Oleh: David Ardhian | Februari 18, 2009

Wawancara : Napiudin (Fasilitator Pertanian Ekologis, Yayasan Nastari

TANTANGAN PENGEMBANGAN PERTANIAN EKOLOGIS

dinPerkembangan pertanian ekologis atau bentuk pertanian yang ramah terhadap lingkungan, tidak lepas dari peran organisasi non pemerintah seperti LSM. Ujung tombak dari gerakan LSM dalam pengembangan pertanian ekologis adalah fasilitator lapangan. Wawancara kali ini dilakukan dengan seorang fasilitator lapangan dengan pengalaman luas, yang telah mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk belajar bersama petani. Beliau adalah Napiudin, seorang sahabat baik di Yayasan Nastari, fasilitator dan trainer untuk pengembangan pendekatan pertanian ekologis. Bagaimana pandangan praktisi dan fasilitator lapangan pertanian ekologis, tentang tantangan pengembangan pertanian ekologis ditengah dinamika kebijakan dan pasar seperti saat ini, menarik untuk disimak. Berikut petikan wawancara pada tanggal 16 Pebruari 2009 antara David Ardhian (DVD) dan Napiudin (DIN) mengenai dinamika perkembangan pertanian ekologis.

DVD : Sebagai fasilitator lapangan yang menghabiskan sebagian besar waktu bersama petani, bagaimana anda melihat perkembangan pertanian ekologis sejauh ini ?
DIN : Dilihat dari peningkatan dalam praktek memang cenderung meningkat, terutama mulai banyak kader kader petani yang menerapkan. Namun dilihat dari penyebarluasan masih lambat.

DVD : Apa yang menyebabkan perkembangan di lapangan sangat lambat ?
DIN : Petani kita sudah menganut budaya praktis, maunya yang mudah dan tidak repot. Selain itu mereka cenderung menginginkan hasil jangka pendek yang kelihatan hasilnya. Walaupun sudah ada contoh kader petani yang sukses dalam praktek, tidak serta merta sebagian besar petani mencontoh hal tersebut.

DVD : Mengapa bisa terjadi, padahal salah satu argumen pertanian ekologis adalah mampu mengurangi biaya produksi dengan pengurangan belanja input luar seperti pupuk dan pestisida kimia?
DIN : Sepertinya petani lebih mempertimbangkan kepraktisan dan hasil yang cepat, bukan dari biaya yang dikeluarkan. Demi hal tersebut, petani bahkan rela menghutang untuk menutupi biaya produksi. Petani sebenarnya tahu bahwa pertanian ekologis bermanfaat, namun ketika masuk dalam praktek mereka tidak mau mengambil resiko.
Faktor lain adalah kekalahan pertarungan di lapangan antara pertanian ekologis dan pertanian konvensional. Pertanian ekologis banyak dikembangkan dengan gerakan sosial, sementara pertanian konvensional sangat erat dengan bisnis sarana produksi.

DVD : Kekalahan pertarungan ini jangan jangan karena pertanian ekologis kurang rasional di mata petani ?
DIN : Memang benar, yang harus dikembangkan adalah pertanian yang rasional karena pendekatan pertanian ekologis bisa tidak rasional. Misalnya : melatih petani dalam pembuatan pupuk organik namun bahan baku tidak tersedia di lapangan. Selain itu dalam metodologi, pendekatan pengembangan lebih banyak investasi pada individu dan belum banyak yang mengembangkan pada skala kawasan

DVD : Artinya dari sisi metodologi dan pendekatan penyebarluasan pertanian ekologis juga perlu banyak perbaikan ?
DIN : Iya benar, dari sisi teknologi mesti diperlukan cara cara yang lebih inovatif dan cepat dalam menghasilkan komponen produksi seperti pengomposan. Namun hal ini tidak mudah karena dari sisi masyarakat tani sudah terkungkung dalam budaya praktis yang melekat, jadi memang tidak bisa perubahan dalam waktu yang cepat.

DVD : Apakah ini ada kaitannya dengan lemahnya dukungan pemerintah terhadap pengembangan pertanian ekologis ?
DIN : Pemerintah sudah mulai ada kebijakan dan program yang mengarah ke pertanian ekologis. Namun masih lemah, karena pada saat yang sama, terjadi di lapangan adalah kekuatan bisnis sarana produksi sangat kuat. Kekuatan modal dan bisnis sarana produksi ini mampu memanfaatkan jalur birokrasi pemerintah dan langsung ke petani petani karena adanya biaya promosi yang kuat. Kekuatan bisnis ini mendominasi dan membantuk pengetahuan dan budaya petani, sehingga program pemerintah kurang mampu memberikan dampak perubahan menuju pertanian ekologis

DVD : Dari segi teknis, sebenarnya berapa lama penerapan pertanian ekologis mampu meningkatkan produksi sehingga setara dengan pertanian konvensional ?
DIN : tergantung dari lokasi dan kualitas lahan sawah. Pengalaman saya di Cibatok, Bogor hanya memerlukan 2 musim untuk menyamai tingkat produksi padi setara dengan pertanian konvensional. Di daerah intensif seperti Subang, membutuhkan 6 musim untuk meraih tingkat produksi yang setara, di Garut memerlukan waktu 3 musim. Yang tidak dihitung oleh petani adalah ketika tanah sudah pulih maka kebutuhan pupuk juga akan menurun, seperti di Garut bisa berhenti memupuk 1 musim untuk lahan sawah yang menerapkan pertanian ekologis.

DVD : Dengan situasi masalah yang ada, strategi apa yang bisa dikembangkan pada masa yang akan datang ?
DIN : Petani tidak akan mau meniru jika tidak ada bukti, jadi metode percobaan lapang dengan demplot masih menjadi dasar bagi pengembangan pertanian ekologis. Namun perlu pengembangan sebaran demplot dalam skala komunitas yang diperluas. Metodologi percobaan seperti pengulangan juga harus lebih dilakukan, sehingga sampai petani benar benar yakin akan signifikansi dampaknya. Pemerintah setempat juga perlu dilibatkan agar bisa memberikan dukungan dalam penyebarluasannya.

DVD : Saat ini marak berkembang ide bahwa salah satu cara untuk memperluas pertanian ekologis adalah dengan memberikan insentif harga, sehingga dengan harga premium maka ada motivasi petani untuk menerapkannya. Setujukah dengan pendekatan ini ?
DIN : Saya tidak setuju

DVD : Mengapa tidak setuju, bukankah itu untuk meningkatkan motivasi petani ?
DIN: Betul tapi motivasi yang keliru, karena jika demikian maka hanya orang kaya yang bisa memperoleh produk organik yang sehat. Sehat adalah hak semua orang bisa menikmati. Selain itu motivasi jika produk organik harga tinggi, akan menurunkan motivasi petani jika harga tersebut tidak terpenuhi. Jadi jika petani sadar jika pertanian organik atau ekologis mampu menurunkan biaya produksi maka dengan harga yang terjangkau konsumen kelas bawah pun seharusnya petani sudah untung.

DVD : Pemikiran anda tersebut berlawanan dengan situasi sekarang dimana produk organik makin marak dan dihargai dengan harga tingi. Bisa jadi pemikiran anda tidak rasional untuk situasi sekarang ?
DIN : Iya jika ditinjau dari aspek ekonomi, karena insentif harga hal yang sangat rasional. Namun kita harus berpikir soal keadilan, dimana produk organik harus bisa dinikmati oleh orang miskin. Kalau terus seperti sekarang, maka hanya orang kaya saja yang bisa sehat sementara orang miskin mendapatkan produk yang tidak sehat, termasuk petani sendiri. Pertanian ekologis itu juga harus menyehatkan petani, menyehatkan lingkungan dan konsumen tanpa terkecuali.

DVD : Sekarang malah terbuka peluang ekspor beras premium termasuk beras organik sehingga peluang untuk petani mendapatkan insentif semakin besar. Apakah anda tidak melihat hal ini ?
DIN : apalagi kalau ekspor, makin jelas bahwa yang bisa sehat adalah orang luar, sementara orang miskin akan tetap tidak punya akses terhadap produk sehat. Iming iming harga tinggi akan membuat petani menerapkan pertanian ekologis hanya karena ingin mendapatkan uang, tanpa mempertimbangkan aspek keadilan sesama. Saya sangat jarang melihat sebuah program pengembangan pertanian ekologis untuk melayani orang miskin supaya sehat.

DVD: Ditengah situasi sekarang dimana pasar berkuasa, ide anda membutuhkan kekuatan besar, hanya peran negara yang kuat untuk mewujudkan ide anda ?
DIN : Saya rasa memang harus demikian, karena berbagai program ada persoalan di implementasinya. Harus ada kebijakan yang kuat dalam mendorong pertanian ekologis, tanpa itu akan sulit. Kalau hanya produk organik diserahkan ke pasar maka hanya orang kaya saja yang menikmati.

DVD : Pada masa yang akan datang dengan krisis pangan dan perubahan iklim apakah pertanian ekologis bisa menjawab tantangan tersebut ?
DIN : Pertanian ekologis bisa menjadi pilihan, karena beberapa teknik bisa mengatasi masalah yang ada. Seperti dampak kekurangan air maka ada sistem pertanian padi SRI, dimana lebih menekankan pengaturan air. Air untuk padi tidak harus tergenang, namun digunakan seoptimal mungkin sesuai dengan kebutuhan tanaman. Dikombinasikan dengan teknologi kompos, sehingga mampu memperbaiki struktur tanah untuk menyimpan air sehingga kebutuhan air bisa dihemat. Teknik ini juga mampu mempermudah pertumbuhan perakaran padi dalam menyerap unsur hara tanah. Dari sisi pengendalian hama dan penyakit, berbagai teknik pengendalian hayati sudah banyak diterapkan. Dengan mengurangi input luar maka petani bisa semakin mampu mengurangi pemborosan biaya sekaligus memperbaiki lingkungan.

DVD : Apakah yang menjadi mimpi anda, suatu kondisi dimana anda merasa bahwa terjadi keberhasilan.
DIN : Saya akan senang ketika pertanian ekologis menghasilkan produk sehat untuk orang orang miskin. Pertanian ekologis yang mampu memberikan sehat kepada petani, lingkungan dan orang yang miskin. Karena justru ini yang menjadi penting, karena dengan makanan sehat maka sumberdaya manusia Indonesia akan lebih baik.

DVD : apakah anda yakin hal itu terjadi ?
DIN : Dalam waktu dekat belum akan terjadi, namun arah kesana sudah mulai ada jalan. Dalam waktu 10 tahun mendatang pun belum tentu terjadi, karenanya diperlukan kader kader untuk meneruskan mengembangkan prinsip pertanian ekologis. Memerlukan kerja keras dan kesinambungan gerakan untuk hal tersebut. Dukungan kebijakan adalah sangat penting dalam hal ini


Responses

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
    NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) hingga sekarang.
    Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an. Capaian produksi padi saat itu bisa 6 — 8 ton/hektar.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin rusak, semakin keras dan menjadi tidak subur lagi.
    Sawah-sawah kita sejak 1990 hingga sekarang telah mengalami penurunan produksi yang sangat luar biasa dan hasil akhir yang tercatat rata-rata nasional hanya tinggal 3, 8 ton/hektar (statistik nasional 2010).

    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahun yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik.
    SRI sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.

    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini.
    Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Kami tawarkan solusi yang lebih praktis yang perlu dipertimbangkan dan sangat mungkin untuk dapat diterima oleh masyarakat petani kita untuk dicoba, yaitu:

    “BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO / AVRON / NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS (EM16+), DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO”, hasilnya lebih baik, bisa meningkat 1 — 4 kali disbanding pola bertani biasa.

    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 100% — 400% dibanding pola tanam konvensional seperti sekarang.

    PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON/NASA merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah dengan kandungan asam amino paling tinggi yang penggunaannya sangat mudah,
    sedangkan EM16+ merupakan cairan bakteri fermentasi generasi terakhir dari effective microorganism yang sudah sangat dikenal sebagai alat composer terbaik yang mampu mempercepat proses pengomposan dan mampu menyuburkan tanaman dan meremajakan/merehabilitasi tanah rusak akibat penggunan pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali,
    sementara itu yang dimaksud sistem jajar legowo adalah sistem penanaman padi yang diselang legowo/alur/selokan, bisa 2 padi selang 1 legowo atau 4 padi selang 1 legowo dan yang paling penting dalam tani pola gabungan ini adalah relative lebih murah.

    CATATAN:
    1. Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu ANDA MENJADI AGEN SOSIAL penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
    2. Cara bertani organik tidak saja hanya untuk budidaya tanaman padi sawah, tetapi bisa juga untuk berbagai produk-produk Agro Bisnis yang meliputi pertanian (padi, palawija, buah dan sayuran), perkebunan, perikanan, dan peternakan.

    Hasil panen setelah menggunakan Pupuk Ajaib SO
    Kesaksian untuk tanaman pertanian tanpa pestisida kimia, dan perangsang tumbuh tambahan lainnya :
    * Cabe Organik bias mencapai 6 kg/pohon, dan umur tanaman bisa sampai 3 tahun.
    * Padi Organik bias mencapai rata-rata 16—24 ton / hektar.
    * Bawang Merah Organik bisa mencapai diatas 24–36 ton / hektar
    * Jamur Tiram Organik bisa meningkat 300 % dari biasanya, dan bebas ulat !
    * Bawang Daun Organik bisa mencapai rata-rata 1 kg/batang
    * Kol Organik bisa mencapai rata-rata 5-8 kg/pohon
    * Sawit yg sudah tidak produktif bisa kembali lagi produktif, sedangkan yg diberi pupuk
    kimia tidak ada perubahan
    Kesaksian untuk hewan dan ikan tanpa vaksin, antibiotik, dan vitamin lainnya :
    * Nila 3cm dirawat 2 minggu bisa sebesar umur 2 bulan padahal pakannya hanya
    ampas tahu & bekatul.
    * Bebek afkir yang biasanya telurnya hanya 10% bisa meningkat jadi 50% lebih.
    * Sapi beratnya meningkat di atas 1,5 kg/hari padahal pakannya hanya daun-
    daunan saja.
    * Broiler bisa panen pada hari ke 28-29 berat 1,5-1,7 kg
    * Pembibitan lele angka kematian bisa sampai pada 0%
    * Budidaya belut bibit 3 bulan bisa mencapai berat rata-rata 500 gram/ ekor
    * Lele 5—7 cm bisa panen dalam waktu 29 hari

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.

    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?

    Anda siap menjadi donatur bagi pekerja sosial agen penyebaran informasi, atau Anda sendiri merangkap sebagai pekerja sosial agen penyebaran informasi itu dilokasi sekitar anda berada, atau pada wilayah yang lebih luas lagi diseluruh Indonesia?

    Ditunggu komentarnya di omyosa@gmail.com, atau di 02137878827, 081310104072, atau bisa juga komentar langsung di http://frigiddanlemahsahwat.blogspot.com/2011/07/pertanian-pembangunan-pertanian.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: