Oleh: David Ardhian | Mei 14, 2009

Kelaparan Masih di Sekitar Kita

laparanSetiap orang pasti pernah merasa lapar. Perut kita merasa lapar ketika waktu telah melampaui saat dimana biasanya kita sudah makan. Kita sering mengalami ketika pagi hari kita lupa sarapan, atau karena kesibukan kita maka tidak sempat makan. Jengkel rasanya, jika ketika kita merasa lapar namun makanan tidak tersedia. Namun bagi kita, lapar kadang kadang tidak terkait dengan tidak tersedianya makanan, tapi juga soal pilihan selera makanan. Ketika makanan yang tersedia tidak cocok dengan selera kita, maka kita rela untuk tidak memakannya dan kita lapar. Kerelaan untuk merasa lapar juga terkait dengan niat dan kepercayaan, misalnya ketika kita menjalani ibadah puasa atau sedang menjalani terapi diet untuk kesehatan.

Tapi pernahkan anda merasakan atau setidaknya membayangkan situasi dimana kita merasa sangat lapar, karena kita tidak mampu memperoleh makanan, baik karena tidak punya uang atau memang makanan tidak ada di sekitar kita ? Artinya kita kelaparan bukan karena lupa tidak makan, sibuk sehingga tidak sempat makan atau memang niat untuk rela tidak makan. Memangnya masih adakah orang yang kelaparan di Indonesia ?

Ketika mendengar kata kelaparan yang sering kita bayangkan adalah seperti yang terjadi di Afrika, dalam bentuk kelaparan kronis yakni orang tua dengan anaknya, berkulit hitam, dengan badan kurus kering dan perut membesar, tinggal di daerah padang pasir yang menunggu bantuan pangan dari orang lain. Kita pun merasa kasihan. Namun kita sempat terhentak karena bentuk bentuk kelaparan mulai terkuak di negeri ini, ketika berbagai media memberitakan bahwa banyak saudara saudara kita di berbagai daerah di tanah air mengalami kelaparan.

Kelaparan merupakan sebuah ujung dari berbagai sebab dan manifestasinya bisa dalam berbagai bentuk. Secara umum kelaparan diakibatkan oleh kemiskinan terutama akses terhadap kebutuhan hidup dasar terutama pangan pokok. Lapar bisa karena makanan tidak tersedia baik secara tiba tiba maupun secara sistematis, atau karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Misalnya seperti yang diberitakan berbagai media akibat bencana alam membuat masyarakat setempat tidak memiliki akses untuk memperoleh makanan, atau kekeringan yang panjang mengakibatkan produksi pangan tidak berhasil memenuhi kebutuhan pangan seperti yang terjadi di Yahokimo Papua dan beberapa daerah di NTT. Namun ketika kelaparan terjadi di daerah pinggiran Ibukota seperti Tangerang dan Bogor, maka hal tersebut pasti disebabkan karena rendahnya pendapatan sehingga tidak mampu membeli makanan pokok.

Nampaknya kita harus berhati hati, jangan jangan ada saudara atau tetangga di sekitar rumah kita yang kelaparan. Artinya kita tidak harus menunggu berita di media massa supaya kita tahu bahwa ada kelaparan di sekitar kita. Tapi jika kita menemukan ada saudara dan tetangga kita kelaparan maka apa yang harus kita lakukan ? Siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab atas bentuk bentuk kelaparan tersebut ?

Pangan dalam Tatanan Kehidupan

Kalau kita pernah belajar ilmu biologi di SMA, maka kita pasti ingat bahwa kehidupan itu sebenarnya adalah reaksi bongkar pasang makro molekul makanan yaitu karbohidrat, protein, lemak yang berlangsung dalam sel. Manusia adalah salah satu bentuk organisme yang sebanarnya sama dengan makhluk lain namun hanya berbeda jumlah makromolekul yang dibongkar pasang untuk melangsungkan kehidupan.

Setiap makhluk hidup, entah manusia, hewan, tanaman atau mikroorganisme membutuhkan makanan yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi namun juga sebagai bahan baku biosintesis makromolekul organismenya. Manusia misalnya, memperoleh makanan dari hewan dan tumbuh-tumbuhan dengan tiada hentinya dengan mensintesis bahan makanan dengan mengunakan sinar matahari sebagai sumber energi, karbon monoksida dan air sebagai bahan bakunya. Tanaman menggunakan energi matahari untuk melakukan fotosintesis sehingga bisa menyimpan energi dalam bentuk cadangan makanan yang oleh manusia dengan cara dimakan (dibongkar pasang) dalam sistem biokimia tubuh kita, sehingga manusia melangsungkan siklus kehidupan seperti yang pernah kita pelajari dalam ilmu biologi dasar.

Oleh karena itu berbicara mengenai makanan adalah berbicara mengenai kehidupan yang terus berlanjut pada semua makluk hidup meski tanpa pakaian, rumah, kompor, televisi, komputer, mobil, kulkas, telepon seluler dan bermain facebook. Selama ada makanan, kehidupan akan terus berlangsung walau dalam keadaan telanjang dan tanpa pendidikan serta berbagai asesoris kehidupan lainnya.

Pangan merupakan kebutuhan dasar, dan merupakan kebutuhan esensial untuk kehidupan terus berlangsung. Setiap manusia (atau organisme lainnya) pada dasarnya tidak merencanakan kelahirannya dan keberadaanya sendiri. Seyogyanya setiap makhluk hidup mempunyai hak hidup yang sama, artinya setiap manusia mempunyai hak yang sama atas makanan, sumber kehidupannya. Sederhananya, kebutuhan makan merupakan hak asasi bagi setiap manusia. Kelaparan dan kurang gizi adalah bentuk bentuk tidak terpenuhinya hak asasi manusia atas pangan.

Manusia tidak boleh memonopoli bahan pangan, menindas orang lain supaya tidak bisa makan, atau menggunakan argumen ekonomi (untung rugi) sehingga manusia lain kelaparan. Perkembangan peradaban, moral dan teknologi ternyata belum membawa manusia memperoleh kesejahteraan secara merata. Perkembangan peradaban seolah olah mencabut pangan dari tatanan kehidupan yang harmonis antar sesama makhluk hidup dan merubahnya menjadi benda mati yang harus diperoleh melalui persaingan, pertarungan, kompetisi sengit antar umat manusia melalui kancah ekonomi, perdagangan dan politik.

Ketika pangan telah berubah menjadi komoditas perdagangan semata, yang keluar dari esensi fungsi dasarnya sebagai media kehidupan maka yang terjadi adalah penguasaan dan pemusatan kekuatan produksi pangan di satu sisi dan kekurangan pangan di sisi yang lain. Hampir 70 persen bisnis di dunia dan di Indonesia terkait dengan pangan dan pertanian, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan situasi kekurangan pangan yang justru masih terus berlanjut sampai saat ini.

Hak Atas Pangan dan Hak Untuk Tidak Lapar

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki laut yang luas dan daratan yang subur dengan kekayaan sumber pangan yang luar biasa. Kalau melihat sumberdaya produksi maka rasanya seperti tidak mungkin ada anak bangsa ini yang harus menderita kelaparan dan kurang gizi. Namun menurut data dari Badan Bimas Ketahanan Pangan, Deptan (2004) ternyata masih banyak penduduk Indonesia yang rawan pangan, dimana pada tahun 2002 terdapat 21,7 persen penduduk rawan panga yang terdiri 15 persen merupakan penduduk rawan pangan dan 6 persen penduduk mengalami sangat rawan pangan. Susenas (2003) mencatat adanya sekitar 5,1 juta atau sekitar 27,5 persen anak balita mengalami kurang gizi. Dari jumlah itu ternyata 8,3 persen diantaranya menderita gizi buruk, atau kurang gizi kronis. Sebagai akibatnya sekitar 305.000 bayi dan anak balita meninggal setiap tahunnya, dan 180.000 diantaranya karena kekurangan gizi.

Fakta tersebut menggambarkan bahwa walaupun negeri kita kaya akan sumber pangan dan gizi namun masih banyak masyarakat miskin yang tidak mampu memperolehnya. Mengapa hal itu terjadi ? Hal tersebut erat kaitannya dengan akses terhadap pangan terutama disebabkan karena rendahnya pendapatan dan distribusi pangan yang tidak adil dan merata. Sementara itu walaupun disadari bahwa pangan adalah kebutuhan dasar untuk melangsungkan kehidupan, namun kenyataannya dalam perkembangan tidak semua orang mampu mengakses pangan. Dalam hal ini perlu peran pemerintah untuk menjamin kecukupan pangan bagi seluruh rakyat dan bagi semua orang.

Tahun 2004, BPS melaporkan bahwa produksi padi kita meningkat dan dengan gagah pemerintah menyatakan bahwa kita akan mencapai swasembada beras seperti tahuan 1984. Namun bagai disambar petir di siang bolong, akibat gagal panen pada awal tahun 2005 kita dikejutkan dengan kabar kelaparan kronis yang melanda 10 kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini menggambarkan bahwa sebenarnya pangan kita cukup untuk memenuhi kebutuhan namun karena pangan hanya dilihat sebagai komoditas semata maka yang menonjol adalah aspek perdagangan dibanding aspek pemenuhan hak rakyat.

Pada level internasional kesadaran pentingnya kecukupan pangan sudah disadari sejak lama. Dalam deklarasi Hak Asasi Manusia tahun 1948 artikel 11 (1) dinyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak atas kehidupan standar yang cukup untuk kesehatan dan kesejahteraan bagi dirinya dan keluarganya termasuk makanan. Hal tersebut diperkuat dengan konvenan Hak Sosial, Ekonomi dan Budaya tahun 1966, dinyatakan bahwa negara penandatangan konvenan harus mengakui hak mendasar setiap orang untuk bebas dari kelaparan, baik secara individu maupun internasional harus mengambil langkah langkah termasuk program khusus untuk mengatasi kelaparan. Deklarasi Roma tahun 1996, tentang ketahanan pangan dunia (World Food Summit) menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk tidak kelaparan dan mempunyai akses yang cukup, bergizi dan aman bagi dirinya.

Pada level nasional pun sebenarnya sudah penegasan dari UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan yang secara jelas menyatakan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar yang pemenuhannya merupakan hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam rangka mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Dengan berbagai penegasan secara hukum ini seharusnya pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia harus mengupayakan sekuat mungkin dan menjadikan prioritas untuk menghapuskan segala bentuk kelaparan yang ada di negeri ini.


Responses

  1. kedaulatan pangan tidak akan bisa dicapai tanpa dari dukungan semua pihak.
    kita harus bisa mengembangkan pangan lokal dgn kearifan budaya lokal yg tentunya dapat membantu tercapainya ketahanan pangan di negeri kita ini

    brataa09.student.ipb.ac.id

    • Benar Brata, pangan lokal dan kearifan budaya adalah pilar utama kedaulatan pangan. Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: