Oleh: David Ardhian | Februari 16, 2009

Wawancara : Karmo DS (Petani Pemandu, Karawang)

IMPLIKASI KEMUNDURAN MUSIM TANAM DI KARAWANG

karmo1Karmo DS adalah petani, fasilitator lapang dengan pengalaman panjang dalam pengembangan belajar bersama untuk pertanian ekologis. Sejak tahun 1980-an, Karmo terjun dalam bidang pertanian dengan menggarap sebidang tanah sawah seluas 0,25 hektar. Dari luasan tanahnya, Karmo termasuk petani gurem. Tapi semangat, pengalaman dan ide idenya nampaknya tidak bisa dianggap sekedar ”gurem”. Karmo adalah petani yang mendapatkan pengalaman dalam sekolah lapang pengendalian terpadu (SLPHT) dan merupakan salah satu kader petani pemandu PHT yang tangguh. Dengan kemampuan komunikasi dan fasilitasi, beliau berperan dalam menggerakkan keberdayaan masyarakat tani di berbagai tempat, seperti Karawang, Subang dan Sukabumi. Saat ini Karmo menjadi penyuluh swadaya, turut membidani lahirnya Forum Penyuluh Swadaya Kabupaten Karawang.

Ketika berada di Kantor Yayasan Nastari, Karmo menyempatkan waktu untuk bercerita tentang kondisi terakhir pertanian padi di Karawang terutama terkait dengan situasi kerentanan akibat kebanjiran, keterlambatan tanam dan situasi sosial ekonomi masyarakat di desanya, Desa Cikuntul Kabupaten Karawang. Berikut petikan wawancara antara David Ardhian (DVD) dan Karmo Darsono Sudrajat (KDS) pada tanggal 10 Pebruari 2009, mengenai hal tersebut.

DVD : Bisakah anda gambarkan bagaimana situasi permasalahan pertanian padi di Karawang saat ini ?
KDS : Saat ini petani dalam kondisi berat. Hujan terus menerus sepanjang Desember sampai Pebruari membuat petani terlambat tanam, yang seharusnya pada awal desember menjadi mundur 3 bulan sampai sekarang.

DVD : apa dampaknya dengan kemunduran tanam tersebut ?
KDS : Yang paling jelas adalah tidak adanya lapangan pekerjaan bagi buruh tani, karena olah lahan dan tanam belum dimulai. Tetangga saya, seorang buruh tani mengatakan kalau simpanan beras mereka sudah habis. Simpanan saya sendiri hanya cukup untuk dua bulan ke depan. Petani ragu ragu menanam karena takut akan kebanjiran. Beberapa petani yang nekat menanam malah menjadi rusak karena diterjang hujan deras dan terpaksa rugi harus mengulang 2-3 kali tanam.

DVD : apakah situasi terjadi di semua persawahan Karawang ?
KDS : Tidak semua mengalami, yang terutama adalah golongan air irigasi 4 dan 5, yang lokasinya paling ujung dekat pantai. Kondisi banjir ini sangat parah di kecamatan cibuaya, tirtamulya, cilamaya dan cilebar. Di kecamatan Cilebar, areal sawah terendam menjadi seperti pantai saja.

DVD : apakah situasi kerentanan seperti ini selalu berulang setiap tahun ?
KDS : Tidak selalu terjadi dan justru itu menjadi sumber permasalahan. Iklim tidak pasti, tahun 2007 juga terjadi kemunduran tanam pada bulan yang sama, tapi karena kekeringan panjang, musim ini kebalikannya. Saya khawatir mulai maret akan terjadi kering panjang lagi, disaat petani membutuhkan air untuk pertumbuhan padi. Saya juga ingat kondisi seperti ini makin lama makin sering.

DVD : Apa yang dilakukan petani untuk situasi seperti ini ?
KDS : Beberapa buruh tani mencari pekerjaan lain seperti menjadi tukang batu. Petani lain berusaha untuk mengembangkan usaha lain seperti dagang, tapi memang dalam kondisi hujan peluang seperti itu juga terbatas. Dana juga mulai menipis, karena tunda tanam maka duit terpakai untuk kehidupan sehari hari.

DVD : Bagaimana dengan bantuan pemerintah untuk hal ini ?
KDS : pemerintah tidak sampai kesana, karena masalahnya program program bersifat umum. Tidak ada program khusus untuk menghadapi masalah seperti ini. Banyak program di desa tapi tidak untuk mengatasi masalah ini.

DVD : artinya program yang baik pun belum tentu mengatasi masalah karena masalahnya sendiri memang beda. Dengan demikian perlu fokus program dalam hal mengatasi situasi kerentanan akibat ketidakpastian iklim. Apakah pembagian pompa dan penggantian benih tidak cukup membantu ?
KDS : Memang ada usaha pembagian pompa dan penggantian benih yang kebanjiran pada waktu dulu kekeringan, tapi masalahnya adalah semakin besar karena masalah ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga. Malah justru sekarang petani kecil dan buruh tani pada menghutang ke orang yang lebih mampu. Perbaikan irigasi sudah mulai dilakukan sehingga beberapa tempat yang biasanya banjir sudah tidak lagi, tapi masalahnya di tempat kami baru saluran pemasukan saja yang diperbaiki, saluran pembuangan belum di perbaiki. Jika huja terjadi maka meluber dan menggenangi sawah. Di Kecamatan Tirtamulya, luasan lahan 150 hektar dalam kondisi normal hanya 60 hektar yang bisa ditanami karena kekurangan air. Tapi musim ini justru semua tidak bisa ditanami karena kebanjiran besar dengan jebolnya tanggul sungai Citarum. Di Kecamatan Cilebar, saya sangat ngeri melihat ratusan hektar sawah terendam dan menjadi seperti lautan. Jadi gimana ya, hujan sangat deras dan perbaikan irigasi baru mulai. Kalau ada bantuan mestinya lebih ke ekonomi bukan ke teknis budidaya karena tidak bisa di apa apain lagi.

DVD : Saya prihatin dengan situasi kerentanan yang tak kunjung ada upaya penyelesaian. Masalah kerentanan penghidupan tapi hanya diatasi dengan sepotong sepotong. Apalagi kalau tidak sampai melihat dampaknya bagi kehidupan secara luas. Bagaimana optimisme untuk musim depan ?
KDS : saya perkirakan tidak sebagus musim terkahir, dimana petani mendapatkan hasil panen dan harga yang lumayan. Musim kemarin, sangat kondusif, serangan hama rendah dan tidak ada masalah iklim. Tapi musim sekarang, sudah terlambat hampir satu musim. Biasanya situasi pertanian padi agak kurang bagus jika setelah banjir, serangan hama akan tinggi. Sekarang saja di beberapa desa masalah tikus dan keong mas sudah mengganggu. Pertumbuhan tanaman akan ada masalah karena sampai sekarang masih saja hujan terjadi. Apalagi kalau pupuk sulit didapatkan lagi sudah dipastikan hasil tani akan kurang menggembirakan. Yang paling saya khawatirkan adalah terjadi musim kering panjang lagi, terutama saat petani butuh air untuk pertumbuhan tanaman.

DVD : Langkah jangka pendek apa yang harus dilakukan ?
KDS : sebenarnya kalau bisa mulai sekarang harus antisipasi, bisa dipikirkan apa yang perlu didukung. Misalnya mulai melihat perkembangan hama dari sejak persemaian, atau pemerintah bisa melihat bagaimana pengaturan air di masa musim kemarau. Jadi tidak kalau sudah terjadi baru dipikirkan.

DVD : Baik Kang Karmo, saya tetap yakin berdasarkan pengalaman petani pasti akan bersusah payah untuk keluar dari satu kerentanan ke kerentana berikutnya. Namun rasanya harus ada yang berbicara kepada pemerintah daerah mengenai apa yang harus disiapkan dalam musim depan ini. Sementara itu tidak cukup bantuan benih saja untuk antisipasi masalah ke depan. Harus melihat kasus banjir dan mungkin kekeringan di masa datang sebagai ancaman bagi penghidupan petani. Jika tidak maka yang dilakukan hanya parsial dan tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi petani. Saya rasa Forum Penyuluh Swadaya bisa berperan banyak di situ?
KDS : Forum Penyuluh Swadaya terus berkomunikasi dengan dinas pertanian mengenai hal ini. Perlu juga untuk melibatkan pihak lain yang mau bergabung membantu seperti LSM. Karena ini masalah pangan, bukan hanya masalah petani. Jika terus menerus seperti ini dan kemiskinan petani padi belum berubah, malah makin parah maka masa depan karawang sebagai lumbung padi akan makin hancur. Kuncinya memang kerjasama, walau kadang pemerintah masih belum membuka diri untuk itu terutama masukan masukan dari masyar


Responses

  1. Nasib petani… Di sini dan di sana tak jauh beda

    Salam kenal,
    Your Planet Needs You – UNite to Combat Climate Change
    http://alamendah.wordpress.com/2009/05/31/tema-hari-lingkungan-hidup-sedunia/

  2. Salam kenal juga, petani memang masih terpinggirkan untuk itu harus terus kita dukung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: