Oleh: David Ardhian | Januari 13, 2011

Bahaya Invasive Alien Species

Selama jutaan tahun hambatan alam berupa lautan, pegunungan, sungai dan gurun menjadi isolasi alam yang berfungsi sebagai penghalang pergerakan alami makhluk hidup dalam sistem ekologi. Isolasi tersebut membentuk keragaman khas dan unik pada suatu kawasan ekosistem alami.

Isolasi alam yang mampu membatasi pergerakan spesies tersebut kini tidak efektif. Globalisasi dalam bentuk peningkatan arus perdagangan dan transportasi lintas negara membuat suatu spesies bisa berpindah melintasi jarak yang jauh dan masuk ke habitat baru sebagai spesies asing.

Spesies asing yang masuk dalam sebuah ekosistem baru kemudian beradaptasi dan bersaing dengan spesies asli. Beberapa jenis spesies asing dalam bentuk galur dan varietas baru memang secara nyata memberikan keuntungan ekonomi dan kontribusi positif bagi kesejahteraan masyarakat. Namun terdapat spesies asing yang memiliki kemampuan tumbuh dan menyebar secara cepat, mengalahkan spesies asli yang disebut sebagai spesies asing invasif atau invasive alien species.

Penyebaran spesies asing invasif ini disadari sebagai salah satu ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati dan penghidupan masyarakat secara umum. Dampak spesies asing yang bersifat invasif ini mampu merubah struktur dan komposisi spesies dalam ekosistem alami. Spesies lokal tidak mampu bersaing dan terancam kepunahan.

Secara langsung dan tidak langsung invasi ini juga berpengaruh terhadap siklus nutrien di ekosistem. Misalnya, sejenis serangga asing yang invasif menggeser populasi serangga asli sehingga merubah komposisi makanan hewan pemakan serangga dan hilangnya serangga polinator yang bisa membantu penyerbukan tanaman dan pepohonan penghasil buah tertentu.

Secara ekonomi, dampak invasi spesies asing ini sangat signifikan. Dunia pertanian menghadapi berbagai jenis hama dan penyakit tanaman asing yang belum dikenal petani cara penanganannya. Beberapa jenis bakteri dan patogen baru memberikan dampak serius dalam dunia peternakan. Ekosistem air tercemar oleh berbagai gulma, bakteri dan virus yang mampu mendegradasi produksi perikanan. Pada akhirnya semuanya berujung pada peningkatan biaya untuk mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit baru tersebut.

Di berbagai negara maju prinsip kehati-hatian terhadap dampak spesies asing invasif ini diwujudkan dalam perangkat peraturan secara ketat. Sebagai contoh di Amerika Serikat menerapkan Bioterorism Act karena persebaran spesies asing invasif telah diangkat menjadi isu nasional yang menggangu tidak hanya ekonomi dan ekologi, namun keamanan suatu negara.

Spesies asing invasif di Indonesia

Tindakan pemasukan, penyebaran dan penggunaan berbagai jenis asing baik sengaja maupun tidak sengaja, baik untuk kepentingan perdagangan maupun non perdagangan adalah sumber dari perkembangan spesies asing invasif di suatu negara.

Di Indonesia, masalah spesies asing invasif ini telah lama terjadi. Enceng gondok merupakan contoh spesies asing invasif yang menjadi gulma penting bagi tanaman padi di Indonesia. Contoh lain adalah keong mas, yang dulu masuk sebagai jenis hewan hias untuk akuarium kini tumbuh menyebar dan menjadi salah satu hama yang mengganggu produksi padi petani kita. Beberapa kawasan taman nasional sebagai ekosistem hutan alami kini telah mulai terganggu dengan berbagai jenis spesies asing invasif.

Seiring dengan peningkatan volume impor komoditas maka potensi ancaman spesies invasif semakin besar terhadap sektor pertanian, perikanan, perternakan dan kehutanan. Namun demikian pemerintah masih belum memberikan perhatian serius bagi penanganan ancaman spesies asing invasif. Belum ada data yang pasti di berbagai sektor mengenai apa jenis, penyebaran dan dampak spesies asing invasif ini di Indonesia.

Masalah Perkarantinaan

Globalisasi perdagangan yang semakin membuka luas arus lalu lintas komoditas antar negara. Aturan perdagangan internasional mengarah pada perdagangan bebas dimana instrumen tarif dan pajak impor semakin diturunkan. Senjata yang tersisa dalam melindungi kepentingan nasional adalah instrumen non tarif seperti perkarantinaan dan perlindungan terhadap keamanan hayati.

Karantina menjadi baris terdepan dalam perlindungan terhadap spesies asing infasif. Karantina adalah satu satunya instrumen yang bisa menjadi andalan dalam mencegah masuknya spesies asing invasif melalui pelabuhan laut dan udara. Penguatan sistem perkarantinaan Indonesia merupakan faktor kunci bagi pencegahan kerugian ekologis dan ekonomi akibat masuknya spesies asing invasif.

Sayangnya masih terdapat permasalahan mendasar dalam pencegahan dan pengendalian spesies asing invasif di Indonesia. Tindakan karantina dilakukan berdasarkan konvensi internasional yakni International Plan Protection Convention (IPPC) dan aturan Sanitary and Phitosanitary (SPS) dalam kerangka aturan perdaganga dunia (WTO). Tindakan karantina masih terbatas pada aspek perdagangan, sementara instrumen lingkungan diatur dengan acuan Convention on Bilogical Diversity (CBD) yang belum teringrasi dalam sebuah sistem utuh dalam aspek perkarantinaan.

Akibatnya karantina hanya mencegah organisme penggangu sebagai ikutan dari importasi produk namun belum menjangkau bagaimana dampak produk atau organisme penggangu terhadap ekosistem secara luas termasuk dampak invasi-nya bagi keanekaragaman hayati. Sebagai contoh impor rumput untuk lapangan golf mungkin bisa lolos masuk ke Indonesia jika memenuhi prosedur perkarantinaan, namun ketika tercecer, menyebar menjadi invasif dan menggangu ekosistem alami maka hal tersebut tidak mampu dijangkau dalam tindakan perkarantinaan.

Diperlukan sebuah kerangka perundangan yang mengatur secara utuh baik dari segi kebijakan maupun prosedur untuk mengatasi dampak spesies asing invasif secara efektif dan terintegrasi agar mampu melindungi kepentingan ekologi, ekonomi bahkan keamanan bangsa ini pada masa yang akan datang.


Responses

  1. masalah lainnya, karantina masih belum dianggap ada..yang ada di pikiran para importir yang penting sudah mengurus semua kewajiban di bea cukai..padahal kalau seandainya barang lolos dengan status ilegal belum membayar bea masuk, pengaruhnya hanya di pemasukan APBN..hanya mempengaruhi pendapatan dlm 1 tahun itu saja..tapi kalo barang lolos dengan status ilegal belum mendapatkan tindakan karantina..pengaruhnya bisa sampai turun temurun..beberapa kali kita gagal panen gara2 wereng..mau sampai kapan kita impor beras?? sapi dari malaysia bebas masuk lewat nunukan..masukin sapi ato pmk?? lebih ironis lagi petugas karantina kesejahteraannya sangat2 jauh dibandingkan dengan petugas bea cukai..padahal petugas karantina diberi kewenangan penuh sebagai pembuat keputusan..kalau kesejahteraannya kurang lalu apa yang mereka lakukan sebagai pembuat keputusan???!!

  2. Pak Dedi, terima kasih analisisnya. Karantina sangat penting, kapasitas dan kesejahteraan mesti ditingkatkan. Namun lebih penting lagi instrumennya, apakah perangkat pendukung dalam antisipasi invasif sudah dipunyai? Kita akan selalu terlambat jika tidak membenahi garda depan dalam perlindungan pertanian seperti perkarantinaan. Salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: