Oleh: David Ardhian | Mei 13, 2009

Trend Penguasaan Lahan oleh Swasta Asing di Negara Berkembang

dubaisawahKrisis pangan yang terjadi pada tahun 2008, nampaknya belum akan segera berakhir apalagi dengan krisis finansial global yang berkepanjangan. Lonjakan harga pangan dunia telah mengkhawatirkan semua negara baik negara berkembang maupun negara maju. Negara negara berkembang yang memiliki kapasitas sumberdaya untuk memproduksi pangan terus berupaya meningkatkan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Sementara itu negara kaya dengan kapasitas produksi pangan dalam negeri yang terbatas dibayangi kekhawatiran akan lonjakan harga pangan dunia. Tingginya harga pangan dunia, membuat perusahaan skala besar mulai mengembangkan sayap bisnisnya di sektor pangan.

Negara negara kaya importir pangan seperti negara di Timur Tengah mulai ancang ancang untuk menyelamatkan ketahanan pangan mereka dengan mendorong perusahaan mereka untuk melakukan investasi di sektor pangan. Dalam perspektif kedaulatan pangan, hal yang mengkhawatirkan adalah kecederungan investasi perusahaan kaya dari negara maju untuk menguasai lahan di negara negara miskin dan berkembang. Investor dari Saudi Arabia menggelontorkan dana US $ 100 juta untuk menguasai lahan di Ethiopia, dimana mereka akan berinvestasi untuk menanam gandum untuk menambah luasan lahan dari jutaan hektar yang telah mereka kuasai di Sudan.

Investor dari China juga tidak kalah ketinggalan, dengan melakukan ekspansi bisnis dengan penguasaan lahan di Aljasair dan Zimbabwe. Sementara itu Kenya dan Tanzania telah menyewakan lahan pertanian mereka, juga Uganda yang telah mengalokasikan dua juta hektar lahan mereka kepada investor dari Mesir untuk penanaman jagung dan gandum.

Kecederungan ekspansi dan penguasaan lahan juga tidak hanya terjadi di benua Afrika namun juga di negara Timur Tengah sendiri. Saudi Arabia dan negara kaya Timur Tengah lain sedang bernegosiasi untuk membeli jutaan lahan di Pakistan. Hal ini juga termasuk penyediaan jasa tentara untuk melindungi produk pangan yang akan dieskpor dari Pakistan untuk kepentingan pangan negara negara kaya tersebut.
Lonjakan harga gandum dan pangan dunia dalam dua tahun terakhir yang telah menyebabkan kekacauan sosial di 30 negara berkembang di dunia merupaka katalis bagi penguasaan lahan oleh perusahaan swasta besar lintas negara. Pada saat sama negara negara eksportir pangan besar mulai mengontrol ekspor mereka karena pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri.

Ketakutan akan kekurangan pangan mulai menghantui negara negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain dan negara kaya jasirah Arab lainnya. Saudi Arabia merupakan negara paling agresif untuk memperluas upaya dalam pemenuhan pangan dengan mendorong investor mereka untuk menguasai lahan di negara berkembang.
Tidak semua negara membuka lebar peluang investor asing dalam penguasaan lahan. Di Madagaskar, rakyat marah dengan adanya rencana penyewaan jutaan hektar lahan pertanian dengan konsesi 99 tahun, oleh perusahaan Korea Daewoo. Hal ini telah mengakibatkan kejatuhan pemerintahan berkuasa di Madagaskar.
Trend penguasan lahan oleh investasi swasta besar terutama investor asing merupakan salah satu bentuk baru dalam kolonialisme pangan pada saat ini. Hal ini merupakan ancaman bagi kedaulatan pangan negara miskin. Penguasaan lahan tersebut terutama seringkali karena didukung oleh kebijakan negara miskin yang melihat investasi sebagai peluang dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pajak. Negara miskin yang sebagaian penduduknya miskin dan rawan pangan, justru menjadi sasaran investasi perusahaan skala besar asing dalam sektor pangan.

Para petani subsisten di negara miskin, dimana persoalan legalitas penguasaan lahan dan persoalan tenurial masih menjadi permasalahan akan dengan mudah disingkirkan untuk kepetingan investasi asing. Terlebih ketika pemerintah mereka membuka peluang untuk investasi asing dalam penguasaan lahan dalam rangka peningkatan investasi. Jutaan petani miskin dan subsiten akan terancam kehidupan mereka oleh karena tekanan investasi perusahaan swasta besar.

Indonesia adalah salah satu negara produsen beras yang menjadi sasaran investasi swasta asing. Kebijakan pemerintah berkuasa cenderung membuka lebar investasi asing di segala sektor, yang nampak dengan diberlakukannya Undang Undang Penanaman Modal. Dalam UU tersebut nampak jelas bahwa dibuka kemungkinan penguasaan lahan oleh perusahaan skala besar dalam jangka waktu 90 tahun, dan bisa diperpanjang sebelum usai. Liberalisasi sektor penanaman modal di Indonesia merupakan lahan subur bagi perusahaan asing skala besar untuk melakukan investasi di sektor pertanian.
Sektor tanaman pangan yang sepanjang Indonesia Merdeka merupakan sektor strategis untuk ketahanan pangan dan penghidupan jutaan petani kecil, kini menjadi incaran bagi investasi perusahaan asing. Investor dari Saudi Arabia telah menjajaki kemungkinan untuk melakukan investasi di sektor perberasan. Pemerintah yang berpaham pro-investasi asing membuka lebar peluang itu dengan menyiapkan lahan sawah di Indonesia Timur.

Perlu di ketahui bahwa dalam hiruk pikuk politik menjelang pemilihan presiden 2009 ini, pemerintah mempersiapkan peraturan untuk memfasilitasi penguasaan lahan dan investasi perusahaan asing di sektor perberasan. Sebuah mega-sektor yang menguasai hajat hidup mayoritas petani miskin di negeri ini. Rasanya, kedaulatan pangan akan semakin jauh panggang dari api, ketika pemerintah masih merasa bahwa investasi asing di sektor perberasan adalah baik untuk rakyatnya.


Responses

  1. mudah-mudahan rakyat indonesia cepat sadar kembali ke pertanian organik murni lagi seperti dulu….

  2. untuk kembali ke pertanian organik perlu upaya yang tidak ringan tapi harus dilakukan, salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: