Oleh: David Ardhian | Mei 14, 2009

Pengetahuan Pertanian : Dialog Pengetahuan Lokal dan Ilmiah

ekologitanahPerkembangan pengetahuan pertanian (agriculture knowledge) saat ini sampai pada suatu situasi dimana “kemajuan” pengetahuan sangat jauh melampaui praktek budidaya yang dilakukan oleh petani. Hal ini disebabkan, pengetahuan pertanian secara formal didominasi oleh pengetahuan ilmiah produk dari hasil riset para ilmuwan dari berbagai lembaga penelitian dan pengembangan, baik milik pemerintah ataupun swasta. Tahun demi tahun produk hasil penelitian telah dihasilkan, sejalan dengan proses regenerasi ilmuwan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan tinggi pertanian. Sementara itu berbagai produk pengetahuan dan teknologi pertanian modern tersebut telah banyak diserap oleh berbagai perusahaan swasta pertanian baik skala nasional maupun global, untuk dikemas dalam bentuk berbagai sarana produksi untuk dipasarkan kepada konsumen, yang tak lain adalah petani.

Dominasi pengetahuan ilmiah dalam pengetahuan pertanian secara umum telah membawa hasil yang sangat signifikan dalam modernisasi pertanian. Sebaliknya surplus keuntungan pertanian modern mampu menyokong perkembangan ilmu dan teknologi pertanian dengan sangat pesat. Di negara maju, ketika pertanian telah menjadi industri (sebagian besar dilakukan oleh perusahan agribisnis skala besar) barangkali hal tersebut sangat relevan. Pertanian industri sangat membutuhkan tingkat efisiensi tinggi, sarat akan kebutuhan teknologi modern dan investasi padat modal. Petani kaya dan perusahaan agribisnis skala besar jelas merupakan pihak paling siap dan terkuat dalam akses terhadap “layanan” pengetahuan dan teknologi pertanian modern.

Di negara berkembang seperti Indonesia, pola pengembangan pengetahuan pertanian menganut pola yang sama seperti yang dilakukan di negara maju. Pengetahuan pertanian di Indonesia juga didominasi oleh pengetahuan ilmiah hasil karya para ilmuwan pertanian kita. Oleh karenanya maka berbagai hasil penelitian dan teknologi yang dihasilkan para ilmuwan pertanian kita, sebagian besar cenderung mengacu pada pengetahuan pertanian mutakhir dan teknologi modern yang telah dikembangkan di negara maju. Hasil penelitian tersebut kemudian coba diadaptasikan kepada petani, baik proyek dan program pemerintah ataupun melalui jalur swasta dalam bentuk teknologi sarana produksi pertanian, yang bisa didapatkan oleh petani di pasaran dengan cara ”membeli”.

Pengembangan pengetahuan pertanian dalam pola transfer pengetahuan dan teknologi (yang lebih modern) kepada petani (yang dianggap masih tradisional) tersebut masih berlangsung sampai saat ini. Petani masih sering dipandang sebagai receiver pengetahuan melalui adaptasi pasif terhadap pengetahuan dan teknologi yang diproduksi oleh ilmuwan dari lembaga penelitian.

Pertanian Berkelanjutan : sebuah jalur lain

Ditengah mainstream pengembangan pengetahuan dan teknologi pertanian modern, ada sebuah model pengembangan yang menggunakan jalur yang berbeda. Pertanian berkelanjutan dengan berbagai varian didalamnya adalah sebuah sistem pertanian menghargai aspek lokalitas, termasuk membuka peluang partisipasi petani dalam pengembangan pengetahuan pertanian. Pertanian berkelanjutan dengan prinsip utamanya seperti penekanan kepada kelestarian lingkungan, keadilan sosial, kelayakan ekonomi menurut ukuran lokal, dan penghargaan atas berbagai makhluk hidup dalam dunia pertanian telah memberikan ruang bagi tumbuh berkembangnya pengetahuan lokal pertanian. Petani tidak dianggap sebagai pengadaptasi pasif namun justru sebagai subyek dalam pengembangan pengetahuan pertanian.

Dalam koteks pertanian berkelanjutan, pengetahuan petani justru menjadi sumbu utamanya. Pengetahuan lokal dalam pertanian, yang milik petani sendiri bukanlah sebuah pengetahuan yang terlampau jauh berkembang mendahului prakteknya, namun pengetahuan yang tumbuh seiring dengan pengalaman petani dalam praktek. Ia adalah produk dari persepsi, proses belajar dan rasionalitas petani berdasarkan pengalaman yang dilakukan sehari hari. Teknologi yang diturunkan dari pengetahuan petani adalah teknologi tepat guna (appropriate technology), sesuai kebutuhan, murah dan bisa diterapkan dalam praktek budidaya petani. Proses regenerasi pengetahuan bisa melalui jalur turun temurun, sharing pengetahuan antar sesama petani dan bahkan kini juga bisa dalam bentuk seminar dan lokakarya petani.

Banyak organisasi sosial, bahkan ilmuwan yang menaruh minat dan kepedulian dalam pengembangan pengetahuan lokal milik petani tersebut. Berkembangnya praktek pertanian berkelanjutan secara luas, baik tingkat lokal sampai global adalah sebuah manifestasi dari perguliran pengetahuan pertanian berkelanjutan dimana pengetahuan petani mendapatkan tempat untuk tumbuh dan berkembang didalamnya.

Polarisasi pengetahuan ilmiah dan pengetahuan lokal

Berkembangnya penghargaan terhadap pengetahuan lokal dan semakin pesatnya perkembangan pengetahuan ilmiah dalam pertanian mengakibatkan munculnya dikotomi antara pengetahuan petani atau sering disebut sebagai pengetahuan lokal (local knowledge) dan pengetahuan ilmuwan atau sering disebut sebagai pengetahuan ilmiah (scientific knowledge).

Perdebatan antara pentingnya pengetahuan lokal versus pengetahuan ilmiah merupakan perdebatan yang sudah berlangsung lama. Perdebatan klasik tersebut tidak hanya pada tataran praktis namun seringkali sangat ideologis. Bagi pihak yang mengagungkan pengetahuan lokal, maka pengetahuan ilmiah dianggap sebagai ancaman. Pengetahuan ilmiah dikonotasikan sebagai pengetahuan asing, yang telah menyebabkan terdesaknya pengetahuan pribumi. Bagi pembela pengetahuan lokal, pengetahuan ilmiah telah merusak pertanian rakyat.

Sementara itu bagi yang menggandrungi pengetahuan ilmiah, maka justru pengetahuan ilmiah adalah sebuah solusi bagi pertanian di Indonesia. Indonesia tidak maju sektor pertaniannya karena masih menggantungkan diri pada sistem pertanian tradisional. Bagi yang mendewakan pengetahuan imiah, pengetahuan lokal justru membuat pertanian menjadi subsisten yang membuat petani akan tetap miskin. Pihak ini juga mengganggap pengetahuan lokal identik dengan seusatu yang kuno, tidak sesuai dengan perkembangan jaman yang semakin modern.

Menuju sebuah dialog

Perdebatan tersebut dalam batas batas tertentu bermanfaat untuk menggambarkan differensiasi antara pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah. Namun seringkali perdebatan tersebut terlampau jauh, sehingga memunculkan berbagai prasangka dan stereotype yang membuat jurang pemisah diantara kedua pengetahuan yang masing masing memiliki kelebihan dan kelemahan didalamnya, apalagi jika petani ikut serta terkotak kotak didalam pertentangan tersebut.

Padahal persoalan dan tantangan yang dihadapi jauh lebih besar dari sekedar hasil perdebatan tersebut seperti kerusakan ekologi pertanian, kemiskinan petani dan berbagai masalah yang menyelimuti dunia pertanian kita. Persoalan besar tersebut tidak pernah bisa selesai dengan satu pendekatan pengetahuan saja. Pengembangan dialog diantara keduanya justru kini menjadi agenda yang penting untuk dilakukan. Bagaimana membangun sebuah kolaborasi yang saling mengisi diantara keduanya adalah hal mendasar yang harus dilakukan.

Pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah semestinya adalah dua sistem pengetahuan yang setara dan saling melengkapi, walaupun sedikit berbeda dalam atribut dan kepentingannya. Persoalan yang paling mendasar dalam menjembatani dialog diantara keduanya adalah persoalan bahasa sebagai simbol komunikasi. Apa yang petani dengar ketika ilmuwan berbicara ? Dan apa yang ilmuwan tangkap ketika petani berbicara ? Hal ini memerlukan intermediary agent untuk memperlancar proses komunikasi diantara kedua pengetahuan tersebut. Organisasi sosial seperti NGO adalah pihak yang berpotensi dalam menjembatani dialog antara pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: