Oleh: David Ardhian | Februari 18, 2009

Buruh Tani

sedang-ngebut-dan-petani-buruh-sedang-ngepritKetika mendengar kata buruh tani, maka yang terbayang adalah sebuah profesi yang berat dan pasti sejenis orang miskin. Benar adanya. Buruh tani, adalah sekelompok manusia yang bekerja dengan memberikan jasa pada pemilik sawah untuk mendapatkan upah yang biasanya harian atau persentase dari hasil panen. Bentuk pekerjaannya mulai dari pra tanam, tanam, panen dan pasca panen. Pada sebelum tanam, buruh tani bekerja mengolah lahan sawah sebelum ditanami seperti mencangkul sawah, membuat galengan atau batas antar petakan sawah dan olah lahan lainnya. Pada masa tanam, buruh tani bekerja secara massal untuk menanam padi, jika tamana sudah tumbuh maka pekerjaannya adalah menyiangi rumput dan gulma yang bisa menggangu pertumbuhan tanaman utama, pemupukan dan penyemprotan hama. Pada masa panen padi, kegiatan buruh tani adalah memotong padi, melepaskan padi dari jeraminya, dan mengangkut hasil panen ke tempat yang dikehendaki pemiliknya. Dan pasca panen, kerjaan buruh tani adalah membantu menjemur padi dan mengangkut padi ke penggilingan.

Aset utama buruh tani adalah tenaganya, jika dia mengalami sakit dan berhenti bekerja sehari saja maka akan berkurang rejekinya. Sesunguhnya para buruh tani inilah yang secara langsung bekerja di sektor pertanian. Petani pemilik, apalagi kalau sawahnya luas maka dia tidak mengerjakan sendiri sawahnya. Di daerah lumbung padi di Karawang, buruh tani jumlahnya terbesar dalam piramida struktur sosial petani, diatasnya petani penggarap dan kemudian petani pemilik sawah.

Dalam siklus budidaya padi, tangan tangan buruh tani ini lah yang menebarkan benih ke pesemaian dan menanam benih ke tanah sawah. Dari tangan buruh tani juga, tanaman padi bisa tumbuh dengan baik karena menghilangkan gulma, dan sekaligus memelihara pertumbuhannya. Tangan buruh tani juga yang pertaman kali menentukan besaran hasil panen, yang pada akhirnya menentukan statistika produksi padi, ketahanan pangan atau pertentangan perlu impor beras atau tidak. Walaupun tangan tangan tersebut bergerak ketika diperintah oleh pemilik sawah dengan harapan mendapatkan upah, yang kalau di Karawang adalah 30-35 ribu perhari.

Sayangnya dengan jumlah buruh tani yang sangat besar, maka akses untuk mendapatkan pekerjaan memburuh tersebut terbatas, apalagi kalau luasan sawah makin hari makin menyusut. Kompetisi mendapatkan kerja buruh tani menjadi tak bisa dihindari, sehingga pendapatan buruh tidak bisa setiap hari seperti buruh pabrik yang terus berproduksi. Dulu jenis jenis kerja buruh tani terbagi dalam jenis yang merupakan pekerjaan perempuan dan laki laki. Misalnya untuk olah tanah biasanya adalah laki laki, tanam adalah perempuan. Namun dengan berjalannya waktu, kalau mengamati kerja buruh tani, maka jenis kerja laki laki tetap namun jenis kerja perempuan mulai banyak dilakukan juga oleh laki laki. Peran perempuan dalam buruh tani semakin menurun karena tingkat kompetisi yang tinggi.

Selain itu kini buruh tani juga ada strata sosialnya, terutama untuk kerja pada panen padi. Dulu ketika pemilik sawah panen, maka siapapun bisa bekerja untuk jasa tenaga pemanenan, yang upahnya adalah prosentase dari hasil bersih gabah yang bisa dipanen, biasanya 1 : 6, artinya satu bagian untuk buruh dan enam bagian lainya untuk pemilik sawah. Namun kini karena kompetisi ketat, maka buruh tani tertentu ada yang mendapatkan akses luasan petakan panen secara khusus dari pemiliksawah, dengan catatan buruh tersebut harus bekerja menghilangkan gulma (ngrambet) tanpa dibayar. Istilah untuk konsesi luasan panen, dengan kompensasi ngrambet tanpa di bayar tersebut, kalau di Karawang di sebut “nyeblok”. Untuk bisa nyeblok, buruh harus bisa membangun relasi dengan pemilik sawah karena aksesnya sangat ditentukan kepercayaan pemilik terhadap buruh tersebut.

Yang paling memprihatinkan adalah strata terbawah dalam buruh tani adalah kerja “ngeprik” atau di tempat lain ada yang disebut “ngasak”. Kegiatan ini adalah memanen sisa sisa jerami yang sudah dirontokkan, untuk sekedar mendapatkan gabah sisa hasil panenan. Lima tahun yang lalu, kegiatan ini masih dilakukan oleh perempuan dan biasanya orang yang sangat miskin, kini bisa ditemui laki laki bahkan anak anak juga turut ngeprik di Karawang. Hasilnya tergantung lamanya bekerja, semakin lama maka semakin banyak dia mendapatkan hasil ngeprik. Seorang ibu yang ngeprik harus bangun jam jam 2-3 pagi untuk antri menunggu mulainya panen, dan bekerja mulai jam 4 pagi sampai dengan siang bahkan sore untuk sekedar mendapatkan 15-20 kg gabah. Salah satu yang sering dipelototi oleh pemilik lahan adalah adanya kolusi antara buruh panen dengan buruh ngeprik, dimana kerja perontokan padi tidak dilakukan dengan sekuat tenaga sehingga jumlah yang bisa diperoleh para pengeprik bisa lebih besar.

Profesi buruh tani biasanya bukan karena pilihan namun karena keterdesakan. Tidak ada anak kecil di Karawang yang cita citanya kalau besar akan menjadi buruh tani. Jika orang tuanya adalah buruh tani, dan tidak bisa menyekolahkan anaknya dan si anak tidak memiliki ketrampilan lain maka jadilah si anak menjadi buruh tani. Atau yang dulunya punya sawah atau petani penggarap lalu ekonomi keluarga bangkrut, dan tidak memiliki ketrampilan lain jadilah dia buruh tani. Jika anak perempuan, tidak mampu sekolah, dan tidak memiliki biaya untuk menjadi TKW, maka jadilah dia buruh tani.

Berbagai program pertanian adalah program petani pemilik, dan sejauh ini tidak ada program khusus untuk buruh tani, apalagi perlindungan hukum akibat pemutusan hubungan kerja sepihak peraturan upah minimum regional (UMR), hak cuti apalagi tunjangan hari raya (THR). Sejauh ini buruh tani padi tidak termasuk yang ikut aksi demontrasi May Day, yang mampu bernegosiasi dengan pemerintah mengenai hak hak buruh. Mungkin program yang terkait dengan kemiskinan yang menyentuh para buruh tani seperti beras untuk rakyat miskin dan bantuan langsung tunai (BLT), karena buruh tani memang miskin. Pendampingan LSM pertanian pun juga tidak menyentuh buruh tani padi, karena biasanya memang tidak terkait dalam pengambilan keputusan aspek teknologi budidaya padi. Kaum buruh tani ini pada posisi kelas terbawah sehingga diharapkan mendapatkan trickle down effect dari program pada kelas sosial diatasnya.

Dalam kehidupan sehari hari, buruh tani memiliki simpanan gabah namun hanya cukup tidak lebih dua bulan setelah panen, dan masih ada 2 bulan menunggu panen berikutnya, apalagi musim paceklik maka buruh tani harus ada alternatif pekerjaan lain seperti jadi tukang di kota, jualan ala kadarnya atau membuat batu bata dan lain lain. Jika kekurangan beras, buruh tani bisa meminjam ke tetangga lain yang kebetulan memiliki simpanan berlebih, tentunya dengan pengembalian yang lebih dibanding jumlah yang dia pinjam. Apalagi kalau kebetulan ada kebutuhan mendadak seperti sakit atau pendidikan anak, maka buruh tani harus berhutang uang. Kasus di Karawang dikenal uang monyet (23), yaitu pinjam dua balikin tiga, semacam renternir di pedesaan. Barangkali kalau para ahli menggambarkan kemiskinan di pedesaan, untuk kasus daerah persawahan sebenarnya adalah kemiskinan buruh tani. Atau kalau para ekonom menyatakan bahwa petani adalah net-consumer, maka lebih tepat yang net-consumer itu sebagian besar adalah buruh tani.

Berbagai upaya untuk mendorong pertanian sebagai sarana pengentasan kemiskinan selama ini sering bias karena programnya banyak untuk petani pemilik bukan buruh tani. Hitungan produksi padi nasional mungkin juga bias karena hasil produksi petani pemilik sebenarnya sudah terkurangi oleh bagian buruh tani dan ngeprik. Inefisiensi produksi karena kehilangan hasil waktu panen yang seringkali dijawab dengan mesin perontok padi, sebenarnya bukan inefisiensi namun adalah jaring pengaman sosial untuk kehidupan buruh tani.

David Ardhian
Bogor,18 Pebruari 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: