Oleh: David Ardhian | Januari 11, 2012

Pangan, Pertanian dan Bencana Alam

Kita boleh percaya diri, namun tak boleh kurang kewaspadaan. Sebaliknya, tak cukup hanya berserah pasrah namun harus tetap berusaha. Alam dalam batas tertentu merupakan faktor pembatas gerak kehidupan, tetapi manusia dianugerahi akal dan budi untuk terus berusaha mengatasi hambatan dalam kehidupan, termasuk ketika menghadapi bencana alam.

Indonesia adalah negeri yang rawan bencana alam. Beberapa tahun terakhir intensitas bencana alam datang bertubi tubi. Tsunami, gempa bumi, banjir, kekeringan dan tanah longsor adalah serangkaian bentuk bencana yang telah mengguncang Indonesia, menimbulkan banyak korban baik nyawa manusia maupun harta benda. Indonesia adalah sebuah mosaik bentang alam dimana bencana alam merupakan sebuah resiko yang mau tidak mau harus dihadapi.

Intensitas bencana alam yang makin intens sudah semestinya menggugah kesadaran untuk menengok kembali kesiapan sosial bangsa ini dalam menghadapinya. Barangkali nenek moyang kita belajar dari situasi yang sama dalam membangun berbagai nilai solidaritas sosial. Ikatan sosial yang kuat adalah bentuk konstruksi sosial yang dihasilkan dari masyarakat yang harus berjuang menghadapi alam. Bentuk bentuk kegotong royongan di berbagai kelompok sosial, barangkali dihasilkan karena manusia di nusantara ini tidak bisa bekerja individualistik dalam mengatasi tantangan alam, termasuk resiko bencana.

Pangan adalah kebutuhan utama yang tak bisa ditunda, hal pokok yang harus dipenuhi untuk melangsungkan kehidupan. Pangan dan pertanian adalah ibu dari segala bentuk upaya pemenuhan penghidupan. Ketika bencana alam terjadi maka sistem pangan di wilayah tersebut tiba tiba runtuh. Jelas semua berkonsentrasi pada keselamatan jiwa. Pada masa pemulihan maka kebutuhan pangan menjadi mendesak, ketika ketersediaan pangan justru menipis bahkan habis. Maka para korban bencana alam mengandalkan kiriman bantuan pangan dari luar wilayah. Pola inilah yang terjadi ketika terjadi bencana alam.

Semestinya kita bisa mulai merancang bagaimana sistem pertanian dan pangan yang terintegrasi dengan upaya antisipasi bencana alam, terutama di daerah yang telah diketahui merupakan wilayah yang rawam. Banyak yang bisa dipetik dari kearifan tradisional dan pengetahuan lokal masa lampau sebagai prinsip dalam membangun sistem pangan yang siaga bencana alam. Tentu saja harus disesuaikan dengan situasi perkembangan jaman, dan perlu revitalisasi agar mampu selaras dengan kondisi kekinian.

Lumbung pangan adalah sebuah contoh yang baik. Masyarakat adat nusantara memiliki banyak model lumbung sebagai inti dari sistem pangan lokal. Prinsip dari lumbung pangan adalah menyimpan sebagian dari bahan pangan untuk persediaan ketika masa paceklik dan situasi ekstrem seperti bencana alam. Sudah harus dipikirkan bagaimana stok pangan tersedia di daerah atau sekitar wilayah yang rawan bencana alam. Lumbung dalam artian simpanan bahan makanan harus dibangun dalam sistem sosial masyarakat mulai dari keluarga, komunitas, desa sampai dengan kabupaten. Setiap keluarga harus memiliki ketersediaan lebih bahan pangan, tidak hanya yang habis dimakan sehari hari. Prinsip ini mesti dijalankan untuk membangun ketahanan sosial ketika menghadapi bencana alam.

Pengalaman penting adalah ketika terjadi gempa bumi di Jogja dan Jateng, dimana seluruh infrastruktur produksi pangan runtuh seketika. Padi yang siap panen tidak bisa digiling karena penggilingan padi runtuh. Ada inisiatif dari petani klaten untuk mengembangkan penggilingan beras skala kecil yang bisa dipindahkan satu komunitas ke komunitas lain. Hal ini cukup membantu petani dalam mengolah padi simpanan mereka menjadi beras yang menopang ketersediaan pangan wilayah. Dengan demikian teknologi pengolahan pangan pokok seperti beras harus tersedia dan terjangkau serta mampu mendukung dalam menghadapi situasi darurat bencana.

Secara lebih luas sistem pertanian yang siaga bencana harus disiapkan. Pemetaan potensi pertanian wilayah tidak hanya didasarkan pada kepentingan pasar, namun juga kepentingan dalam menjaga ketahanan pangan lokal terutama ketika terjadi bencana. Ada kecenderungan pertanian mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan pasar. Tarikan pasar telah mengubah lanskap pertanian seperti perluasan perkebunan kepala sawit besar besaran. Lahan tanaman pangan berubah menjadi tanaman komoditas berharga tinggi di pasaran. Hal ini merata terjadi di sebagian besar wilayah pertanian Indonesia, sehingga pangan tergantung pada sentra sentra produksi pangan. Hal ini akan menimbulkan kerentanan ketika terjadi bencana alam.

Dalam konteks pangan dan pertanian yang siaga bencana, ada tiga hal yang perlu dikembangkan. Pertama sistem budidaya dan teknologi pengolahan yang mendukung antisipasi bencana alam. Kedua sistem cadangan dan distribsusi pangan yang tersedia dalam antisipasi bencana. Ketiga adalah sistem tanggap darurat dalam manajemen pangan ketika terjadi bencana, termasuk pola dan skema pemulihan sistem pangan lokal pasca bencana alam. Ketiga hal tersebut bisa diwujudkan dari kondisi pemungkin yakni sistem sosial masyarakat yang siaga terhadap bencana, termasuk dukungan kebijakan dan program pemerintah yang antisipatif dan tidak responsif.

Dengan intensitas kejadian gempa bumi dan beberapa gunung berapi mulai aktif, memberikan tanda alam bahwa beberapa tahun ke depan, bencana alam masih mungkin terjadi. Tidak ada yang ingin bencana alam terjadi, tapi adalah kekeliruan besar jika tidak mengantisipasinya. Tidak ada yang bisa menduga secara tepat kapan bencana alam terjadi. Pengelolaan resiko dan antisipasi lebih baik dibanding tindakan responsif tanpa arah yang penuh ketergesaaan, apalagi sudah memakan banyak korban. Pertanian dan pangan yang siaga bencana adalah hal fundamental dalam pengelolaan resiko bencana alam.

Kita bisa saja memulai dari keluarga masing masing. Menyimpan segelas beras sehari di setiap rumah. Menabung seratus rupiah sehari di setiap keluarga. Siapa tahu akan berguna untuk membantu saudara kita atau diri kita sendiri ketika menghadapi masa sulit bencana alam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: