Oleh: David Ardhian | Juli 17, 2011

Green Economy?


Globalisasi tak kenal lelah membuat jargon. Wacana mutakhir adalah “green economy”. Apa lagi ini?

Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah dan kalangan bisnis di dunia, mendengungkan pentingnya green growth strategy. Intinya adalah pertumbuhan ekonomi yang berwajah akrab lingkungan. Model strategi pembangunan yang menekankan pertumbuhan dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

Tunggu dulu. Lalu bagaimana dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development)? Apakah konsep pembangunan berkelanjutan sudah usang? Atau sekedar ganti baju?

Sejenak saya mengajak untuk meneliti narasi global. Untuk membahas emisi gas rumah kaca dan dampaknya, sebelum tahun 2000 ada istilah “global warming” atau pemanasan global. Setelah politisi Amerika Serikat bernama Al Gore, dengan filmnya “An Inconvinience Truth” memukau dunia dan mendapatkan Oscar, lalu populer istilah “climate change” atau perubahan iklim. Substansi sama, baju beda.

Dalam dunia pertanian sama saja. Ada istilah “sustainable agriculture, organic farming dan ecological farming”. Berputar putar tapi substansi tak jauh beda. Sama saja dengan “rural development” dan kemudian menjadi “sustainable livelihood”. Beda tipis, intinya sama membangun kehidupan rakyat desa. Bagaimana dengan “social protection, social safety net dan social capital”?

Dalam wacana ekonomi global, ada “bretton woods” yang sama dan sebangun dengan “washington concensus”. Kemudian “transparency and accauntability, dengan corruption” untuk isu perampokan uang publik.
Sustainable development bertahan cukup lama dalam wacana pembangunan global, kemudian dibayangi dengan “millenium development goals (MDGs)”, dan yang mutakhir pada era perubahan iklim muncul “low carbon development” dan dilanjut kini dengan “green economy”.

Sayangnya sebagian besar narasi global berasal dari “global north”. Dunia dipaksa menari dengan gendang yang ditabuh di Utara. Negara maju sangat pintar membuat istilah, mahir memasarkan dan canggih meng-global-kan. Negara miskin dan berkembang hanya mengamini, karena biasanya narasi baru akan diikuti dengan aliran dana dari negara maju dan badan internasional dalam bentuk “proyek”.

Inti dari berbagai istilah dalam wacana global tersebut adalah mengkawinkan antara pembangunan dan lingkungan hidup, yang diikat dalam istilah sustainability sejak konferensi Bumi, tahun 1992 di Rio Jeneiro, Brazil. Namun kata “sustainability” memang sudah menjadi perdebatan sejak lahir antara “global north” dan “global south”. Negara utara memaknai keberlanjutan adalah soal lintas generasi, bagaimana secara bijak sumberdaya dikelola lestari untuk masa depan anak cucu. Maka konsentrasi negara utara adalah pada isu konservasi alam. Sementara dalam pandangan negara Selatan, keberlanjutan adalah soal mengatasi masalah pada masa kini, tentang kesetaraan pembangunan ekonomi dan mengatasi kemelaratan. Karenanya, negara selatan menekankan pentingnya pengurangan kemiskinan.

Perdebatan belum tuntas, perjalanan implementasi konvensi Rio tidak mulus. Sampai akhirnya pemimpin pemerintahan dunia bertemu lagi tahun 2000 untuk mendeklarasikan MDGs sebagai tujuan pembangunan global. Barangkali karena momentum pergantian abad, sehingga perlu upacara dan istilah baru. Belum jelas bagaimana monitoring perkembangan MDGs, isu perubahan iklim menjadi mendunia sejak satu dekade terakhir. Muncul berbagai varian seperti low carbon development, bahkan low carbon sustainable development, dan terakhir green economy.

Konsep green economy ini segera diusung oleh badan dunia seperti OECD dan UN untuk dibahas dalam rangka Rio+20 (ya ampun sudah dua puluh tahu yang lalu). Sepertinya narasi global baru akan segera lahir dalam istilah “green economy”.

Seperti biasa hal ini akan direspon dengan perdebatan sengit. Masyarakat bisnis punya istilah, masyarakat sipil punya tandingannya. “World Economic Forum” vs “World Social Forum”, “Growth vs Social Justice”, “Climate Change vs Climate Justice”, akankah “Green Economy vs Economic Justice” ? Pertarungan istilah dari dua bentuk globalisasi dengan sokongan donor masing masing.

Globalisasi memang memukau dengan wacana dan narasinya . Narasi baru, walau sekedar ganti baju diikuti dengan skema financial yang baru. Aliran paket wacana plus dana, dari negara maju ke negara berkembang. Sayangnya, situasi dunia tidak kunjung membaik. Ketimpangan dan ketidakadilan terus terjadi. Kemiskinan dan kerusakan lingkungan makin menjadi. Tapi globalisasi terus bergulir mereproduksi narasi baru. Menghapus narasi yang dianggap usang, tanpa pertanggungjawaban atas kegagalan. Green Economy?


Responses

  1. Itu sudah biasa sebagaimana yang ditertawakan oleh komedian Amerika George Carlin yang menyebutkan bahwa orang AS senang dengan penghalusan kata-kata, hingga akhirnya lari dari kenyataan. Seperti di link berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=jeGKuTZtkpg

    • Pak Teddy, thanks responnya. Begitulah adanya, dunia terus menari dalam narasi yang dikendalikan negara maju. Kapan balik ke Indonesia? Masih di Eco-agriculture partners?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: