Oleh: David Ardhian | Januari 10, 2012

Laporan FAO : Tanah Pertanian Makin Rusak

Tanah makin tak subur. Kualitas tanah pertanian semakin menurun. Hasil analisis menggambarkan sebagian besar tanah pertanian kekurangan bahan organik. Di wilayah sentra produksi padi, penggunaan pupuk urea menembus angka 300-700 kg/ha, namun produktifitas mengalami stagnasi dan cenderung menurun. Di Indramayu penggunaan pupuk urea adalah tertinggi yakni rata rata 600 kg/ha. Pori pori tanah semakin rapat dengan asupan berbagai input kimia pertanian, membuat mikroorganisme penyubur tanah semakin tergerus. Akibatnya, penyakit tanaman akibat kurang unsur hara seperti penyakit blast pada padi dan fusarium pada bawang merah, semakin luas terjadi.

Masalah kualitas tanah ini berpadu dengan persoalan ketersediaan air untuk pertanian. Ketersediaan air pertanian menjadi semakin labil, banjir di musim hujan dan kering di musim kemarau. Datangnya air ke saluran irigasi semakin tak pasti, mengakibatkan sering terjadi keterlambatan awal tanam. Di beberapa wilayah terjadi perebutan air antar komunitas petani, namun di daerah lain terjadi kebanjiran. Hal ini membuat siklus tanam menjadi sering berubah, yang mengakibatkan siklus hama menjadi semakin sulit diprediksikan. Di Pantai utara Pulau Jawa, persawahan yang dekat dengan laut mengalami tekanan akibat pengaruh rembesan air laut yang meningkatkan kadar keasinan atau salinitas tanah.

Demikian salah satu rumusan temuan dari survey dan kunjungan lapangan yang dilakukan oleh Yayasan Tunas Tani Mandiri (Nastari) dan Klinik Tanaman IPB, yang bertajuk Safari Gotong Royong Petani. Kunjungan lapang maraton ini dilakukan di 24 Kabupaten/Kota di Jawa, selama 3 bulan dan berdiskusi dengan 2350 stakeholder lokal pertanian mulai dari petani, penyuluh lapang, pondok pesantren, aparat desa, aparatur pertanian dari pusat dan daerah, DPRD dan pengusaha pertanian pada tingkat lokal.

Eitt tunggu … survey ini dilakukan pada tahun 2007, atau hampir 4 tahun yang lalu. Hasil survey ini telah disampaikan kepada para pihak berkepentingan seperti kementrian pertanian dan aparatur pertanian di daerah, dengan sebuah rekomendasi perlunya perbaikan kualitas kesuburan tanah pertanian dengan memperbesar penggunaan bahan organik. Pertanian ekologis menjadi sebuah anjuran agar agro-ekosistem bisa kembali dipulihkan, demi kelangsungan produksi pangan jangka panjang.

Meski pemerintah tidak terlampau menganggap temuan ini penting, namun beberapa kader petani telah menjalankan rekomendasi lengkap dengan panduan teknis untuk pertanian ekologis dan menghasilkan dampak signifikan. Namun hal ini tidak cukup memberikan dampak yang masif terhadap perbaikan kualitas agro-ekosistem secara luas. Pertanian pangan masih dijalankan dengan cara konvensional yakni praktek pertanian tinggi input luar, tinggi asupan kimia, subsidi pupuk kimia besar besaran, malah dengan penggunaan benih hibrida yang rakus hara, serta menghasilkan ledakan hama penyakit tanaman secara luas. Klasik, seperti biasa.

Akhi tahun 2011, UN-FAO mengeluarkan sebuah laporan berjudul The State of The World’s Land and Water Resources of Food and Agriculture. Yang menarik dari laporan ini adalah temuan yang kurang lebih sama dengan apa yang ditemukan Yayasan Nastari dan Klinik Tanaman sekitar empat tahun lalu! Seperempat lahan pertanian di dunia mengalami penurunan kualitas alias terdegradasi.

FAO melaporkan bahwa 25% lahan pertanian dunia masuk dalam kategori “highly degraded”, 8 % termasuk “moderately degraded”, sementara 36% dinilai stabil namun dengan catatan “slightly degraded” dan hanya 10% yang dikategorikan semakin membaik. Laporan FAO juga menambahkan bahwa air untuk pertanian cenderung makin langka, tercemar oleh toksik dari input kimia pertanian dan peningkatan salinitas. Ujungnya FAO khawatir karena petani di dunia harus memproduksi pangan 70% lebih besar dari saat ini agar mampu mencukupi kebutuhan 9 trilyun penduduk pada tahun 2050. Kenapa khawatir, beban peningkatan produksi pangan harus dicapai dalam kondisi tantangan perubahan iklim, penurunan luasan lahan dan kondisi agro-ekosistem yang rusak.

FAO merekomendasikan sebuah praktek budidaya yang berkelanjutan, peningkatan produksi dengan cara perbaikan kualitas tanah dan air pertanian alias pertanian ekologis. Produksi pangan tidak bisa lagi mengandalkan cara lama, yakni meningkatkan produktifitas namun dengan teknologi yang merusak kualitas tanah dan air, seperti pertanian dengan input luar tinggi yang masih marak dipraktekkan.

Rekomendasi tersebut nampaknya familiar terutama bagi petani yang telah jauh lebih dulu menerapkan pertanian ekologis empat tahun yang lalu. Saat ini titik titik komunitas kecil di Indramayu, Garut, Banjarnegara, Sleman, Kediri dan beberapa kabupaten lain, para petani telah menikmati hasil usaha mereka perbaikan kualitas kesuburan tanah di sawahnya. Bahkan para petani korban ledakan Gunung Merapi telah menerapkan praktek pertanian ekologis, serta menjual beras organiknya ke pasaran setahun sebelum rekomendasi FAO yang datang terlambat itu.

Beda petani, beda pemerintahnya. Meski dalam luasan terbatas dan jumlah yang kecil, petani memulai mempraktekkan budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Menjaga kestabilan produksi dengan cara yang tidak merusak kelestarian ekosistem sawah, dan sebaliknya terus memperbaiki kualitas kesuburan tanah dan penggunaan air secara bijaksana. Pemerintah? Lihat saja angka impor benih padi hibrida yang terus naik. Subsidi benih trilyunan hanya untuk membiayai para importir menyebar benih hibrida yang rakus hara dan memancing ledakan hama. Alih alih memperbaiki kualitas tanah, malah justru menebar praktek pertanian yang mengandalkan tinggi input luar seperti benih hibrida impor.

Apakah Pak Menteri Pertanian membaca laporan FAO?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: