Oleh: David Ardhian | Januari 12, 2011

Kapan Berhenti Menyalahkan Iklim?

Setiap kali terjadi gejolak produksi pangan, cara yang termudah adalah menjadikan iklim sebagai faktor penyebab. Iklim adalah faktor alam yang dianggap tidak bisa ditolak, sehingga diharapkan semua pihak bisa memakluminya. Dalam kasus lonjakan harga cabe, pemerintah menuduh iklim sebagai biang kerok penurunan produksi sehingga stok cabe di pasaran menurun.

Kerentanan iklim dalam beberapa tahun terakhir ini memang berkontribusi terhadap produksi pertanian kita. Ketidakpastian cuaca mengakibatkan petani kesulitan dalam merencanakan dan mengelola budidaya pertaniannya. Serangan hama dan penyakit mengganas menurunkan produksi. Bencana alam seperti banjir pada area sentra pertanian menimbulkan kerusakan baik pada tanaman maupun mengganggu kelancaran distribusi.

Namun sampai kapan kita terus menyalahkan iklim?
Dalam batas tertentu faktor alam memang memberi hambatan. Namun manusia dikaruniai akal dan pikiran untuk terus belajar dan berjuang mengatasi berbagai tantangan alam.

Rasanya masalah perubahan iklim atau lebih tepatnya ketidakpastian cuaca bukan terjadi pada musim tanam kali ini saja. Petani sudah mengalami berulang kali. Tidak ada pilihan, petani terus menanam meski menghadapi tantangan alam. Barangkali petani berjuang keras dari apa yang pemerintah bayangkan. Tanpa dukungan dan campur tangan pemerintah, petani dibiarkan acrobatic-social-survival menghadapi perubahan iklim yang drastis.

Perubahan Iklim dan Pertanian

Perubahan iklim telah membangunkan para pemimpin negara dan badan internasional untuk menetapkan langkah dalam menghadapinya. Tantangan semakin berat ketika angka kelaparan masih tinggi, kebutuhan akan pangan terus meningkat sementara lingkungan hidup semakin rentan dengan perubahan iklim global. Pertanian merupakan mega sektor yang mendapatkan dampak dari perubahan iklim. Namun sektor ini juga dianggap sebagai kontributor bagi peningkatan emisi gas rumah kaca.

Bulan Oktober 2010, Organisasi Pertanian dan Pangan Dunia (FAO) menyelenggarakan konferensi global bertajuk “Agriculture, Food Security and Climate Change” yang diselenggarakan di The Hague, Belanda. Dalam konferensi disampaikan laporan FAO yang berisi panduan cara terbaik pertanian untuk perubahan iklim yang disebut “climate-smart”.

FAO menekankan pertanian tidak bisa lagi dilakukan dengan cara biasa. Pertanian memerlukan perubahan seiring tantangan perubahan iklim. Pertanian harus mampu menjaga produksi namun sembari mengurangi limbah dan emisi. FAO mengingatkan pentingnya investasi pada sektor pertanian dalam kesepakatan perubahan iklim, terutama kepada petani skala kecil yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Promosi climate-smart agriculture tersebut seperti sebuah pengakuan dosa atas kekeliruan model pembangunan pertanian selama ini. Pertanian industrial-monokultur yang diagungkan menjadi solusi bagi masalah kekurangan pangan terbukti gagal, selain menimbulkan masalah ekologi juga berdampak pada peningkatan emisi.

Kini dunia berbalik menyarankan pertanian untuk lebih ekologis dan rendah emisi. Pertanian diposisikan sebagai jembatan untuk mengurangi dampak perubahan iklim (mitigasi), dengan memperkuat kapasitas dalam menghadapi iklim yang berubah (adaptasi).

Sangat disayangkan dunia bangun kesiangan. Praktek pertanian yang kini dilabel ‘climate-smart” telah banyak berkembang dalam praktek budidaya petani di negara berkembang termasuk Indonesia. Banyak petani telah lama mengembangkan cara kreatif dalam praktek budidaya dengan penerapan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, walaupun tidak memberi label dengan “mitigasi dan adaptasi perubahan iklim”

Berbagai cara terbaik (best practices) tersebut dikemas dalam ragam praktek pertanian. Pertanian ekologis telah banyak diterapkan petani dalam ragam praktek seperti persilangan benih, teknik olah tanah, pembuatan kompos, strategi pengendalian hama secara ekologis dan berbagai teknik pasca panen. Hanya saja praktek petani tersebut dianggap sunyi, dan tenggelam dalam arus utama pembangunan pertanian yang masih bertumpu pada model pertanian monokultur-intensif, rakus unsur hara dan boros emisi.

Pertanian Ekologis

Ketika menghadapi masalah dengan perubahan iklim, kini pertanian ekologis kembali dilirik dan diadopsi prinsipnya menjadi “strategi global” FAO untuk menghadapi perubahan iklim. Pertanian ekologis yang dulu berada di pinggiran kini menjadi solusi.

Dunia bangun kesiangan, negara berkembang bangun lebih sore lagi. Pertanian ekologis masih sebatas pemanis dalam kosa kata indah pembangunan berkelanjutan. Dalam praktek, justru negara seperti Indonesia mengembangkan kebijakan yang berlawanan arah. Misalnya pengembangan masif benih padi hibrida yang rakus unsur hara lebih diutamakan dibanding memperkuat benih lokal yang kian tergerus arus utama pembangunan pertanian.

Padahal Indonesia memiliki aset besar. Pada tahun 1990-an pertanian Indonesia pernah dicatat sebagai negara yang sukses dalam penerapan program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Program nasional ini melibatkan ratusan ribu petani dalam skema sekolah lapangan petani, dimana materi diskusinya terkandung penerapan prinsip pertanian ekologis. Pendekatan partisipatif dalam sekolah lapang tersebut telah banyak menghasilkan petani kreatif dan menjadi pemimpin untuk mempromosikan pertanian ekologis di lingkungan sekitarnya.

Kini terbentuk berbagai kelembagaan lokal dalam pengembangan pertanian ekologis. Para petani PHT menjadi guru, motivator, fasilitator sekaligus pejuang tangguh di lapangan dalam promosi pertanian ekologis di wilayahnya. Ironisnya yang dihadapi dilapangan justru program pertanian yang berlawanan arah dengan prinsip ekologis dalam pertanian.

Adaptasi Perubahan Iklim

Dengan situasi perubahan iklim, semestinya pemerintah mengubah cara pandang. Menyalahkan iklim adalah mengingkari realitas. Pemerintah tidak mampu mendayagunakan aset yang dimiliki seperti petani PHT dan masih banyak lagi petani kreatif yang bisa diajak bicara dan dilibatkan dalam membangun kerangka adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian. Inisiatif sudah berjalan, tinggal bagaimana pemerintah mendukungnya.

Sampai saat ini ironi terus terjadi. Adaptasi perubahan iklim adalah program “lain” dari pembangunan pertanian. Adaptasi perubahan menunggu rejeki dari langit berupa pendanaan global dari kesepakatan perubahan iklim yang belum jelas akhirnya. Adaptasi perubahan iklim adalah proyek, yang saat ini atau kelak jika sudah ada dananya “disisipkan” dalam program pembangunan pertanian yang berlangsung ‘business as usual’

Tidak salah memang jika pemerintah menyalahkan iklim sebagai faktor penyebab gejolak pangan. Karena pemerintah memang belum memiliki kerangka strategi untuk mengatasi dampak perubahan iklim di sektor pertanian. Tapi sampai kapan?

Ditengah ketidakpastian, petani telah mulai dengan caranya sendiri. Seperti biasa, pemerintah terlambat bangun lagi.


Responses

  1. yaaa… yaaaa… yaaaa… memang lebih baik dcarikan cara atau alternatif lain…🙂

    • Oke kita cari sama sama ya🙂

  2. […] This post was mentioned on Twitter by Alit M. Bramantya. Alit M. Bramantya said: Kapan Berhenti Menyalahkan Iklim? http://t.co/XKIDMWj <– sebuah perspektif yg layak dibaca […]

    • Thanks Mas Alit, apa kanar?

  3. alternatif yang baik untuk bisa menjawab tantangan ini..

  4. sikap positif itu perlu untuk kesejahteraan petani, tetapi berpuluh-puluh tahun para peneliti menghasilkan karya bahkan menjadi Profesor…petani yang menjadi tameng permasalahan, kapan ya petani kita jadi sejahtera?

    • sangat setuju dengan pendapat anda. Saatnya untuk membangun pertanian dengan pandangan positif, tentu saja dengan banyak koreksi pada pemerintah dan peneliti. Salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: