Oleh: David Ardhian | Desember 2, 2009

Nenek Minah dan Perkebunan Indonesia

Seorang nenek renta dihukum karena mengambil 3 buah biji kakao milik perusahaan perkebunan. Ketika ditanya hakim, mengapa dia mengambil biji kakao ? Dengan lugu nenek tersebut menjawab untuk “Bibit”.

Walaupun kisah nenek Minah hadir dalam pemberitaan media saat maraknya kasus hukum Cicak versus Buaya, yang dimaksud bibit dalam jawaban Minah, bukanlah Bibit Samad Rianto, Ketua KPK non aktif. Minah yang lugu benar benar akan menggunakan tiga buah biji kakao untuk ditanam sebagai bibit di kebunnya.

Nenek Minah menanam kakao, sama dengan perusahaan perkebunan yang letaknya hanya selemparan batu dari rumahnya. Fakta ini menunjukkan tidak ada beda antara perusahaan dengan nenek miskin. Mereka sama sama melakukan proses budidaya kakao dan menjualnya ke pasar. Jika ditelusuri dalam rantai pasar, kakao dari perusahaan perkebunan dan nenek Minah, alurnya sama yakni dijual kepada para pedagang lalu bermuara pada industri pengolah kakao atau eksportir.

Sebagian besar perusahaan perkebunan baik milik pemerintah maupun swasta menanam produk yang sama, lumrah ditanam petani sekitar. Tidak heran, jika perusahaan perkebunan seringkali menganggap petani sekitar sebagai pesaing dan ancaman bagi mereka. Bagi perusahaan perkebunan, rakyat adalah buruh murah, rakyat yang punya potensi “mencuri”. Mencuri tanah dan atau hasil perkebunan.

Jika mundur empat abad, tahun 1602 ketika Belanda membentuk VOC maka situasinya sama. VOC didirikan dengan maksud mengeruk hasil bumi dari negara jajahan sebagai bahan baku industri dan pasar di Eropa. VOC menempatkan rakyat jajahan sebagai buruh murah perkebunan, bahkan dalam sistem tanam paksa.

Di jaman globalisasi perdagangan, perkebunan Indonesia tak ubahnya seperti jaman VOC. Perkebunan Indonesia dalam mata rantai perdagangan global masih belum beranjak dari status penghasil bahan mentah. Setiap tahun ekspor hasil perkebunan terus naik, namun yang diekspor adalah bahan mentah seperti kepala sawit, kopi, kakao dan sebagainya.

Kakao adalah contoh yang baik. Indonesia adalah eksportir kakao nomor dua di dunia setelah Pantai Gading. Ironisnya, nilai tambah justru diperoleh industri besar di negara maju seperti Swiss, Amerika Serikat dan Inggris. Hanya ada lima perusahaan multinasional menguasai pangsa pasar terbesar, yakni Nestle, Mars, Hershey, Kraft-Jacob-Suchard, dan Cadbury-Schweppes. Perusahaan raksasa tersebut produsen coklat merek terkenal seperti Cadbury, Van Houten atau Tobleron yang mudah ditemukan di supermaket Indonesia. Industri kakao nasional tidak berkembang dan kalah bersaing dengan perusahaan multi-nasional.

Kecenderungan ini masih akan berlangsung. Kalah bersaing produk olahan di negeri sendiri, pemerintah justru membuka luas investasi perusahaan asing untuk produk primer di sektor perkebunan. Perluasan perkebunan kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan, serta kakao di Sulawesi dan Indonesia Timur sebagaian besar didorong oleh investasi perusahaan asing skala besar. Hal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai republik pemasok bahan mentah, sekedar punya lahan dan buruh murah. Tidak berubah sejak jaman kolonial.

Ironi nenek Minah adalah ironi perkebunan Indonesia. Pencurian hasil perkebunan dan sengketa tanah sering menjadi konflik antara perkebunan dan rakyat sekitar, bersumber pada kesenjangan sosial. Wilayah sekitar perkebunan adalah kantong kemiskinan. Perusahaan perkebunan harus memberi nilai tambah bagi masyarakat sekitar, bukan memusuhinya.

Saatnya pemerintah merombak mentalitas pemasok bahan baku dengan pengembangan industri perkebunan sampai pada pengolahan hasil sehingga memberikan kesejahteraan bagi jutaan Minah di Indonesia.


Responses

  1. Mas David, ilustrasi mengenai peta per-kakao-an didahului oleh cerita Nenek Minah yang meskipun tragis, tapi ada sesuatu yang prinsip terlewat. Memang kesimpulannya betul, bahwa pemerintah harus mengembangkan industri kakao hulu sampai hilir diantaranya dengan memperkuat posisi petani kakao, terutama petani kecil. Tapi ketika menyebut Minah harus ditekankan bahwa Minah ini representasi dari petani kecil kakao ini. Di sisi lain, hukum harus ditegakkan tanpa pena bulu.. eh tanpa pandang bulu..hehehe.. jangan kemiskinan menjadi excuse bagi “tidak diterapkannya hukum”. sama halnya jangan sampai hukum bisa “dibeli” oleh orang yang berduit atau berkuasa.
    Salam,
    Kapan kita ngobrol-ngobrol lagi?

    • Mas Budi, nenek minah memang bukan represntasi seluruh petani kakao. Tapi kasus tersebut harusnya bisa jadi refleksi, lha sampai hari gini kok perusahaan perkebunan dan petani menanam produk yang sama, cara budidaya yang sama. Tidakkah perusahaan melangkah lebih jauh dan urusan produksi bisa di bagi kepada petani dengan skema yang pas gitu. Sama saja di mesuji petani dan kebun sawit rebutan panen dan berakibat fatal. pasti ada yg salah deh dari semua ini. masih di sekitar kuningan mas kantornya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: