Oleh: David Ardhian | September 24, 2009

Jagung di Hutan Kita

jagungMenelusuri hutan di wilayah selatan Jawa membuat sedikit tertegun. Nampak membentang tanaman jagung berjejer tumbuh di lahan terbuka kawasan hutan. Di setiap lahan kosong di kaki bukit, disitu jagung ditanam petani. Jagung menjadi favorit petani sekitar hutan.

Harga jagung melonjak naik dalam dua tahun terakhir. Gelondongan saja sudah lumayan apalagi yang pipilan. Sarana produksi mudah didapat, banyak kios berjualan jangung hibrida berbagai merek. Pengelolaan tidak terlalu sulit, tidak butuh banyak air yang sekarang lagi sulit. Ketika panen, tengkulak datang menghampiri, menawarkan harga yang lebih tinggi dari musim sebelumnya. Tak heran, petani sangat senang.

Departemen pertanian tak kalah girang. Swasembada jagung segera tercapai, dari tahun tahun tahun sebelumnya yang masih tekor neraca ekspor impornya. Industri pakan ternak sangat antusias membeli jagung lokal, dibanding impor yang semakin mahal. Pasar jagung dunia makin tipis, karena jagung menjadi salah satu bahan untuk bio-energi. Di Amerika, jagung diproyeksikan untuk bioetanol menggantikan bahan bakar yang tidak terbarukan yang makin langka.

Pasar jagung makin bergairah, rantai pasar bergerak positif, pelaku pasar senang, petani riang, departemen pertanian girang sementara para pedagang menari diatas keuntungan. Tapi apa yang terjadi dibalik itu. Rantai pasar jagung didorong oleh tingginya harga jagung di pasaran internasional. Motivasi politik swasembada jagung terangkat oleh situasi yang kondusif tersebut, petani mengambil manfaat dengan tingginya jagung dipasaran. Mereka menanami lahan dengan jagung termasuk lahan hutan. Mereka merangsek masuk kedalam kawasan tangkapan air untuk mengejar pendapatan.

Di satu desa pinggiran hutan di Pacitan, petani menyatakan sejauh dia mampu menanam, seluas apapun bisa dilakukan asal modal mencukupi. Petani merasa sudah bekerjasama dengan perhutani untuk memanfaatkan kawasan hutan dalam pola penghutanan bersama masyarakat. Masyarakat boleh menanami jika pohon belum tumbuh tinggi. Petani yang miskin mendapat akses lahan, dan menanami dengan jagung untuk menyambung hidup. Tapi pohon tak kunjung tinggi, bahkan masih seumur jagung sudah mati. Dan harus mati, supaya jagung bisa terus bersemi.

Petani di Ngawi, menyatakan dia memindahkan hutan di kampung mereka. Di sekitar rumah tumbuh aneka buah buahan dan pohon jati. Kampung kami adalah hutan, dan hutan negara itu adalah ladang kami. Hutan kayu di kampungku, hutan jagung di lahan negara. Bagaimana dengan pemangku hutan, Perhutani? Tidak bisa berbuat banyak, masyarakat berbicara tentang perut. Tanpa kekerasan dan represi sulit menghentikan masyarakat, tapi itu tidak mungkin di jaman yang demokratis.

Jagung dibeli tengkulak, tengkulak menyetor ke pengumpul dan pabrik pakan skala transnasional siap menampung dengan harga tinggi. Benih, pupuk dan racun kimia telah tersedia untuk melayani rantai pasokan, siapa penjualnya? Perusahaan raksasa kelas dunia. Ekstraksi keuntungan oleh sang raksasa telah terjadi ditengah swasembada jagung yang terjadi. Tekanan ekologi telah terjadi pada satu wilayah tangkapan air untuk kepentingan ekonomi.

Ini masalah serius. Kompetisi dalam alokasi tata ruang untuk kepentingan hutan dan pertanian. Pertarungan di lanskap untuk energi, pangan dan konservasi. Pertanian masih menang dalam ronde pertama, lonjakan harga jagung akibat untuk bioenergi. Tapi siapa tahu pukulan balik terjadi, isu perubahan iklim dan konservasi hutan bisa memukul mundur semangat petani. Kuncinya adalah komprehensifitas kebijakan dalam melihat situasi lapangan. Menteri harus turun tangan, bersama sama tidak sendiri sendiri. Menyepakati tata ruang yang sinergis untuk kepentingan kehidupan, jangan sampai satu mengalahkan yang lain. Bisakah ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: