Oleh: David Ardhian | Juli 24, 2011

Gemari Buah Lokal

Pepaya mangga pisang jambu
Dibawa dari pasar minggu
Disana banyak penjualnya
Dikota banyak pembelinya

Demikian kutipan lagu “tempo doeloe” soal buah buahan. Kalau pencipta lagu itu hidup pada masa ini mungkin dia akan berpikir lebih keras untuk menggubah syair-nya. Di pasar minggu, atau pasar lainnya di seluruh tanah air, banjir berbagai ragam buah impor dari Tiongkok, Thailand, Australia dan Amerika. Buah impor mulai mendominasi pasar buah nasioal, tidak hanya di supermarket namun di lapak pasar tradisional.

Pepaya, mangga, pisang dan jambu lokal masih tersedia di pasar, walau terdesak pada sudut sempit dalam pasar buah nusantara. Kulit kuning jeruk tiongkok lebih bercahaya, meminggirkan posisi Jeruk Medan dan Pontianak. Pisang impor lebih mulus terpampang pada sudut stand buah di supermarket sementara pisang lokal absen. Buah kelengkeng dan anggur impor bergelantungan di lapak pedagang pinggir jalan. Penggemar durian, mulai berbagi perhatian antara durian bangkok dan durian lokal. Para ibu mengerubuti apel Tiongkok dan Washington, meninggalkan apel Batu dalam sepi. Anak kita lebih mengenal buah pear dari pada manggis.

Hal ini meresahkan himpunan alumni IPB, sebuah institusi pertanian terbesar di Indonesia. Mereka mencanangkan kampanye “Gemari Buah Lokal” untuk mendorong kepada seluruh pemangku kepentingan agar mengangkat harkat dan martabat produk dalam negeri, khususnya buah Indonesia. Mereka prihatin dengan semakin terdesaknya buah lokal oleh serbuan buah impor. Ada harapan untuk meningkatkan kebanggaan pada buah asli Indonesia, membantu keberdayaan petani dan menjadikan buah lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sebuah langkah yang layak diapresiasi.

Acara puncak kampanye “Gemari Buah Lokal” adalah dengan jalan jalan santai (JJS) yang dihadiri para tokoh termasuk pejabat publik pertanian dan ribuan peserta. Soal kampanye tentu beda dengan kebijakan. Kebijakan tidak bisa berjalan santai, ditengah situasi pasar buah yang mulai terdesak oleh serbuan buah impor. Perlu langkah segera, ditengah keterlambatan.

Jika para penggerak kampanye adalah pengambil kebijakan, akan menjadi pertanyaan ketika upaya cepat tidak bisa dihasilkan. Membanjirnya impor buah adalah soal kebijakan. Ketidakberdayaan dan minimnya insentif petani untuk memproduksi buah lokal berkualitas adalah soal kebijakan. Implementasi tata niaga dan infrastruktur pengembangan buah lokal adalah soal kebijakan. Riset dan pengembangan buah lokal, apalagi kalau bukan soal kebijakan.

Semua hal ikhwal pengembangan buah lokal adalah masalah kebijakan, kecuali preferensi konsumen yang kini dipersalahkan karena cenderung lebih suka buah impor dibanding lokal. Konsumen punya hak memilih, atas dasar preferensi harga dan kualitas buah yang paling ekonomis dan menarik buat mereka. Bagaimana bisa mencegah pengendalian nafsu atas pilihan ekonomis jika memang kebijakan malah mendorong terbukanya pasar buah impor besar besaran? Kampanye barangkali sebuah pendekatan yang baik, namun tidak cukup efektif jika kebijakan pertanian berwajah ganda. Satu sisi membuka kran impor dengan tarif rendah bahkan nol untuk buah impor, disisi lain memberdayakan buah lokal.

Wajah ganda kebijakan pertanian dalam tata niaga buah nasional memang telah berlangsung lama. Liberalisasi pasar pertanian telah berlangsung sejak ratifikasi Indonesia dalam WTO sejak tahun 1994. Berbagai kesepakatan perdagangan bebas regional dan bilateral menekan bea masuk buah impor pada titik terendah. Gelombang impor buah adalah sebuah konsekwensi dari pilihan kebijakan pemerintah bahwa : liberalisasi baik untuk kita semua, termasuk liberalisasi pasar pertanian.

Pada sisi lain, keinginan untuk memberdayakan buah dan petani lokal terus dilakukan. Pemerintah terus melakukan upaya peningkatan produksi buah nasional, namun nyatanya persaingan pasar menggambarkan ketimpangan. Negara maju dan pengekspor buah lebih tangguh dalam membantu subsidi kepada petani mereka, sementara petani Indonesia terus terbelenggu dalam kemarjinalan dan keterbelakangan.

Data bisa menjelaskan hal tersebut. Menurut catatan Kementrian Pertanian produksi buah nasional meningkat sekitar 26 persen dalam lima tahun terakhir, dan menggerakkan peningkatan 63,5 persen PDB. Tahun 2010, produksi buah nasional mencapai 19,3 juta ton sementara angka impor buah adalah 667 ribu ton, atau hanya 3,5 persen saja. Bahkan ekspor buah Indonesia mencapai 226 ribu ton. Namun demikian pada tataran nyata, angka angka tersebut tidak banyak berarti. Angka bisa berbicara soal jumlah, namun penguasaan pasar buah impor di supermarket dan lapak tradisional bisa disaksikan langsung di lapangan. Kebijakan tarif rendah seperti menenggelamkan angka angka prestasi Kementrian Pertanian, gelombang impor buah tak terbendung.

Petani apel di Batu Malang adalah kasus yang menarik untuk dipelajari. Petani menghadapi masalah serius karena tekanan apel impor yang berharga lebih murah meski melintas ribuan kilometer dari Amerika dan Tiongkok. Minimnya insentif, tekanan hama dan penyakit yang membengkakkan biaya produksi, tekanan alih fungsi lahan pertanian, membuat investasi pada apel batu semakin menurun. Tidak heran apel Manalagi terpukul oleh kekuatan apel Washington di kandang sendiri. Petani apel Batu minim dukungan pemerintahnya, bertarung di pasar dengan petani negara pengekspor yang sarat subsidi negara.

Petani jeruk Medan menjual murah produknya pada para tengkulak. Pedagang buah membeli jeruk Medan, lalu dikirim ke Pulau Jawa dengan resiko tinggi. Pungutan resmi dan tak resmi terjadi setiap melintas kabupaten di sepanjang jalur trans Sumatera. Antrean truk panjang di pelabuhan Bakahuni-Merak sering membusukkan buah jeruk yang sebelum masuk ke pasar tujuan. Pengemasan buah seadanya, ditumpuk dalam keranjang, terinjak injak oleh pengangkut, hanya ditutup terpal dalam truk terbuka membuat buah jeruk Medan kalah kinclong dengan jeruk impor yang bisa awet dalam sistem pengemasan dengan pendingin. Sudah diduga anak anak kita akan lebih memilih yang mana.

Supermarket dan pasar tradisional adalah medan pertarungan sesungguhnya. Menjelang Imlek, supermarket berhiaskan dominasi warna merah dengan lampion tergantung di berbagai sudut ruangan. Jeruk Tiongkok berwarna kuning emas berjejer, bersama buah tiongkok lainnya dengan label “sale”, lagi murah dengan harga promo dan dikerubuti banyak pembeli. Pada pojokan yang sepi, jeruk Medan masih tertata utuh dan miskin pengunjung. Tengok juga ke lapak pedagang buah di pinggir jalan, anda pasti bisa menyimpulkan.

Indonesia berada dalam keterlambatan akut dalam membangun kekuatan pertaniannya. Banjir buah impor adalah bentuk telanjang dampak liberalisasi pertanian yang telah berlangsung lama. Preferensi konsumen pada buah impor adalah sebuah konsekwensi dari pembukaan impor buah besar besaran, bukan sebab tapi akibat. Tarif impor rendah untuk produk buah, bahkan sampai nol persen adalah bentuk nyata dari komitmen pemerintah yang timpang antara membuka kran impor dangan melindungi buah lokal.

Kampanye Gemari Buah Lokal haruslah didorong menjadi sebuah advokasi kebijakan. Sudah seharusnya, dimana beberapa pegiat kampanye buah lokal adalah pejabat publik yang bertanggungjawab di sektor pertanian, maka perubahan kebijakan harus segera dilakukan. Saat ini adalah momentum untuk pemerintah melakukan tindakan segera dalam melindungi, mengembangkan dan memberdayakan buah lokal sekaligus petani Indonesia. Jika suara masyarakat sipil sejak lama meneriakkan isu ini tidak didengar, kini ketika pejabat publik turut berteriak untuk diri mereka sendiri semoga bisa membuahkan hasil. Mari kita tunggu sembari membeli buah lokal Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: