Oleh: David Ardhian | Maret 4, 2009

Banjir di Lumbung Padi

dscn4417Musim hujan dengan intensitas tinggi pada awal tahun ini memberikan dampak serius bagi petani padi di Pantura. Berbagai media massa memberitakan terjadinya banjir pada sawah sawah di lumbung padi tersebut. Petani terpaksa menanam 2-3 kali, karena persemaian mereka terendam air. Situasi banjir mengakibatkan kemunduran tanam sampai 1-3 bulan, dan mengancam ketersediaan stok beras pada beberapa bulan mendatang, di negeri yang baru mengklaim keberhasilan swasembada beras ini.

Kejadian seperti ini bukanlah hal yang pertama kali terjadi, bahkan sudah menjadi seperti siklus tahunan. Namun pemerintah belum melakukan suatu terobosan mendasar untuk mengatasi masalah tersebut, dan menganggap bisa diatasi dengan sekedar memberikan bantuan benih padi untuk mengganti benih yang kebanjiran. Beberapa respon pemerintah sangat menyakitkan, seperti pernyataan bahwa banjir tidak mengganggu produksi atau stok beras nasional. Seolah olah penderitaan petani karena kebanjiran ini, tidak ada artinya asal produksi beras nasional tidak terganggu.

Pertanian adalah aktivitas budidaya yang sangat tergantung pada situasi iklim. Situasi ekstrem seperti banjir memberikan implikasi serius terhadap kerentanan terhadap penghidupan petani secara luas. Banjir tidak hanya merusak padi yang sedang ditanam, namun telah mengakibatkan tekanan terhadap sosial ekonomi petani padi. Di Karawang, kemunduran tanam mengakibatkan kesulitan hidup luar biasa bagi buruh tani. Buruh tani kehilangan kesempatan kerja karena belum adanya kegiatan olah tanah dan tanam yang selama ini menjadi gantungan pendapatan mereka.

Kemunduran tanam mengakibatkan waktu menunggu panen menjadi lebih panjang. Hal ini membuat petani kecil dan buruh tani kekurangan stok beras untuk menyambung makan sampai panen berikutnya. Biaya yang seharusnya untuk tanam, digunakan untuk menutup biaya hidup sehari hari. Untuk memulai tanam lagi menjadi tidak pasti karena sudah tidak memiliki dana lagi.

Situasi hujan juga mengakibatkan alternatif sumber pendapatan menjadi terbatas. Satu satunya cara cepat dalam mengatasi kesulitan hidup adalah dengan menghutang atau menjual aset mereka. Sementara itu tidak ada sistem keuangan formal di pedesaan yang membantu akses petani untuk memperoleh hutangan dengan mudah dan murah, yang ada di Pantura adalah sistem renternir yang disebut ”uang monyet”, meminjam uang dengan bunga yang mencekik. Dengan demikian implikasi banjir adalah masalah sosial ekonomi yang sangat serius.

Sungguh mengkhawatirkan jika masalah banjir hanya direduksi menjadi masalah penggantian benih padi seperti respon pemerintah saat ini, tanpa melihat implikasinya pada kerentanan penghidupan secara luas. Jika melihat intensitasnya, banjir bukan lagi kerentanan yang bersifat kasuistik, namun menjadi kejadian musiman yang dihadapi petani. Desain kerangka adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi kebutuhan yang berdimensi jangka panjang. Membangun kelembagaan adaptasi pada tingkat lokal, desentralisasi informasi iklim, memperbaiki kerusakan irigasi, diversifikasi usaha ekonomi dan penyesuaian sistem budidaya padi yang selaras dengan perubahan iklim adalah agenda mendasar yang perlu dilakukan untuk mengatasi kerentanan.

Wilayah Pantura adalah lumbung padi yang menyokong ketahanan pangan nasional, yang selama ini diklaim sebagai penyumbang terbesar bagi swasembada beras. Tekanan yang dihadapi petani di wilayah ini adalah persoalan besar bagi ketahanan pangan nasional. Sangat ironis, jika pemerintah mengklaim swasembada beras namun dicapai diatas penderitaan petani padi yang cenderung dibiarkan melakukan acrobatic social survival dalam menghadapi kerentanan tanpa dukungan berarti.


Responses

  1. Ya, di tempatku (Pati-Timur) hanya punya 2 musim: Musim Banjir dan Musim Kekeringan. Kasian para petani…

    Salam kenal,
    Your Planet Needs You – UNite to Combat Climate Change
    >> http://alamendah.wordpress.com/2009/05/31/hari-lingkungan-hidup-sedunia-2009/

  2. Pantura lumbung padi namun juga rentan banjir, terjadi berulang ulang setiap tahun tapi tidak pernah selesai. Harus ada upaya lebih mendasar dengan melibatkan petani.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: