Oleh: David Ardhian | Februari 18, 2009

WAWANCARA : Mulyadi Kamad (Fasilitator Pendidikan Lingkungan)

PENGUATAN KELEMBAGAAN KUNCI PENGUATAN PENGHIDUPAN MASYARAKAT

mulMulyadi Kamad adalah seorang yang unik. Dididik menjadi seorang ahli konservasi hutan, berpengalaman sebagai praktisi pendidikan lingkungan kemudian terjun dalam pengembangan penghidupan masyarakat desa. Perjalanan pengalaman lapangan dalam dalam isu konservasi, pendidikan dan fasilitasi pemberdayaan masyarakat membuat beliau mampu mengamati problem penghidupan masyarakat dalam kaca mata kelestarian sumberdaya. Diskusi dengan Mulyadi seperti melintasi batas batas ego-sektoral yang menjadi persoalan serius, karena berbagai program tidak berdampak signifikan ketika dilakukan secara parsial ditengah permasalahan masyarakat desa yang semakin kompleks. Diskusi antara David Ardhian (DVD) dengan Mulyadi Kamad (MUL) yang aktif lembaga Koridor Institute dan BCI, menarik disimak karena berisi refleksi atas situasi masyarakat desa hutan, program pembangunan serta gagasan Mulyadi akan model pendekatan penguatan kelembagaan masyarakat dalam memperkuat kelangsungan penghidupan.

DVD : Anda telah menghabiskan banyak waktu bersama masyarakat desa sekitar hutan, bisakah anda gambarkan bagaimana situasi penghidupan masyarakat desa saat ini ?
MUL : Jika melihat penghidupan masyarakat desa, sebenarnya saat ini sudah dalam kondisi terjepit terutama terkait dengan akses terhadap sumberdaya alam. Lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan semakin sulit untuk diakses, karena penguasaan negara, pengusaha dan pihak diluar masyarakat lokal. Air sebagai kebutuhan dasar saat ini menjadi sulit karena kerusakan hutan. Secara sosial, masyarakat semakin kesulitan untuk mengkombinasikan antara usaha pemanfaatan sumberdaya alam dengan pelestarian sumberdaya alam itu sendiri.

DVD : Mengapa terjadi demikian ?
MUL : Tekanan modernisasi membuat perubahan budaya dalam masyarakat, sehingga terjadi degradasi nilai nilai lokal seperti yang ada pada masyarakat tradisional. Pembangunan telah merubah kehidupan masyarakat menjadi semakin jauh dari nilai nilai lokal yang selaras dengan kelestarian alam.

DVD : Bisakah anda berikan satu kasus yang menjelaskan hal tersebut ?
MUL : Saya melihat masalah energi di pedesaan menjadi hal yang serius. Masyarakat desa hutan pada umumnya menggunakan kayu bakar untuk sumber energi, dan kebutuhan itu sudah mencapai taraf yang menurut saya sudah diatas kemampuan hutan untuk menyediakannya. Namun kan tidak bisa kebiasaan ini kemudian dihapuskan begitu saja, namun harus ada cara untuk menyediakan kayu bakar tanpa merusak hutan. Misalnya dengan mengembangkan persediaan stok biomassa untuk kebutuhan energi, bisa pada lahan masyarakat atau lahan umum seperti tanah desa. Inovasi juga perlu dilakukan seperti pengembangan alternatif sumber energi dari kayu bulat menjadi serbuk, pemanfaatan sekam atau yang banyak berkembang adalah biogas.

DVD : Itu salah satu contoh program, dari sekian banyak program untuk masyarakat desa hutan. Saya melihat mengapa banyak program berhenti seumur proyek walaupun dengan tema tema indah seperti yang anda jelaskan ?
MUL : memang sudah banyak program, namun kerangkanya adalah proyek sehingga partisipasi masyarakat tidak substansial dalam kerangka skema proyek dari atas. Masyarakat harus didampingi dan diberikan kepercayaan untuk mengembangkan agendanya sendiri.

DVD : Bagaiman prakteknya melakukan hal tersebut ?
MUL : Saya melihat kuncinya ada pada penguatan kelembagaan masyarakat. Berbagai program melompat ke hal teknis tanpa memperdalam penguatan lembaga masyarakat. Sehingga selama ini program kepada masyarakat desa adalah intervensi modal dan teknologi namun tidak dilakukan dengan mempersiapkan kelembagaan dulu secara benar. Masyarakat memiliki keterbatasan dalam pengelolaan program dan karena pengarus sistem keproyekan yang lebih mengutamakan aspek jangka pendek dan administrasi program. Kelembagaan yang saya maksud hal ini adalah organinasi dan aturan main, serta kerangka pendampingan. Para pendamping kuranng menguasai aspek penguatan kelembagaan yang memerlukan pemahaman mendalam terhadap karakteristik khas masyarakat desa terutama sekitar hutan. Ada kelemahan metodologis dalam hal ini.

DVD : Bisa dielaborasi lebih jauh mengenai kelemahan metodologis tersebut ?
MUL : Para perencana dan pengelola proyek cenderung kurang melihat aspek penguatan kelembagaan sebagai sebuah investasi modal sosial. Kelembagaan direduksi semata adalah organisasi, sehingga jika kelompok terbentuk maka program bisa dijalankan. Padahal setelah dibentuk kelompok tidak bergerak dan gagal dalam menjalankan program. Kelembagaan mencakup kesepakatan akan nilai dan aturan bersama, sehingga kekuatan kelembagaan masyarakat lah yang menjadi subyek dalam program. Ada prasyarat seperti kesepakatan mengenai kebersamaan, keadilan dan transparansi sebagai nilai bersama harus terinternalisasi dalam organisasi masyarakat.

DVD : Jika prasayarat tersebut telah dipenuhi, apakah peluang peluang yang bisa dikembangkan dalam skala masyarakat desa hutan?
MUL : Banyak potensi bisa dikembangkan seperti ekowisata, peternakan, pertanian dan usaha ekonomi berdasarkan sumberdaya lokal. Pengembangan penghidupan masyarakat bisa dilakukan tanpa eksploitatif dan merusak lingkungan.

DVD : Kesulitannya adalah masalah sektoral dalam terutama program program pemerintah. Seperti yang anda sebutkan peternakan program sendiri, pertanian program sendiri, kehutanan program sendiri sehingga pendekatan parsial. Bagaimana anda bisa menghadapi masalah sektoral seperti hal tersebut ?
MUL : Jika kelembagaan masyarakat sebagai prasyarat dipenuhi maka hal tersebut bisa diatasi. Program yang ada lebih bersifat repetitif, mengulang ulang pendekatan yang kadang sebenarnya keliru dan tidak bersifat akumulatif sehingga terus menerus diperkuat. Masyarakat dalam kelembagaan yang kuat akan mempu menangkap program sesuai dengan kebutuhan dalam kerangka penghidupan mereka.

DVD : Bisakah anda secara kongkret menggambarkan bagaimana keterkaitannya dalam kerangka penghidupan masyarakat ?
MUL : persoalannya bukan masalah bahasa karena masing sektor menggunakan bahasa masing masing. Namun semuanya ada pada kehidupan masyarakat. Misalnya gagasan integrated farming, bukan hal baru tapi bisa digambarkan misalnya peternakan kambing atau sapi, kotoran bisa menjadi biogas untuk energi dan pupuk organik. Pupuk organik menjadi sumber pemupukan untuk pembibitan tanaman kayu dan pertanian organik. Pertanian organik bisa menghasilkan manfaat ekonomi, sementara pembibitan kayu selain bisa dijual juga bisa di tanam dalam satu lahan yang disepakati untuk stok biomassa energi. Hal ini bisa terjadi kalau mau berpikir komprehensif dan keluar dari batas batas sektoral.

DVD : Kerangka tersebut sangat baik namun bagaimana masyarakat bisa dipersiapkan dalam menjalankan hal tersebut ?
MUL : Penguatan kelembagaan masyarakat juga menyangkut aspek manajemen dan keberlanjutan. Pembagian orientasi sangat penting, karena kita melihat gerakan ekonomi, gerakan sosial dan ekologis seperti terpisah satu sama lain. Harus ada sistem dalam kelembagaan masyarakat yang memastikan gerakan ekonomi, mampu menopang gerakan sosial dan ekologis karena sosial akan memberikan implikasi pada penguatan keberlanjutan sumberdaya. Sementara ini ada program yang sangat maju dalam gerakan ekonomi tapi justru eksploitatif terhadap sumberdalam, keuntungan ekonomi hanya dinikmati elit tertentu karena tidak ada desain sosial yang tepat.Sebaliknya banyak gerakan sosial yang menyandarkan pada kebutuhan donor dari luar karena tidak ada penopang ekonomi untuk keberlanjutan geraknya.

DVD : Saya baru memperoleh pemahaman bahwa keberlanjutan itu tidak hanya pada pengelolaan sumberdaya saja, namun juga pengelolaan kelembagaan masyarakatnya.
MUL : Betul sekali, karena keberlanjutan kelembagaan adalah kunci dari keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam. Selama ini masalah kelembagaan hanya direduksi semata mata pembentukan kelompok, sehingga yang muncul adalah masalah teknis pengelolaan sumberdaya alam, apalagi sifat sifat keproyekan yang ada di dalamnya.

DVD : Anda yakin bahwa hal tersebut bisa diterapkan ?
MUL : Kalau dari sisi luar masyarakat saya pesimis, karena sudah menjadi budaya melekat dalam keproyekan program, sifat jangka pendek dan ego-sektoral. Dengan demikian siasat harus berasal dari masyarakat, penguatan kelembagaan akan menjadi kunci untuk menangkap program tersebut dalam bahasa masyarakat bukan bahasa proyek pemerintah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: