nilai yang paling kecil diantara para pelaku dalam rantai pasar, entah pasar lokal, nasional atau ekspor.

Kuncinya adalah kelembagaan pada tingkat petani. Tanpa kelembagaan yang kuat, dimana termasuk pengetahuan dan penguasaan informasi pasar maka petani akan menjadi pihak paling rentan. Jika tiba tiba mitra dagang atau eksportir memutus kontrak, maka petani akan menerima kejutan langsung penurunan pendapatannya. Sebaliknya jika produk petani tidak sesuai dengan standar dari mitra dagang maka dengan segera produk tersebut bisa ditolak. Ada posisi asimetris dalam pola relasi tersebut. Keuntungan dan resiko belum terbagi dengan adil, ditengah kesenjangan posisi tawar dan kapasitas kelembagaan antar pelaku dalam rantai pasar.

Lebih dari itu keterbukaan pasar impor mengundang pertanyaan yang lebih serius. Tanpa penguatan kelembagaan petani dimana posisi tawar petani lemah, bukahkah sebuah bentuk pemanfaatan petani sebagai mesin produksi semata untuk pemenuhan kebutuhan bagi negara pengimpor? Hal ini pula yang membuat penguasaan lahan di negara berkembang atau land grabbing semakin marak di berbagai negara berkembang. Akses pasar untuk petani adalah sebuah narasi yang harus didefinisikan lebih mendalam dalam konteks pembangunan pertanian, utamanya pemberdayaan petani Indonesia.

Akhir akhir ini marak berbagai program untuk pengembangan “akses” pasar bagi petani, baik yang dilakukan pemerintah, LSM maupun berbagai CSR perusahaan. Apakah niat mulia pengembangan akses pasar tersebut mengarah pada penataan rantai pasar yang lebih adil bagi petani? Ataukah bagian dari penggunaan petani sebagai mesin produksi untuk pemenuhan “standar” kebutuhan konsumen semata?


Responses

  1. ayo cintai buah dan sayuran dalam negeri agar petani kita makmur.

  2. GOOD LUCK

    Baiknya untuk menjadi Dokter Tanaman siapkan beserta dengan cara-cara pengendalian dan saprotan ramah lingkungannya..

    Salam RL,
    http://www.petanipeneliti.webs.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: