Oleh: David Ardhian | Februari 16, 2009

Keruwetan Masalah Pupuk : Impor sebagai Solusi ?

pupuk-organikPemerintah merencanakan akan mengimpor pupuk urea sebanyak 500.000 ton sebagai cadangan pupuk nasional. Salah satu alasan impor adalah mengatasi kelangkaan pupuk urea dalam negeri. Berdasarkan data PT. Pusri (2008), stok pupuk nasional sampai tanggal 31 Desember 2008 adalah 56.611 ton yang berada di pabrik, sedangkan posisi stok nasional adalah 280.700 ton. Berangkat dari tingkat ketersediaan tersebut, maka pemerintah perlu melakukan tambahan pengadaan melalui impor pupuk.

Jika melihat pengalaman tahun lalu, berbagai media massa memberitakan kelangkaan pupuk terjadi dimana mana. Petani melakukan demonstrasi, menghadang truk truk pengangkut pupuk urea dan mendatangi gudang gudang penyimpanan pupuk. Kelangkaan pupuk urea tidak semata mata karena ketersediaan namun juga karena distribusi.

Pemerintah mengalokasikan urea bersubsidi untuk sektor tanaman pangan, perkebunan skala kecil dan tambak. Pemerintah berharap urea bersubsidi jatuh ke target pengguna yang tepat, sehingga mengembangkan sistem distribusi tertutup. Dengan sistem ini pemenuhan pupuk urea bersubsidi dilakukan berdasarkan permintaan dari kelompok petani melalui ajuan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Petani tidak lagi bebas membeli pupuk di kios kios dengan sistem tertutup ini, mereka harus mengajukan secara kelompok sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sistem tersebut membawa konsekwensi bahwa tidak hanya jumlahnya yang benar benar tepat namun juga waktunya. Masalah yang terjadi di lapangan adalah ketersediaan pupuk tidak sesuai dengan waktu yang dibutuhkan petani. Ketika masa pemupukan, pupuk tidak tersedia sementara mereka tidak bisa membeli di kios terdekat. Hal ini menjadi sumber kemarahan petani. Sementara itu petani terutama petani padi sudah sangat lekat dengan pupuk urea, sehingga ketika ada pupuk dengan merk lain dengan kandungan nitrogen mereka tidak mau membelinya apalagi jika harganya mahal.

Masalah lain adalah peluang terjadinya kebocoran dalam sistem distribusi tertutup. Dengan perkembangan ekstensif luasan tanaman perkebunan terutama kelapa sawit, maka kebutuhan pupuk urea di sektor perkebunan meningkat. Pupuk urea bersubsidi rawan disalahgunakan untuk perkebunan besar, karena adanya disparitas harga antara pupuk subsidi dan non subsidi.

Kegagalan dalam manajemen distribusi pupuk urea nasional merupakan sumber dari kelangkaan pupuk urea. Pada sisi hulu, ketidakpastian pasokan gas sebagai komponen utama dalam produksi pupuk mempersulit pabrik pabrik pupuk nasional. Sementara itu pada sisi hilir, sistem distribusi tertutup urea bersubsidi mengandung banyak kelemahan sekaligus rawan kebocoran.

Pada kasus petani padi tingkat penggunaan pupuk urea cenderung meningkat. Petani di Karawang menggunakan pupuk urea rata rata 2 kwintal per hektar sepuluh tahun yang lalu, sekarang penggunaan bisa mencapai 3-5 kwintal per hektar. Hal ini merupakan indikasi degradasi kualitas kesuburan tanah sawah di sentra padi tersebut.

Penurunan kualitas kesuburan tanah ini menjadi temuan penting dari studi Yayasan Nastari dan Klinik Tanaman IPB (2007), yang melaporkan terjadi degradasi kualitas kesuburan lahan lahan pertanian dari monitoring yang dilakukan di 26 komunitas petani dari 24 kabupaten di Jawa. Kesuburan tanah tersebut hanya bisa dipulihkan dengan penambahan bahan organik untuk restorasi lahan lahan pertanian.

Dalam kerangka tersebut maka sesungguhnya desain pemenuhan kebutuhan pupuk harus bergeser dari pupuk kimia menuju pupuk organik. Namun demikian pemerintah masih berpikir dalam kerangka jangka pendek, dengan terus menambahkan pupuk urea secara masif untuk petani. Impor pupuk semakin menguatkan hal tersebut, dimana aspek politis lebih menonjol terutama menghidari kemarahan petani dengan meningkatkan ketersediaan pupuk urea, terkait citra pemerintah menjelang Pemilu 2009.

Pemerintah tidak memiliki desain jangka panjang akan proyeksi untuk mengatasi kerusakan lahan dimana pupuk kimia merupakan salah satu kontributor utamanya. Jika demikian maka masalah pupuk akan seperti lingkaran setan, dimana kebutuhan petani makin terus meningkat sementara itu dari sisi produksi mengalami banyak tekanan. Kebutuhan penggunaan gas untuk pengganti bahan bakar minyak tanah serta inefisiensi pasokan gas ke pabrik pupuk menjadi masalah serius. Pemerintah lebih berpikir menghidari masalah dibanding menyelesaikan masalah, dengan solusi mengimpor pupuk urea tanpa konsep untuk transformasi penggunaan pupuk organik secara gradual.

Untuk itu langkah yang mesti dilakukan pemerintah sesungguhnya adalah mengembangkan desain jangka panjang untuk restorasi kesuburan tanah tanah pertanian melalui penyebarluasan penggunaan pupuk organik, sembari menata efisiensi pasokan gas serta manajemen distribusi urea bersubsidi agar mampu secara tepat dan proporsional menjangkau petani yang membutuhkan. Kelangkaan dan mahalnya harga pupuk kimia di beberapa tempat justru menjadi insentif bagi semakin maraknya penggunaan pupuk organik.

Dengan arah pemikiran impor pupuk sebagai solusi adalah kebijakan jangka pendek dan makin menjauh dari kebutuhan untuk mengatasi penurunan kualitas kesuburan lahan pertanian. Dengan kata lain pemerintah semakin jauh dari pertanian ekologis, dan terus bersandar pada prinsip usang Revolusi Hijau yang menekankan maksimalisasi produksi melalui intensitas penggunaan input kimia pertanian yang tinggi.

David Ardhian
Bogor, 15 Pebruari 2009


Responses

  1. Saya sangat tidak Setujuh mengatasi kelangkaan pupuk dengan kita Import Pupuk dari negara lain,untuk menekan beban biaya Subsidi,jestru pemerintah hendaknya mengalakkan pupuk organik,bahan baku tidak sulit biaya ringan,serta bisa menampung tenaga kerja,dengan menghidupkan pengusaha2 kecil,dalam bidang pupuk,termasuk kami,PT LEMOK TABA MANDIRI,
    memproduksi pupuk super orgsnik,dengan merk dagang LEMOK FERTILIZER ,tks

    D.SOERATMAN GINTING

  2. Bapak Soeratman, salam kenal. Saya setuju dengan anda. Menggalakkan pupuk organik juga memperbaiki kerusakan tanah akibat tingginya penggunaan input pupuk kimia. Justru perbaikan kualitas agroekosistem menjadi agenda penting. Pemerintah masih berpikir jangka pendek dengan impor pupuk ini. Subsidi bagi pupuk organik justru layak dipertimbangkan. salam dan sukses selalu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: