Oleh: David Ardhian | Januari 4, 2011

Pedasnya Harga Cabe

Penjual nasi goreng langganan mengeluh. Ia banyak diprotes pembeli karena rasa nasgor-nya kurang pedas. “Saya memang kurangi cabenya mas, harganya selangit. Masa cabe sekilo lebih mahal dari daging?”.
Harga cabe sedang membumbung tinggi. Di pasar Bogor, harga mencapai 80 ribu per kilo. Itu sudah turun, beberapa hari sebelumnya sempat menembus 100 ribu per kilo.

Lantas saya teringat sahabat petani cabe di Gunung Salak, Sukabumi. Logika saya, kalau di pasar harga cabe melambung tinggi pasti petani cabe untung lumayan. Betapa terkejut saya ketika mendengar ternyata harga cabe di petani berkisar 20-25 ribu per kilo. Untuk meyakinkan saya menelpon rekan petani di Bantul, Tulungagung, Kediri dan Cianjur. Ternyata informasi tak jauh beda, tidak ada yang lebih tinggi bahkan diantaranya lebih rendah.

Tentu saja ini bukan kali pertama harga cabe melonjak naik. Setiap kali menjelang hari raya dan tahun baru, harga cabe selalu cenderung meningkat. Bahkan tahun lalu, seorang menteri koordinator terkejut dengan lonjakan harga cabe. Menteri koordinator tesebut bahkan membuat solusi “cerdas” dengan menyarankan masyakat mengurangi konsumsi cabe! Para petani rekan saya tertawa ngakak dengan solusi sang Menteri itu.

Lonjakan harga cabe

Di awal tahun baru 2011, harga cabe kian pedas saja. Kelapa Badan Pusat Statistik menyampaikan kenaikan angka inflasi, dimana harga pangan merupakan penyumbang terbesar. Tentu saja harga cabe salah satunya, walau cabe belum dikategorikan sebagai makanan pokok penduduk Indonesia, hanya makanan pokok bagi penduduk Indonesia yang suka rasa pedas🙂

Menurut Kepala BPS, harga cabe bersifat elastis terhadap permintaan, beda dengan harga beras yang in-elastis. Untuk beras, berapapun peningkatan harga maka konsumen tidak mengurangi jumlah pembeliannya karena makanan pokok. Sementara jika harga cabe naik, konsumen cabe mengurangi jumlah pembelian. Benarkah? Ada benarnya, di televisi saya melihat ada pedagang pasar yang mengeluh karena cabe-nya busuk tak terbeli akibat harga tinggi.

Masalah Rantai Pasokan

Jika konsumen kelas bawah seperti pedagang nasi goreng, petani kecil dan pedagang sayur tidak merasa dapat manfaat besar dengan kenaikan harga cabe, lalu siapa yang untung? Kemana larinya sebagian besar keuntungan?

Ini masalah klasik yang sampai sekarang belum terpecahkan. Ini adalah soal rantai pasokan sebagian produk hortikultura termasuk cabe. Saya berani bertaruh, pada musim panen ke depan sekitar 3 bulan lagi harga cabe pasti jatuh tersungkur. Penelitian saya di Tapanuli Utara dan Bandung Selatan menggambarkan bahwa keputusan petani hortikultura untuk memilih jenis produk yang ditanam adalah berdasarkan harga tertinggi produk tersebut pada musim terakhir. Jadi jika tidak terganggu perubahan cuaca yang drastis, 3 bulan lagi jumlah cabe membludak di pasaran.

Masalah dalam rantai pasokan adalah asimetris dalam informasi. Artinya, ada kesenjangan informasi akan harga diantara pelaku dalam rantai pasokan. Pedagang pengumpul skala besar adalah pemenangnya, petani dan konsumen kecil yang selalu kalah. Kenaikan harga cabe saat ini hanya dinikmati oleh pedagang skala besar. Anda bisa cek ke lapangan, para pedagang skala besar ini pasti sangat mewah hidupnya sekarang ini.

Kasus di Gunung Salak, pedagang pengumpul skala besar kontras sekali kehidupannya dengan masyarakat tani sekitarnya. Ia memiliki rumah mewah, status sosialnya terpandang, menjalankan usaha tengkulak skala besar sekaligus menjual sarana produksi pertanian seperti pupuk dan pestisida. Ia memberi hutang kepada petani dalam bentuk barang dagangannya yang dijual dengan harga tinggi, lalu dibayar ketika panen. Hasil panen dia yang menampung, sehingga dia bisa mengontrol harga. Ini yang terjadi di dunia pertanian kita, khususnya hortikultura.

Intervensi Pemerintah

Pembangunan pertanian Republik ini sejauh ini tidak memberikan manfaat yang adil dan merata. Kementrian pertanian hanya peduli pada angka angka, ekspor-impor-inflasi. Jika produksi naik, maka sukses, jika ekspor meningkat maka sukses. Jika inflasi terkendali maka sukses. Tidak peduli apakah manfaat dari kenaikan produksi, ekspor dan terkendalinya inflasi tesebut, dinikmati oleh siapa. Pemerintah tidak bergerak sampai detail ke level mikro. Berbagai program sebagian besar diarahkan pada upaya peningkatan produksi, memberi kredit dan pelatihan pelatihan. Minim intervensi pada pasca panen dan pasar. Hal ini terus berulang, ibarat menggaruk gatal di tempat yang salah sampai lecet.

Intervensi sesungguhnya sederhana.

Pertama adalah membangun kelembagaan informasi dan pemasaran pada tingkat petani. Pemerintah terdahulu sudah mulai dengan infrastruktur terminal agribisnis dan beberapa program kecil namun sayangnya tidak konsisten dan terarah. Proyek terbengkalai, tidak disertai dengan penguatan manajemen pengelolaan yang baik.

Kedua, mendorong peran pemerintah daerah. Beberapa contoh sukses pemerintah daerah dalam pengendalian harga bisa menjadi pembelajaran. Kabupaten Bantul salah satunya, yang berpikir modern dengan menetapkan safeguard sistem dalam menjaga kestabilan harga pangan daerah melalui alokasi dana dari APBD.

Ketiga, mengembangkan pengelolaan pasca panen dan industri pendukung di pedesaan. Cabe misalnya adalah produk yang tidak bisa tahan lama, diperlukan kemampuan untuk pengemasan agar produk tesebut berumur lebih panjang. Cabe berproduksi musiman dan dalam jumlah yang besar, sehingga ketika pasar sedang menurun kemampuan serapnya ada alternatif pengolahan sederhana pada tingkat pedesaan menjadi berbagai bentuk seperti cabe bubuk, saos dan sebagainya.

Keempat, nampaknya ide lama mengenai zonasi produksi perlu dikembangkan. Hal ini akan lebih mudah dalam pengelolaan kawasan produksi, serta membatasi terjadinya kekurangan dan kelebihan pasokan di pasaran serta memungkinkan untuk mengembangkan proyeksi. Proyeksi juga mencakup kebutuhan benih, sarana produksi dan alur distribusi.

Khusus perbenihan hortikultura, saat ini angka impor masih tinggi. Ini adalah sektor gurita ekonomi di pertanian yang harus dibedah, karena importasi benih menyangkut kepentingan perusahaan importir yang meraup keuntungan besar namun masih sedikit transparansi dan kontrol publik. Kita sering mendengar kasus benih palsu dan ledakan hama penyakit akibat introduksi benih luar negeri yang melanggar aturan perkarantinaan. Kasus ledakan nematoda kuning di sentra produksi kentang saat ini menjadi momok besar petani, yang dulu disebabkan karena lolosnya benih impor yang mengandung hama penyakit baru di pertanian Indonesia.

Rasanya sedih jika seorang menteri mengiklankan keberhasilan di media massa, jika masalah pertanian kita masih menumpuk. Rasanya tidak pantas mengklaim keberhasilan dari angka angka statistik pertanian, jika tidak menyentuh akar persoalan sesunguhnya. Petani Indonesia adalah petani yang baik, ia sabar menunggu janji perubahan yang tak kunjung tiba. Semoga tahun baru 2011 ini, bisa mulai membenahi rantai pasokan produk dan mengangkat kehidupan petani. Jika tidak harga cabe akan terus pedas setiap hari raya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: