Oleh: David Ardhian | September 24, 2009

Humus yang Tergerus

taanahSitus Guardian.co.uk, tanggal 24 September 2009 memberitakan temuan dari Ilmuwan Department for the Environment, Food and Rural Affair (Defra) mengenai degradasi top soil atau humus di UK. Setiap tahun 2 million tons humus di Inggris tergerus oleh air dan atau angin yang mengancam produktifitas lahan untuk pangan. Hal ini adalah buah dari implementasi pertanian intensive selama 200 tahun di negeri David Beckham tersebut.

Bagaimana dengan di Indonesia ?
Rasanya dengan praktek pertanian intensif, dengan tingginya pemakaian pupuk dan pestisida serta kerusakan hutan mengakibatkan dampak yang jauh lebih buruk. Kerusakan daerah tangkapan air, membuat gelontoran air dari hulu semakin kencang menuju hilir. Kita bisa bayangkan bagaimana banjir bandang yang baru saja terjadi di Madina, Tapanuli Selatan yang menggerus tidak hanya humus namun juga nyawa dan harta benda masyarakat.

Petani di Karawang mengaku bahwa pemaikan pupuk kimia (terutama urea) makin tahun makin meningkat. Petani sudah ribut jika pupuk urea langka, sementara pemerintah menepuk dada ketika menggelontorkan subsidi dana untuk pupuk kimia. Padahal pupuk kimia adalah sasal satu yang mengakibatkan kepadatan tanah meningkat. Humus menjadi tanah kering tak subur, sementara gerusan air menguranginya dari tahun ke tahun. Daya ikat oksigen oleh pori pori tanah semakin berkurang, sementara mikroorganisme penyubur tanah semakin sesak sempit dalam tanah yang makin gersang. Produktifitas turun, petani makin banyak membelajakan uang untuk kebutuhan pupuk yang semakin besar.

Produktifitas tanaman pangan terancam tidak bergerak naik jika kita tidak memperhatikan erosi tanah dan air. Salah seorang peneliti Defra, Profesor Bob Watson menyatakan bahwa tantangan produksi pangan akan semakin berat. Krisis pangan dan jumlah penduduk membuat dunia harus memproduksi pangan dalam jumlah besar. Sementara itu tantangan perubahan iklim akan menjadi sandungan bagi upaya tersebut. . “We face many challenges of climate change, we have to produce twice as much food, it needs to be more nutritious, and if we don’t take care of our soil and our water, we will not be able to accomplish that task,” kata sang Profesor seperti yang direlease oleh guardian.co.id

Ini adalah tantangan besar. Pemerintah Indonesia tercinta masih berorientasi pada jangka pendek dengan bergantung pada urea, apalagi disubsidi. Urea jelas bukan merupakan pilihan yang berkelanjutan untuk jangka panjang. Pupuk organik adalah satu satunya jalan untuk menggemburkan kembali tanah tanah pertanian kita. Banyak petani yang sudah memulai kembali ke pupuk organik, namun pemerintah masih belum beranjak dari cara berpikir paradigma lama.

Patut juga menengok ke IPB, bagaimana para ahli tanah kita memikirkan hal ini ? Atau lebih jauh, berapa sih jumlah ahli tanah yang tersedia untuk memikirkan hal ini ? Jangan jangan jumlah mahasiswa ilmu tanah makin lama makin menurun seiring dengan degradasi humus yang makin tergerus ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: