Oleh: David Ardhian | Maret 4, 2009

Klaim Swasembada Pangan dalam Iklan Parpol

dscn4285Salah satu iklan partai politik di media televisi menyatakan bahwa surplus beras pada tahun lalu diklaim sebagai ”swasembada pangan”. Dalam konteks politik hal tersebut adalah sah saja, apalagi maksud dibalik iklan tersebut adalah menonjolkan ”kesuksesan” sosok menteri pertanian yang menjadi kader partai bersangkutan. Namun seharusnya partai politik lebih cermat dalam mengangkat isu sebagai komoditas iklan politik. Menyamakan surplus beras sama dengan swasembada beras, apalagi menyatakan swasembada beras identik dengan swasembada pangan adalah sebuah kekeliruan fatal.

Pertarungan politik menjelang Pemilu 2009, adalah pertarungan gagasan untuk menyelesaikan memperbaiki kehidupan rakyat pada lima tahun mendatang. Pertanian adalah mega sektor yang menyokong ketahanan pangan nasional, menyerap tenaga kerja secara ekstensif dan generator bagi pembangunan pedesaan. Dalam situasi keterpurukan kehidupan petani sampai saat ini, yang diperlukan adalah tawaran parpol akan instrumen kebijakan dan program yang mampu mengangkat kehidupan petani dari kemiskinan.

Iklan partai politik untuk isu pertanian masih berisi komitmen tanpa instrumen, klaim keberhasilan atau sebaliknya deskripsi fakta kegagalan sebagai alat saling serang antar parpol berkuasa dan oposisi. Celakanya, sosok menteri pertanian dijadikan sebagai ”icon” keberhasilan dalam kampanye salah satu parpol, yang secara ironis menggunakan justifikasi yang keliru akan swasembada pangan.

Jika dikupas lebih mendalam surplus beras yang diklaim sebagai sebuah kesuksesan adalah kombinasi dari kontribusi iklim dan pengorbanan luar biasa petani padi. Tidak hanya Indonesia, hampir seluruh negara produsen padi di Asia mengalami kenaikan produksi yang signifikan pada tahun yang lalu karena iklim yang akrab dengan pertumbuhan padi. Sementara itu ”swasembada beras” yang dibanggakan ternyata diperoleh dari tekanan peningkatan biaya produksi petani padi akibat kenaikan harga BBM pada tahun yang sama.

Orientasi kebijakan pertanian yang terlampau mengandalkan peningkatan produksi beras untuk pemenuhan pangan pokok adalah sama dan sebangun dengan pola kebijakan pada pemerintah dari rezim rezim sebelumnya. Hal tersebut sekaligus memperjelas kegagalan dalam mengatasi persoalan fundamental dalam hal diversifikasi pangan. Swasembada pangan disebut berhasil jika terjadi diversifikasi konsumsi pangan. Menempatkan beras sebagai komoditas politik merupakan akar permasalahan pertanian selama ini, dimana angka produksi beras harus selalu ”naik” dan harga pada konsumen harus selalu ”murah”. Hal ini sama sekali tidak menguntungkan petani padi untuk meningkatkan kesejahteraannya, karena petani padi hanya dijadikan mesin produksi pangan pokok atas nama kesuksesan progam pembangunan rezim berkuasa.

Sebagai negara kaya akan sumber karbohidrat, Indonesia berpeluang untuk melakukan diversifikasi konsumsi karbohidrat selain beras. Pengembangan diversifikasi pangan akan mendorong tumbuhnya industri pengolahan pada pedesaan, menyerap lapangan kerja dan memperbaiki asupan gizi dari konsumsi pangan yang beragam. Diversifikasi pangan akan mengurangi ketergantungan konsumsi beras dan ”membantu” pencapaian swasembada beras tanpa harus meningkatkan produksinya. Jika hal tersebut tercapai maka pantaslah kebanggaan swasembada pangan didengungkan.

Pada sisa waktu kampanye, parpol seharusnya masuk dalam peta pertarungan gagasan yang substansial dan menyentuh isu fundamental dalam pembangunan pertanian. Misalnya, program terkait dengan reforma agraria, bentuk subsidi pertanian, cara mengatasi serbuan produk pangan impor termasuk program diversifikasi pangan seperti apa yang akan dijalankan untuk mencapai swasembada pangan. Sungguh ironis, jika sektor yang menyangkut kehidupan jutaan rakyat hanya dijadikan ajang obral janji kosong, apalagi dengan kekeliruan dalam mendefinisikan swasembada pangan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: