Oleh: David Ardhian | Desember 26, 2010

Berlomba Menangkap Karbon

Masih ingatkah anda dengan fotosintesis?

Saat duduk di bangku sekolah dasar, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mengajarkannya. Fotosintesis adalah proses memasak makanan oleh tanaman. Karbon dioksida di udara diserap tanaman untuk diolah menjadi biomassa dengan bantuan sinar matahari. Kemampuan tetumbuhan menyerap karbon tersebut kini menjadi barang dagangan bernilai dollar. Sejumlah karbon yang bisa ditangkap pepohonan dalam luasan tertentu, dihitung dan diperjual belikan berdasarkan harga karbon yang belaku di pasar.

Pasar karbon seperti layaknya pasar pada umumnya, melibatkan penjual dan pembeli beserta para tengkulak dalam rantai pasar. Pembeli adalah industri di negara maju, yang ingin memberikan kompensasi karena mereka telah mengotori atmosfer. Negara industri menghasilkan emisi karbon sebagai limbah produksi barang industrial mereka. Penjual adalah pemilik hutan di negara berkembang. Emisi karbon industri telah diserap di area negara berkembang yang masih memiliki tutupan hutan yang luas. Para tengkulak adalah mereka yang menjadi perantara dalam proses jual beli karbon tersebut.

Demikianlah logika perdagangan karbon. Isu perubahan iklim mengangkat skema perdagangan karbon ini menjadi pusat perhatian utama. Emisi karbon ternyata juga dihasilkan dari perubahan tata guna lahan, dalam bentuk konversi hutan untuk kepentingan pembangunan di negara berkembang. Negara berkembang menuntut negara maju untuk memberikan dana kompensasi ketika hutan mereka mampu menyerap karbon, sementara mereka tidak boleh menebangnya. Skema ini yang kemudian disebut sebagai reduction emission from deforestation and degradation (REDD).

Perudingan perubahaan iklim antar negara telah mengamini skema ini sebagai sebuah cara efektif untuk mitigasi dampak perubahan iklim. Cara ini dianggap mampu untuk mengurangi emisi dan mendorong negara berkembang untuk menjaga kelestarian hutan mereka. REDD adalah cara menghidari deforestasi dan degradasi hutan melalui mekanisme aliran dana dari negara maju ke negara berkembang. Mekanisme ini diarahkan menjadi mekanisme formal mengikat sebagai kerangka yang mengikat pasar karbon setelah tahun 2012.

Indonesia adalah negara yang berperan aktif dalam memperjuangkan REDD. Sebagai negara dengan area hutan yang luas, pemerintah mengganggap cara ini adalah upaya untuk menggalang pendanaan bagi upaya pelestarian hutan. Pemerintah Indonesia telah berikrar untuk menurunkan emisi karbon 26 persen sampai 2020, dan berani meningkatkan 41 persen jika mendapat bantuan luar negeri. Pengurangan deforestasi dan degradasi hutan menjadi andalannya. Tak heran, Indonesia menjadi sasaran dari berbagai proyek karbon hutan dari berbagai para perantara dan pedagang karbon skala internasional.

Saat ini para perantara proyek karbon telah mulai bergerak ke Indonesia. Diluar mekanisme formal banyak berkembang mekanisme sukarela, tanpa menunggu keputusan formal pemerintah negara negara yang terus berunding dalam isu perubahan iklim. Mekanisme ini berlangsung mengikuti kaidah berdasarkan mekanisme pasar yang berjalan. Mereka yang menjadi perantara berusaha mempersiapkan prasyarat dan tata kelola agar pihak penjual di negara berkembang mampu memenuhi standar dan kaidah pasar karbon yang berlaku.

Semakin dekat 2012, pergerakan para perantara dalam skema perdagangan karbon hutan ini makin intensif. Menjelang tenggat waktu implementasi REDD, banyak lembaga yang mulai mengembangkan kegiatan persiapan (readiness activities) di Indonesia yang berhutan luas. Berbagai model dan skala proyek karbon hutan dikembangkan. Mereka berlomba untuk mencari area hutan untuk lokasi demostrasi, baik skala kawasan, kabupaten maupun provinsi.

Wacana karbon hutan memberikan pengaruh terhadap perkembangan dunia kehutanan khususnya bagaimana hutan dikelola. Baik soal teknis cara pengukuran emisi sampai dengan soal strategis seperti manfaat proyek karbon hutan untuk masyarakat. Masyarakat sekitar hutan adalah pihak yang akan dijanjikan sebagai penerima manfaat dari skema karbon hutan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: