Oleh: David Ardhian | Desember 26, 2010

Soal Karbon dan Masalah Kehutanan

“Mengurangi emisi dari penggerusan hutan dan degradasi lahan” di negara berkembang, dan “menurunkan emisi dari produksi barang industrial besar besaran” di negara maju telah menjadi ikhtiar dunia untuk mencegah terus naiknya suhu bumi mencapai ambang genting, yakni 2 derajat celsius. Upaya ini telah menjadi narasi global yang mempengaruhi arah kebijakan pada tingkat nasional dan lokal.

Ketika isu perubahan iklim menjadi semakin dominan dalam agenda politik dan ekonomi dunia maka perhatian besar diarahkan pada upaya mengurangi emisi melalui mitigasi melalui mekanisme perdagangan (offset). Bagi negara berkembang seperti Indonesia, komiten untuk mengurangi emisi telah memilih REDD sebagai solusi. Indonesia menjadi salah satu negara yang paling aktif dalam mempersiapkan REDD baik dalam kebijakan maupun implementasinya.

Janji akan aliran dana dari negara utara menggiurkan otoritas negara berkembang, tidak saja pemerintah pusat namun juga pemerintah daerah. Hal ini bisa dipahami karena sebagian besar hutan di negara berkembang seperti Indonesia adalah hutan negara. Berbagai kebijakan dan aturan mulai dikembangkan untuk menyongsong pelaksanaan pasar karbon ini. Isu karbon hutan menjadi salah satu tema penting dalam politik kebijakan kehutanan.

Namun hal tersebut tidak sesederhana seperti yang dikonsepsikan. REDD diterapkan tidak dalam ruang kosong. Permasalahan klasik kehutanan terus berlangsung. Peta kelembagaan dan kebijakan kehutanan terbelenggu dalam persoalan klasik tersebut. Penerapan REDD dalam tata kelola kehutanan yang masih belum membaik akan menemui jalan buntu.

Implementasi proyek karbon hutan bertautan dengan realitas tunggakan masalah kehutanan, seperti masalah tata ruang kehutanan, pembalakan liar dan konflik kawasan baik pada tingkat masyarakat maupun konflik penggunaan lahan dengan sektor lain seperti perkebunan dan pertambangan.

Sebagai narasi baru dalam dunia kehutanan, proyek karbon hutan perlu membuka diri dan transparan kepada publik, dan tidak membatasi diri pada mekanisme finansial semata. Proyek karbon hutan mesti menjadi bagian dari penyelesaian tunggakan masalah kehutanan, terutama dalam menciptakan kondisi pemungkin (enabling condition) bagi kepastian manfaat yang diterima oleh masyarakat sasaran program.


Responses

  1. Tulisan yang sangat bagus Pak David Ardhian. Saya kebetulan sedang menulis thesis soal pertanian dan lingkungan sebagai tugas akhir di University of Maryland at College Park, US. Bisakah kiranya saya minta alamat dan kontak Pak David Ardhian

    • Pak Teddy, thanks sudah membaca. Saya bisa dikontak via email di davidardhian@gmail.com
      Nanti akan sampaikan kontak dan alamat saya via jalur pribadi. Senang bisa kenal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: