Oleh: David Ardhian | Mei 14, 2009

Pertanian dalam Belenggu Pasar Bebas

lapak imporbuahKalau kita mau membeli buah buahan, tidak perlu harus ke swalayan atau supermarket, pergi saja ke pasar tradisional atau pedagang kaki lima maka kita akan mendapatkan pilihan anekaragam buah buahan yang bisa kita pilih. Dulu kita hanya mendapatkan Apel Malang, Mangga Indramayu, atau Jeruk Medan tapi sekarang kita bisa mendapatkan Apel Washington atau Apel Fuji, Buah Pear, Buah Kiwi, berbagai macam jeruk dari China dan lain lain. Kini buah impor berjejer bersama dengan buah lokal di lapak lapak pedagang kaki lima. Mau beli buah impor sangat mungkin bagi semua kalangan, karena harganya tidak berbeda jauh, bahkan ada yang lebih murah.

Fenomena keberadaan buah impor di lapak pedagang kaki lima tersebut menggambarkan fenomena globalisasi pertanian. Dalam konteks globalisasi, arus keluar masuk barang lintas negara berlangsung secara bebas. Menikmati buah impor, identik dengan makan di restaurant siap santap Mac Donald, memakai baju bermerk internasional, atau bahkan menonton siaran langsung sepakbola Liga Inggris !! Artinya adalah, sektor pertanian tidak bisa lepas dari pengaruh globalisasi yang dalam manifestasinya didorong oleh liberalisasi perdagangan.

Kalau anak anak kita tidak kenal dengan apel Malang, adalah sebuah hal yang wajar. Hal ini disebabkan karena lidah mereka lebih akrab dengan apel apel impor, sementara kita tidak mengenalkan mereka dengan apel lokal. Derasnya arus impor produk pertanian yang membajiri pasar dalam negeri kita memberikan kontribusi kepada preferensi konsumen akan produk impor tersebut. Pergeseran preferensi konsumen akan produk pertanian impor akan meningkatkan permintaan (demand) akan produk impor sehingga dari tahun ke tahun impor produk pertanian cenderung mengalami peningkatan. Dan kita pun mulai bersungut sungut, menyalahkan keadaan ini sekaligus sambil menikmatinya.

Apa yang menjadi faktor penyebab dibalik derasnya arus impor tersebut ? Sesungguhnya perdagangan dunia digerakkan oleh hukum penawaran dan permintaan dalam pasar. Tata niaga perdagangan lintas negara diatur oleh sebuah aturan perdagangan yang mekanismenya disepakati oleh negara negara yang terlibat di dalamnya. Secara multilateral, aturan perdagangan tersebut diatur oleh organisasi perdagangan dunia atau World Trade Organization (WTO). WTO adalah badan dunia yang mempromosikan sebuah peraturan perdagangan lintas negara untuk menuju perdagangan yang bebas. Artinya WTO berupaya untuk mengurangi hambatan perdagangan, dengan cara menghapuskan hambatan non tarif dan menurunkan tarif impor secara sistematis sampai pada saatnya arus barang betul betul tanpa hambatan. WTO mengatur perdagangan barang, jasa dan kekayaan intelektual terkait perdagangan termasuk juga perdagangan produk pertanian.

Indonesia meratifikasi WTO pada tahun 1994, sehingga Indonesia harus tunduk pada aturan WTO. Aturan WTO bersifat mengikat secara hukum atau legally binding, sehingga pelanggaran aturan bisa berimplikasi pada sangsi perdagangan. Sejak menjadi anggota WTO, tarif impor rata rata, produk pertanian Indonesia cenderung terus menurun. Pada tahun 1994 tarif impor rata rata produk pertanian berkisar 26,1 % dan terus menurun hingga 5 % pada tahun 1998. Sepanjang masa itu produk pertanian impor mendapatkan insentif untuk masuk ke pasar dalam negeri, dan sepanjang masa itu preferensi konsumen dalam negeri mulai bergeser ke produk pertanian impor.

Kasus beras dan gula agaknya menarik untuk dicermati, karena merupakan bahan pangan pokok. Beras termasuk produk strategis karena merupakan makanan pokok mayoritas rakyat. Pada tahun 1997, ketika krisis ekonomi Indonesia masuk dalam skema dukungan hutang luar negeri International Monetary Fund (IMF), sehingga untuk mendapatkan hutang maka Indonesia harus mengikuti syarat syarat yang ditetapkan IMF. Syaratnya adalah liberalisasi sektor pertanian termasuk perberasan, dimana monopoli impor BULOG dihapuskan sehingga perusahaan swasta boleh impor beras, subsidi untuk petani dihapuskan (subsidi pupuk dan pestisida) serta tarif impor beras diturunkan sehingga pada bulan September 1998 tarif impor beras betul betul 0%!! Akibatnya bisa diduga, impor beras mencapai 2,9 juta ton tahun 1998 dan 4,7 juta ton di tahun 1999. Indonesia sebagai negara yang pernah mencapai swa-sembada beras tahun 1984, menjadi negara importir beras terbesar di dunia pada tahun 1998.

Selain terikat pada aturan WTO, Indonesia juga terikat pada kesepakatan perdagangan bebas pada tingkat regional dalam hal ini ASEAN. Pada tahun 1992, ASEAN menyepakati pembentukan kawasan pedagangan bebas ASEAN atau ASEAN Free Trade Area (AFTA). AFTA memiliki prinsip sama dengan WTO, yaitu mempromosikan pasar bebas. Implementasi AFTA telah dimulai sejak tahun 2003, dimana diantara negara negara ASEAN dihapuskan hambatan non tarif dan untuk produk yang tidak sensitif tarif harus berkisar antara 0-5 % saja.

Oleh karena perdagangan intra ASEAN sesungguhnya rendah dan cenderung memiliki produk sejenis maka ASEAN mulai membuka perdagangan secara bilateral dengan negara yang secara ekonomi lebih kuat. Maka muncullah konsep ASEAN + 3 yaitu kesepekatan perdagangan bebas antara ASEAN dengan tiga negara Asia Timur, yaitu Jepang, China dan Korsel. Hal ini akan terus berkembang dengan mulai diintensifkan format perdagangan bebas antara ASEAN dan Uni Eropa serta Amerika Serikat. Selain itu Indonesia sebagai individu negara pada tahun 2007, juga telah meratifikasi kesepakatan bilateral dengan Jepang dan sedang merancang dengan Amerika Serikat dan Australia.

Ratifikasi berbagai perjanjian perdagangan bebas tersebut yang membuat pertanian kita menjadi semakin liberal, pasar kita menjadi semakin terbuka dengan hambatan perdagangan yang semakin minim. Untuk itu adalah hal yang sangat wajar jikalau petani bawang merah di Brebes mengeluh karena bawang impor membanjiri pasar bawang merah di Brebes justru pada saat panen raya. Bawang impor sebagian besar berasal dari Philipina, Thailand dan Vietnam, negara negara yang bersama Indonesia terikat dalam perjanjian pedagangan bebas ASEAN (AFTA).

Petani apel di Batu, Malang terus merugi karena kalah bersaing dengan apel Fuji dan apel Washington. Berdasarkan investigasi yang dilakukan penulis di supermarket dan pasar tradisional di Malang, Tulungagung dan Bogor, harga apel Malang berada pada kisaran antara apel Fuji dari China yang lebih murah dan Apel Washington yang lebih mahal. Tapi harga akan tidak berarti dibanding dengan preferensi konsumen yang cenderung memilih apel impor.

Tantangan liberalisasi perdagangan yang semakin berat, ternyata juga belum diimbangi dengan penguatan kelembagaan pada tingkat lokal. Jika menganalis rantai pasokan produk, maka petani selalu menjadi pihak yang paling sedikit mendapatkan keuntungan sementara memiliki resiko yang paling besar. Informasi pasar pada tingkat lokal bersifat asimetris, dimana jika harga pasar turun informasi akan cepat sampai ke petani, sementara jika harga naik akan lambat diterima petani. Petani lebih banyak memperhitungkan harga pada musim terakhir untuk mengambil keputusan untuk pemilihan komoditas yang ditanam khususnya untuk hortikultura umur pendek seperti sayuran,sehingga sering terjadi over produksi yang menjatuhkan harga pada masa panen. Hal ini berarti kelembagaan informasi harga dan pasar pada tingkat petani masih sangat lemah.

Berbagai masalah pada tingkat produksi masih membelenggu pertanian kita, seperti persoalan kualitas dan kuantitas produk, rendahnya sarana dan prasarana pengairan, kerentanan terhadap ledakan hama dan penyakit, apalagi saat ini dihadapkan pada situasi perubahan iklim yang menuntut perlunya strategi adaptasi dalam menghadapinya. Dalam situasi seperti ini, adalah hal yang sangat keliru jika cara pandangnya adalah menyalahkan konsumen yang memilih memakan buah impor. Ibarat sepakbola, jangan salahkan anak anak kita mengidolakan Cristiano Ronaldo dari Manchester United atau Lionel Messi dari Barcelona karena Indonesia tidak mampu menghasilkan pemain atau tim nasional yang layak mereka idolakan. Jangan salahkan lidah masyarakat memakan buah impor, kalau Indonesia tidak mampu membangun pertanian yang tangguh dan produk pertanian yang berkualitas sehingga mampu menghadapi gempuran pasar bebas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: