Oleh: David Ardhian | April 6, 2010

Gelombang Emas Hijau

Umar berkisah tentang hidupnya. Lelaki berumur separuh abad itu melukiskan betapa berat hidup saat pertama datang di pulau Sumatra. Tekad mengadu nasib berbuah pahit. Palawija yang ditanam dipanen babi hutan. Ada sisa hasil tidak bisa dijual. Tempat tinggalnya puluhan kilo dari pasar, perlu seharian jalan kaki menembus hutan belantara untuk menjual hasil buminya. Bangkrut total, keluarganya kelaparan.

Umar memilih transmigrasi karena miskin di Jawa. Ia membawa istri dan anaknya ke Sumatra untuk membuka lembaran baru. Untuk hidup lebih baik. Nyatanya, sebaliknya. Jatah hidup pemerintah 2 tahun habis, ia kembali melarat. Lebih parah, makanpun sulit. Rekan sesama kaum trans, banyak yang tak tahan. Banyak yang pulang ke Jawa, tinggal segelintir keluarga yang tersisa.

”Terpaksa saya harus merantau lagi, jadi buruh sadap karet milik orang sini”, ujar Umar. Tiap pagi, rasa khawatir selalu hadir. Bagaimana keselamatan istri dan anaknya yang ditinggal di rumah. Ia berjalan kaki puluhan kilo, untuk mendapatkan penghasilan. ”Pernah suatu saat ketika pulang, saya dirampok orang …uang saya habis”,keluh Umar sambil mengusap air mata.

Tangis Umar kini berakhir. Ia sudah punya rumah dan kendaraan. Anak anaknya kini sudah kuliah di Jawa. Lelaki kelahiran Banyumas ini, sekarang menikmati manisnya hidup. Penghasilannya lebih dari cukup, bahkan dia sudah membuka toko kelontong. Tokonya ramai di kunjungi orang. Ia berencana naik haji tahun depan.

Hidupnya berubah karena berhektar lahan kelapa sawit. Ya, kelapa sawit telah menyelamatkan hidupnya. Ia mencicip rejeki dari melambungnya harga kelapa sawit. Sawit menjadi titik balik dari kehidupannya.

Tahun 1995, Perusahaan sawit masuk ke sekitar desa Air Bening, Musi Rawas, Sumsel. Pertama kali ia menjadi buruh lepas untuk menanam sawit milik perusahaan. Lalu dia ikut program inti-plasma dari perusahaan. Ia menjadi petani bukan lagi buruh. Keuntungan dari sawit ia gunakan untuk memperluas lahannya. Kini ia menjadi petani sawit yang sukses.

Gelombang ekspansi sawit tidak tertahan. Sawit kini favorit. Tidak hanya untuk minyak goreng, namun proyeksinya untuk pengganti bensin atau biofuel. Hutan karet dibabat habis diganti sawit. Perusahan demi perusahaan datang untuk meraup untung dari sawit. Lapangan kerja terbuka bagi rakyat. Asal badan sehat saja, mau kerja keras mencari seratus ribu perhari bukan hal yang sulit di desa Umar.

Tapi Umar khawatir. Kebutuhan hidup makin tinggi. Umur produktif sawitnya tinggal 7 tahun lagi. Setelah itu ia perlu waktu untuk menanam ulang. Tidak ada tanah lagi yang tersedia, semua diambil perusahaan. Hutan sudah tidak ada, air sungai mengering saat kemarau panjang. Jalanan rusak akibat truk truk besar pengangkut sawit.

Emas hijau bernama sawit telah menyelamatkan hidup Umar, tapi ia tak tahu bagaimana masa depannya. Perusahaan semakin membabi buta menguasai lahan. Rasa cemas kembali menghantui. ”Saya harus mulai berpikir untuk membeli tanah di Jawa, untuk masa tua saya nanti mas”.


Responses

  1. terima kasih atas informasi yang sudah diberikan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: