Oleh: David Ardhian | Juni 24, 2011

TKW dan Pertanian

Dua belas tahun yang lalu, saya mendapat tugas penting. Menjemput seorang TKW, yang juga istri sahabat saya seorang petani di Karawang. Perasaan saya campur aduk saat itu. Senang karena sahabat saya bisa bertemu dengan istrinya dalam keadaan selamat. Sedih karena melihat kenyataan bahwa seorang perempuan, seorang ibu yang hampir setahun bekerja di luar negeri, meninggalkan keluarga harus pulang tanpa sepeser rupiah pun, hanya baju di badan yang menyertainya. Ia melarikan diri, lolos dari pemerkosaan majikannya di Arab.

Sebagai fasilitator lapang pengendalian hama di Karawang, soal TKW adalah perbincangan sehari hari dengan petani di Karawang. Petani yang anak perempuan atau istrinya menjadi TKW sering curhat mengenai kisah sedih yang dialami. Soal TKW seperti tidak dibayar gajinya, kekerasan seksual, penyiksaan fisik sampai kematian sudah banyak terjadi, namun tidak terungkap. Masa itu kebebasan pers dan gerakan LSM pembela buruh migran belum sekuat seperti saat ini.

Istri sahabat saya adalah satu dari ribuan TKW dari Karawang yang mengadu nasib ke Arab Saudi. Di desa tempat saya tinggal, hampir seperempat perempuan bekerja menjadi TKW. Saya amati sebagian besar adalah istri atau anak dari buruh tani atau petani penggarap yang tuna lahan. Keterdesakan ekonomi, melipatnya jumlah hutang membuat keluarga miskin “mengekspor” istri atau anak perempuannya ke luar negeri. Sebuah jalan pintas untuk memperoleh duit disaat alternatif lapangan kerja terbatas dan pertanian tak mampu memberi nilai tambah.

Disisi lain ada peluang. Pada waktu itu para calo TKW langsung jemput bola ke desa desa. Mereka menawarkan “jasa” dengan memberikan ongkos transportasi, administrasi dan pengurusan untuk menjadi TKW, yang nanti harus dibayar dari gaji TKW setelah bekerja di Arab dengan bunga tinggi. Para calo ini yang menebar janji, memberikan impian lepas dari kesulitan hidup dan membawa para calon TKW ke perusahaan jasa pengiriman TKI. Siapa yang tak ingin lepas dari kesulitan hidup?

Menjadi TKW adalah peluang untuk menaikkan status ekonomi dan sosial keluarga tani di Karawang. Uang kiriman TKW bisa merubah nasib, keluar dari jerat hutang. Uang kiriman dari Arab bisa digunakan untuk mengubah rumah reot, berlantai tanah dan berbilik bambu menjadi berlantai tegel, berdinding semen dengan cat warna warni. Pola investasi dari dari uang kiriman TKW, yang saya amati biasanya untuk membayar utang, memperbaiki rumah dan tambahan kebutuhan hidup sehari hari. Sedikit sekali keluarga yang menggunakan untuk investasi produktif. Hal yang lumrah sepulang dari Arab, keluarga TKW terjerat hutang lagi, memaksa untuk kembali menjadi TKW lagi.

Saat itu saya pernah diskusi dengan petani, mengapa TKW menjadi pilihan bagi mereka. Ada sebuah kesimpulan waktu itu bahwa beban kebutuhan dan gaya hidup makin berat. Pasca reformasi tahun 1998, situasi pertanian padi di Karawang sangat berat seiring krisis ekonomi. Harga pupuk dan pestisida melonjak karena pencabutan subsidi pada tahun 1997 (LoI dengan IMF). Ledakan hama silih berganti mulai penggerek batang (1997), keong mas dan wereng (1998). Pertanian lagi bangkrut bangkrutnya, kebutuhan hidup makin mencekik. Banyak petani dan buruh tani terjerat hutang pada renternir.

Setelah dua belas tahun berlalu, miris melihat kenyataan kisah sedih TKW tak kunjung usai bahkan makin menjadi. Jumlah TKW makin besar, seiring dengan pertanian yang masih belum memberikan kesejahteraan. Nilai tukar pertanian tak mampu mengejar melonjaknya harga kebutuhan pokok dan bercampur dengan kebutuhan aneka gaya hidup seperti alat elektronik, pulsa HP dan lain sebagainya. Soal TKW adalah kombinasi dari (situasi) stagnasi pertanian dan ekonomi pedesaan, (tekanan) peningkatan kebutuhan hidup dan (peluang) lapangan kerja di luar negeri ketika pemerintah terus membuka ekspor pembantu ke luar negeri.

Pertanian yang merupakan sumber penghidupan utama masyarakat desa tidak mampu menopang kebutuhan hidup keluarga tani. Nilai tukar pertanian tidak mampu mengejar kebutuhan hidup yang terus melambung. Tekanan ekonomi terjadi terutama bagi kaum miskin seperti buruh tani.

Perempuan desa sejak lama tersingkir dari pertanian. Pertanian modern tak lagi menjadi tempat bagi perempuan desa, selain menjadi buruh tanam dan panen. Saat tekanan krisis ekonomi, perempuan desa menjadi alat untuk keluar dari tekanan dengan menjadi TKW. Peluang yang tersedia, dan difasilitasi negara. Negara tak mampu sediakan lapangan kerja yang layak khususnya kaum perempuan desa, selain proyek mengirim pembantu rumah tangga ke luar negeri.

Menjadi TKW tidak gratis, tapi harus membayar dan memberi pemasukan devisa negara. Ketika para perempuan desa itu bekerja di negeri yang buas, mengancam keselamatan jiwa, negara yang dapat untung tidak mampu memberi perlindungan. Bagi saya ini adalah kebiadaban.

Salah satu akar masalah dari problem TKW adalah kegagalan negara dalam memajukan pertanian desa yang mensejahterakan. Pemerintah berhutang budi pada petani, yang terus sabar menunggu janji yang tak pernah ditepati, bahkan sampai istri dan anak perempuan mereka harus tersiksa dan mati seperti Ruyati.


Responses

  1. Salam kenal Bung Andrian. Senang bisa membaca tulisan-tulisan Anda. Semoga ada sisa waktunya, sudi kiranya mendapat tanggapan Bung Andrian terkait antisipasi cadangan beras nasional untuk 2012. Karena, negara kita banyak bergantung impor dari Thailand, sementara negara Gajah Putih tersebut sedang dilanda bencana banjir nasional….. Trims. (yahya)

  2. pak Yahya, mohon maaf lambat sekali merespon. Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Yang pasti, impor beras dari Thailand pasti akan sulit dilakukan ketika mereka kekurangan. Tapi ada alternatif dr Vietnam, itupun jika mereka surplus. Seharusnya hal ini tidak terjadi, karena pada masa datang ada dan tidak ada bencana , trend harga pangan makin meningkat. Impor makin mahal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: