Oleh: David Ardhian | April 29, 2009

Masalah Rantai Pasokan Produk Hortikultura

untitled-1Produk hortikultura merupakan kelompok produk pertanian yang memiliki nilai strategis bagi produsen, pelaku pasar dan konsumen di Indonesia. Bagi petani sebagai produsen, produk hortikultura memiliki nilai ekonomi yang relatif lebih tinggi dibanding tanaman pangan, untuk setiap unit luasan produksi. Bagi pelaku pasar, produk hortikultura memiliki kapasitas permintaan yang tinggi, dengan peluang variasi jenis produk yang beragam mulai dari produk segar maupun beragam produk olahan. Sementara itu bagi konsumen, kebutuhan akan produk hortikultura semakin meningkat sejalan dengan peningkatan pengatahuan konsumen akan gizi dan kesadaran hidup sehat.

Pasar produk hortikultura relatif lebih terbuka, dengan segmentasi pasar yang luas. Ditinjau dari segi permintaan, prospek permintaan domestik akan produk hortikultura cenderung meningkat, sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan masyarakat serta berkembangnya pusat kota, industri dan pariwisata. Sementara itu dari segi kualitas permintaan, segmentasi produk hortikultura menjadi semakin beragam sejalan dengan preferensi konsumen yang semakin memahami pengatahuan akan gizi, serta berkembangnya sentra pasar dan perkembangan industri pengolahan produk berbasis hortikultura.

Perubahan lingkungan strategis dalam perekonomiaan secara umum, khususnya sektor pertanian turut mempengaruhi dinamika pasar produk hortikultura. Hal tersebut bisa dilihat dari implikasi liberalisasi perdagangan dan integrasi pasar, yang mendorong pertumbuhan pasar modern menjadi semakin pesat, selain pasar tradisional. Tingkat penetrasi pasar telah sampai ke pelosok pedesaan dan arus lalu lintas produk hortikultura baik antar wilayah dalam negeri maupun ekspor impor menjadi semakin terbuka.

Situasi tersebut mendorong peningkatan perdagangan produk hortikultura, serta meningkatkan kompleksitas peran pelaku pasar dalam rantai pasokan produk hortikultura. Pertumbuhan pasar produk hortikultura tersebut memberikan peluang bagi petani hortikultura untuk meningkatkan akses mereka terhadap pasar. Namun disisi yang lain, situasi pasar yang terbuka membuat tingkat persaingan antar pelaku pasar menjadi semakin tinggi, dimana petani sebagai produsen dalam posisi yang lemah dibanding pelaku pasar yang lain. Untuk itu maka pemahaman mendalam mengenai rantai pasokan, mulai dari pasokan sarana produksi, produksi, pasca panen, pemasaran hingga distribusi ke konsumen menjadi sangat penting, sebagai pertimbangan untuk mengembangkan dukungan bagi petani untuk memperkuat akses pasar mereka.

Pendekatan rantai pasokan (supply/value chain) adalah cara yang tepat untuk memahami aspek pemasaran. Rantai pasokan adalah jejaring organisasi yang saling tergantung dan bekerjasama dalam alur produk, informasi, layanan dan nilai dari mulai produsen sampai ke konsumen akhir. Dalam konteks sektor hortikultura, rantai pasokan merupakan wujud nyata dari kegiatan ekonomi, bisnis dan investasi yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam agribisnis hortikultura. Pendekatan rantai pasokan pada prinsipnya ingin melihat bagaimana para pelaku pasar dalam setiap mata rantai pasokan dan utamanya petani, memperoleh manfaat sesuai dengan pengorbanan yang diberikannya.

Rantai pasokan juga melihat perubahan nilai produk dalam setiap mata rantai oleh karena investasi dari masing masing pelaku, serta kesenjangan yang terjadi dalam atribut produk pada setiap mata rantai pasokan yang berimplikasi pada ketidak seimbangan manfaat yang diperoleh diantara pelaku dalam rantai pasokan. Dalam hal tersebut maka kebijakan dan layanan pemerintah menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa rantai pasokan tersebut berlangsung secara efisien dan adil bagi semua pelaku.

Pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk membenahi rantai pasokan hortikultura adalah memetakan potensi utama yang menjadi andalan dalam suatu kawasan pertanian. Secara umum potensi besar produk hortikultura yang dimiliki suatu wilayah ini belum terkelola secara sistematis dan terpadu. Kedua adalah melakukan analisis terhadap peran pelaku dalam rantai pasokan. Beberapa hal yang sering ditemukan adalah masih terdapat kesenjangan dalam distribusi keuntungan diantara pelaku rantai pasokan dimana petani menjadi pihak yang paling lemah dan memiliki pengorbanan yang tinggi dibanding dengan pelaku lainnya.

Sementara itu potensi pasar lokal yang strategis, masih belum secara optimal mampu menjadi menyerap produk hortikultura oleh karena tingkat persaingan yang tinggi dengan produk hortikultura dari daerah lain, masih rendahnya kualitas dan kuantitas pasokan produk hortikultura lokal serta informasi harga dan pasar masih belum secara transparan sampai ke tingkat petani.

Secara umum beberapa ciri yang melekat pada pengembangan produk hortikultura adalah pengembangan produk kurang terencana, petani mengusahakan suatu tanaman lebih pada informasi harga pada musim-musim sebelumnya, sementara keseimbangan jumlah pasokan dan permintaan belum dapat diantisipasi dengan baik. Akibat lebih lanjut adalah (i) fluktuasi harga antar waktu sangat tinggi (ii) penerapan teknologi lebih didasarkan pada apa yang diinginkan petani, belum melihat apa yang dibutuhkan tanaman, apalagi yang terkait dengan kualitas produk yang diminta pasar (iii) dari aspek kelembagaan, belum dapat diidentifikasi dengan baik faktor pengikat yang dapat mempersatukan petani pada satu wadah yang solid (iv) diversifikasi usaha belum memperhitungkan pembagian resiko, namun lebih pada upaya menjaga stabilitas pendapatan (v) petani selalu berada pada posisi yang kurang diuntungkan dalam hal informasi, terutama informasi harga (vi) belum semua pelaku pasar menikmati keuntungan sesuai dengan pengorbanan yang diberikannya (vii) belum ada insentif di tingkat petani untuk mengembangkan produk sesuai dengan segmentasi pasar.

Berdasarkan gambaran di atas, terlihat bahwa dalam penanganan masalah pemasaran produk hortikultura tidak dapat dilakukan secara parsial, dengan hanya melihat pasar dengan para pelakunya, keterkaitan dengan aspek lain seperti budidaya (teknologi produksi) serta kelembagaan pendukung sangat menentukan keberhasilan dalam memecahkan masalah pemasaran.

Analisis akan kita lakukan berdasarkan pengelompokkan masalah di atas. Dimulai dari yang aspek pasar, salah satu persoalan pokok dari pengembangan produk hortikultura di Indonesia adalah besarnya variasi harga antar waktu, dan itu sangat erat terkait dengan persoalan pasokan dan permintaan produk. Pada umumnya petani hortikultura memutuskan jenis tanaman yang diusahakan berdasarkan situasi harga pada saat keputusan itu dibuat. Hal ini sangat kentara untuk komoditi cabe merah, fluktuasi harganya luar biasa besarnya dan ini sering menjebak petani.

Dengan demikian upaya sederhana dapat dilakukan dalam membantu petani adalah pemerintah bisa membantu dengan memetakan harga produk hortikultura secara series dalam beberapa kurun waktu. Data series mengenai fluktuasi harga tersebut bisa dijadikan pedoman untuk melihat kecederungan pergerakan harga produk hortikultura secara spesifik sehingga diperoleh pola fluktuasi harga untuk masing masing produk hortikultura. Informasi ini juga akan berguna untuk pengambilan keputusan dan perencanaan mengenai pilihan jenis dan luasan dari produk hortikultura yang akan dikembangkan pada waktu tertentu. Prasyarat untuk hal ini adalah akurasi data harga yang dicatat, untuk itu perlu ada suatu mekanisme yang memungkinkan tercatatnya semua pergerakan harga antar waktu. Akan lebih baik data satu lokasi dibandingkan dengan lokasi lainnya, sehingga dapat dilihat perilaku harga untuk skala yang lebih luas.

Selain hal di atas, diversifikasi usaha yang dikembangkan petani perlu lebih diarahkan pada upaya memperkecil resiko terkait dengan persoalan harga ini. Untuk itu pilihan komoditi yang diusahakan dapat dilakukan didasarkan pada perhitungan dan perilaku harga yang ada. Sebagai contoh adalah pola tanam cabe secara monokultur pada satu luasan lahan akan lebih beresiko karena fluktuasi harga cabe yang relatif tinggi, sementara mengkombinasi tanaman cabe sebagai produk utama dengan tanaman bawang daun atau sawi yang cenderung memiliki fluktuasi harga yang relatif stabil akan mampu mengurangi resiko bila produk utama mengalami kejatuhan harga.

Aspek penting selanjutnya adalah masalah kelembagaan petani. Pada petani sayuran, dengan tingginya fluktuasi harga, sebenarnya ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk berkelompok, namun hal ini belum tergarap dengan baik. Asosiasi petani berdasarkan komoditi misalnya harusnya bergerak pada masalah ini. Persoalan pokoknya ada pada trust (kepercayaan), pengalaman selama ini sangat sulit membangun kebersamaan karena kurangnya rasa saling percaya diantara petani dan ini merupakan akumulasi pengalaman sebelumnya dengan berbagai upaya sejenis. Pemerintah dengan berbagai upaya pemberdayaannya justru memperlemah posisi petani, karena kelompok bentukan proyek hanya didasarkan kebutuhan proyek dan kurang dipersiapkan dengan baik, dan setiap proyek cenderung membuat kelompok baru, dan ini membuat kepercayaan masyarakat terhadap kegiatan kelompok menjadi rendah.

Informasi Harga, satu isu yang selalu melekat dengan produk pertanian adalah masalah informasi yang asimetris. Informasi yang asimetris adalah ketidak seimbangan dalam penguasaan informasi dalam rantai pelaku dalam pasar. Ketidakseimbangan penguasaan informasi antar pelaku usaha pertanian terjadi mulai dari kegiatan produksi sampai dengan pelaku pemasaran akhir. Dalam banyak kasus informasi harga di tingkat konsumen tidak ditransmisikan secara cepat pada semua pelaku usaha, sehingga selalu ada yang dirugikan, dan yang terbanyak dirugikan adalah petani pelaku usaha.

Informasi harga yang berlaku dalam rantai pasokan produk hortikultura bersifat asimetris, dimana penurunan harga di tingkat konsumen sangat cepat diinformasikan kepada petani, namun sebaliknya jika terjadi kenaikan harga akan sangat lambat diinformasikan. Diperlukan suatu mekanisme untuk membangun suatu sistem informasi harga yang memungkinkan semua pelaku usaha mendapatkan informasi secara proporsional.

Adanya informasi harga yang lebih transparan akan membuka peluang semua pelaku usaha mendapatkan penghargaan/margin keuntungan sesuai dengan pengorbanan yang diberikannya. Upaya memperpendek rantai tataniaga yang ada harusnya dilihat dalam kerangka bahwa yang penting adalah bukan sekedar memotong rantai namun bagaimana mendistribusikan keuntungan sesuai dengan pengorbanan pelaku.

Selama ini ada salah kaprah bahwa seakan akan pedagang perantara atau pengumpul hanya dilihat dari sisi negatifnya saja namun kurang dipahami peran mereka secara mendalam. Dalam beberapa kasus pedagang pengumpul justru memiliki resiko dan pengorbanan lebih besar terutama dalam aspek distribusi produk menuju wilayah lain. Namun dalam kasus lain para pedagang pengumpul justru punya peranan besar dalam memberikan kepastian bagi petani untuk membeli produk petani.
Dalam situasi rantai pasokan seperti yang diuraikan diatas maka peran pemerintah menjadi sangat penting untuk mendorong agar rantai pasokan berlangsung secara efisien sehingga pelaku pasar dapat secara proporsional mendapatkan keuntungan sesuai dengan pengorbanan yang diberikan.

Rantai pasokan bukan hanya alur produk dan dana semata, namun juga mencakup alur informasi, layanan dan kegiatan. Kesenjangan dalam peran pelaku, penguasaan informasi dan ketidakseimbangan layanan merupakan faktor yang sangat penting dalam pembentukan harga dan keuntungan diantara pelaku dalam rantai pasokan. Ketika petani telah teridentifikasi sebagai pihak yang paling lemah dalam rantai pasokan maka penguatan kelembagaan petani merupakan tugas dari pemerintah.

Berdasarkan hasil temuan penelitian bahwa kebijakan pemerintah masih bertumpu pada aspek produksi, namun masih kurang dalam aspek kelembagaan dan pemasaran. Dalam aspek kelembagaan, perlu penguatan peran asosiasi dan kelompok tani agar mampu mandiri dan tidak tergantung pada proyek pemerintah. Dalam hal pasar, perlu peranan pemerintah dalam penyediaan informasi harga pasar bagi petani sehingga bisa mengurangi resiko petani dalam kejatuhan harga akibat permainan harga.


Responses

  1. sebagai personal yang berada dalam posisi petani disini saya berpikir bahwa kehawatiran saya dalam menghadapi hal ini sering terjadi.. namun apa solusi yang bisa kita hadapi dalam masalah ini yang sangat kecil untuk dipecahkan.petani konvensional seperti sedang bermain lotre yang selalu berada dalam tebakan dan anggan2 keberhasilan disinilah posisi yang harus dipertanyakan!!!!saya rasa ini terjadi diseluruh lapisan petani hortikultur di indonesia pada umumnya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: