Oleh: David Ardhian | Maret 31, 2009

Mengkaji Dampak Pengembangan Biofuel dalam Perspektif Lanskap Pertanian

jarak-pagarSalah satu pedebatan penting dalam pertanian adalah tentang masalah pengembangan biofuel. Isu biofuel menguat seiring dengan berkembangnya isu dan tantangan perubahan iklim dimana penggunaan fosil fuel merupakan salah satu penyumbang emisi dalam pemanasan global. Dalam kerangka tersebut maka pengembangan biofuel dianggap sebagai salah satu upaya untuk mensubstitusi penggunaan fosil fuel. Isu ini menjadi kontroversial ketika masuk ke dalam ranah perdagangan. Investasi pengembangan biofuel menjadi luas oleh karena potensi pasar di negara utara seperti Uni Eropa yang mengembangkan subsidi dan kebijakan untuk meningkatkan penggunaan biofuel untuk kepentingan energi mereka.

Dalam konteks lingkungan hidup isu biofuel tidak kalah hangat. Pengembangan biofuel skala luas akan mengancam kelestarian lingkungan hidup terutama degradasi hutan tropis. Kalangan masyarakat sipil menilai bahwa pengembangan biofuel merupakan ancaman besar bagi kelestarian hutan. Penentangan terhadap biofuel oleh kalangan masyarakat sipil terjadi juga karena aspek penguasaan korporasi dalam investasi biofuel dimana peran perusahaan besar akan semakin menguat dalam perusakan hutan.

Dalam konteks pertanian, perdebatan mengenai pengembangan biofuel lebih kongkret karena menyangkut kompetisi penggunaan lahan antara kepentingan produksi pangan dan energi. Ada kekhawatiran bahwa pengembangan biofuel akan mengancam produksi pangan. Beberapa indikasi terjadi pada saat ini ketika harga produk pangan dunia melonjak secara drastis, dimana salah satu faktor penyebabnya diindikasi karena penggunaan produk pertanian seperti jagung, kedelai dan minyak sawit untuk dikonversi menjadi biofuel.

Untuk lebih mempertajam analisis tentang pengembangan biofuel dan implikasinya bagi pertanian maka perlu pembahasan yang lebih luas dalam kerangka lanskap pertanian. Pembahasan ini akan berguna untuk meletakkan diskusi biofuel pada tingkat yang lebih membumi dan aplikatif sehingga bisa ditemukan pertimbangan praktis yang bisa menjadi dasar untuk mengembangkan atau tidak mengembangkannya.

Biofuel secara luas bisa didefinisikan sebagai bioenergi yakni sumber energi yang diturunkan dari tanaman hidup, hewan atau limbah dari keduanya. Masyarakat telah menggunakan biofuel secara tradisional, seperti kayu bakar, arang kayu, sekam, kotoran sapi dan lain lain untuk pemanasan, memasak dan juga produksi. Namun dalam perkembangannya biofuel kemudian didefinisikan sebagai bioenergi dalam bentuk cairan. Walaupun bahan bakar fosil merupakan tulang punggung dari ekonomi industri di negara maju, namun hampir 70-90% dari semua energi di Afrika dan Asia masih tergantung pada kebutuhan bioenergi terutama kayu bakar. Akan tetapi ketika isu perubahan iklim menguat dan kenaikan harga bahan bakar fosil melambung maka biofuel menjadi penting juga bagi ekonomi industri di negara maju.

Diskusi dan perdebatan tentang biofuel selama ini lebih berfokus pada produksi skala besar dan komersial untuk menyokong pasar global dalam bentuk bioetanol dan biodisel untuk industri dan transportasi. Namun dalam keberlanjutan dalam jangka panjang serta dimensi sosial didalamnya, biofuel tidak harus diletakkan dalam konteks substitusi bahan bakar fosil semata. Dua juta masyarakat miskin yang memiliki keterbatasan akses terhadap energi untuk kebutuhan dasar dan keberadaan bioenergi seperti kayu bakar telah mampu menyediakan peluang untuk mengurangi kemiskinan energi dan berkontribusi bagi pembangunan pedesaan.

Analisis terhadap dampak lingkungan dan penghidupan masyarakat dari pengembangan biofuel sering diletakkan dalam konteks makro pada tataran global dan nasional. Analisis global memang penting, namun investasi dan keputusan manajemen seringkali terjadi pada tingkat lanskap pertanian. Dampak dari praktek pertanian dalam menghasilkan layanan ekosistem dan penghidupan juga akan nampak jelas jika dievaluasi pada tingkat lanskap pertanian. Oleh karenanya pertanyaan mengenadi dimana dan bagaimana memproduksi biofuel akan sangat jelas jika diletakkan dalam perspektif skala lanskap pertanian.

Pada tingkat lanskap produksi biofuel haruslah konsisten dengan tiga prinsip utama : (i) konservasi keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem (ii) produksi pertanian secara berkelanjutan (iii) sejalan dengan kepentingan penghidupan dari masyarakat lokal. Pertanian ekologis adalah pendekatan partisipatif pada skala lanskap yang secara simultan dilakukan untuk menerapkan tiga prinsip utama diatas.

Dalam konteks pertanian ekologis maka adalah sangat penting untuk mempertimbangkan spektrum dari pilihan produksi dan pengolahan biofuel, yang bisa dikategorikan sebagai berikut : (i) produksi skala kecil untuk konsumsi lokal (ii) produksi skala kecil untuk komersial (iii) produksi skala menengah dan besar untuk skala komersial. Kategori spektrum produksi ini memiliki perbedaan dalam tujuan dan orientasi sehingga memiliki implikasi yang berbeda bagi penghidupan masyarakat.

Pada produksi biofuel skala kecil untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi lokal maka penggunaan biofuel adalah sejalan dengan kebutuhan masyarakat lokal akan energi. Untuk itu penggunaan sumber bahan baku biofuel umumnya ditanam untuk melengkapi tanaman pangan dan konservasi dan tidak berkompetisi dalam skala lanskap. Misalnya tanaman tahunan yang ditanam dalam lanskap pertanian akan menambah keragaman tanaman dan meningkatkan kualitas habitat tanpa merubah tanaman untuk produksi pangan. Tanaman untuk kebutuhan energi akan membantu merestorasi lahan lahan gundul, sebagai tanaman pelindung sekaligus koridor bagi satwa liar. Tanaman untuk kebutuhan energi akan mengurangi tekanan bagi pengambilan kayu di hutan alami sehingga mengurangi ancaman deforestasi. Sistem ini telah terbukti mampu memenuhi kebutuhan energi mayoritas masyarakat miskin di pedesaan.

Pada produksi biofuel skala kecil untuk tujuan komersialisasi, petani kecil secara kolektif menanam tanaman bahan baku biofuel untuk dijual pada industri komersial. Produksi biofuel dikembangkan untuk pasar eksternal. Dalam sistem ini masyarakat memiliki peluang untuk mendapatkan diversifikasi pendapatan dari pengembangan tanaman campuran ; tanaman sumber energi dan tanaman pangan. Namun demikian ada potensi bahwa petani akan mengikuti standart dan panduan produksi dari industri komersial pengolahan biofuel yang akan berpengaruh pada homogenisasi tanaman pada skala lanskap pertanian. Dalam konteks ini akan terjadi perubahan lanskap yang mengakibatkan penurunan keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan dari masyarakat. Permasalahan bargaining position seringkali terjadi terutama manyangkut harga yang fair yang diterima petani, serta tekanan untuk melakukan monokulturisasi.

Pada skal produksi menengah dan besar, tanaman bahan baku biofuel dikembangkan dalam skala luas melalui sistem pertanian intensif untuk menghasilkan output dan profit yang tinggi. Sistem pertanian ini biasanya monokultur yang mengurangi mendegradasi keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem. Sistem pertanian monokultur akan berdampak pada penurunan kesuburan tanah dan pencemaran bagi agroekosistem oleh penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Hal ini menjadi potesi untuk perubahan lanskap pertanian bahkan perubahan ekosistem hutan alami seperti yang terjadi pada pengembangan tanaman kedeleai skala luas di Amazon dan perkebunan sawit di Indonesia. Skala ini juga berpotensi untuk memarginalisasi produsen skala kecil serta kehidupan masyarakat lokal akibat tekanan perubahan lanskap pertanian dan hutan.

Perkembangan biofuel secara luas seperti yang terjadi pada tahun tahun terakhir ini sebagaian besar didorong oleh persepsi bahwa biofuel adalah bahan bakar ramah lingkungan yang pasti baik untuk masyarakat secara umum. Kita diharuskan percaya bahwa pengembangan biofuel memiliki visi lingkungan dalam rangka mengurangi emisi bahan bakar fosil, sehingga perubahan lanskap harus diterima sebagai konsekwensinya.

Pandangan ini tidak sepenuhnya benar bahkan bisa mengandung salah pengertian jika kita tidak mempertimbangkan desain produksi pada skala lanskap. Untuk itu dibawah ini beberapa pertimbangan untuk pengembangan biofuel dalam perspektif lanskap pertanian : (i) spesies dan lokasi tanaman untuk biofuel harus dipilih sehingga sejalan dengan upaya meningkatkan keragaman tanaman secara spasial (ii) tanaman biofuel harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga ketersambungan antara dua habitat yang berbeda bisa dipelihara dan diperbaiki. (iii) Biofuel harus ditanam pada lahan yang tidak digunakan untuk kepentingan produksi pangan dan hutan konservasi, sehingga lahan lahan marginal tersebut bisa diperbaiki dengan penanaman tanaman biofuel. (iv) pada lanskap yang telah ditanami oleh tanaman produktif untuk tanaman pangan dan tanaman konservasi maka biofuel bisa dikembangkan dari limbah tanaman, atau beberapa relung tanah yang marginal dalam lanskap. (v) spesies tanaman untuk biofuel harus mampu beradaptasi dengan kondisi lokal dan dapat tumbuh dengan baik dengan input luar yang rendah (vi) prioritas utama untuk tanaman biofuel adalah tanaman perenial dan tanaman campuran sehingga meningkatkan keragaman tanaman pada habitat serta meminimalkan resiko ledakan hama dan penyakit oleh monokulturisasi.

Dengan pemahaman dalam perspektif lanskap maka pertanyaan akan ya atau tidak mengenai pengembangan biofuel bisa dijawab dengan beberapa panduan tersebut diatas. Dalam konteks pertanian ekologis maka pendekatan lanskap menjadi kunci utama dalam menyeimbangkan antara kepentingan produksi dan konservasi dengan menekankan pada praktek pendekatan ekologis untuk keberlanjutan.

Pengembangan biofuel dalam skala kecil untuk kepentingan konsumsi lokal dalam kerangka pendekatan pertanian ekologis menjadi pilihan untuk tujuan pelestarian lingkungan sekaligus pemenuhan akan kemiskinan energi bagi masyarakat miskin di pedesaan. Pengembangan biofuel skala kecil berorientasi kerakyatan serta berbasis pada sumberdaya lokal, seharusnya justru menjadi agenda utama dalam pengembangan kebijakan energi. Sementara itu pangembangan biofuel skala kecil dengan orientasi komersial, dalam prakteknya patut mempertimbangkan aspek dampak terhadap perubahan lanskap pertanian terutama pada keanekaragaman hayati dan fungsi layanan ekosistem sehingga perlu panduan teknis dalam manajemen produksi secara berkelanjutan dalam skala lanskap. Untuk pengembangan biofuel dalam skala menengah dan besar, maka penetapan kriteria dan standar yang ketat perlu dikembangkan pemerintah beserta perangkat pengawasan terhadap dampak lingkungan yang terukur. Dalam konteks Indonesia, pengembangan biofuel secara besar lebih banyak merugikan, karena akan memiliki dampak besar terhadap lingkungan, kompetisi lahan untuk pangan serta hanya akan membuka peluang penguasaan korporasi terhadap penyediaan energi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: