Oleh: David Ardhian | Februari 14, 2009

Swasembada Beras : Prestasi Siapa ?

dsc00634

Tahun 2008, pemerintah mengklaim telah mencapai swasembada beras mengulang prestasi tahun 1984. Berdasarkan data BPS, produksi beras tahun 2008 mencapai 35,32 juta ton, sedangkan tingkat konsumsi diperkirakan 32 juta ton. Bahkan pemerintah mengklaim bahwa prestasi tahun 2008 lebih istimewa karena merupakan surplus terbesar sepanjang sejarah Republik ini.

Data BPS mengambarkan bahwa tahun 2007 produksi padi naik 4,96 persen dan tahun 2008 kembali meningkat sebesar 5,4 persen. Kenaikan ini sungguh mengesankan sekaligus mengejutkan mengingat berbagai masalah seperti banjir dan kekeringan, alih fungsi lahan sawah, krisis pangan global serta terjadi kelangkaan pupuk di berbagai wilayah. Ditengah berbagai masalah tersebut, Indonesia mampu ”lolos” dari tekanan bahkan mampu meningkatkan produksi padi secara signifikan.

img_0463

Pemerintah melalui iklan kesuksesan di berbagai media, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari revitalisasi pertanian terutama program peningkatan produksi beras nasional (P2BN) yang dirintis tahun 2007. Program ini dilakukan untuk meningkatkan produksi beras nasional dengan komponen utama adalah subsidi benih padi unggul bermutu termasuk benih padi hibrida. Pemerintah menggelontorkan dana 1 trilyun untuk subsidi benih padi, jagung dan kedelai dalam rangka mencapai swasembada terutama padi dan jagung.

Jika data produksi beras dianggap ”benar” dan bukan sekedar data politis menjelang pemilu 2009, maka pertanyaannya adalah apakah yang menjadi kunci kesuksesan tersebut ? Apakah P2BN merupakan faktor tunggal dalam pencapaian swasembada beras 2008 ? Hal ini menjadi penting untuk mengklarifikasi kontribusi dari para pihak terutama peran petani sebagai pelaku produksi padi serta bagaimana melihat swasembada beras dalam konteks peningkatan kesejahteraan petani padi.

Menengok kembali pengalaman swasembada beras 1984, maka ”kesuksesan’ tersebut adalah hasil upaya masif pemerintah Orde Baru dalam intensifikasi produksi padi melalui paket teknologi Revolusi Hijau. Pemerintah waktu itu mengembangkan program seperti BIMAS/INMAS dengan didukung oleh subsidi sarana produksi dan kredit usaha tani untuk mendukung pencapaian swasembada beras. Terlepas dari berbagai dampak buruk Revolusi Hijau, pada prinsipnya keberhasilan mencapai swasembada beras 1984 adalah hasil dari upaya sistematis dan terkontrol dari pemerintah sejak tahun 1970-an dan baru mencapai hasilnya setelah lebih dari satu dekade kemudian.

Jika swasembada beras 2008 merupakan hasil dari P2BN yang baru dimulai sejak awal tahun 2007, dan mencapai hasil satu tahun kemudian maka prestasi ini jelas mengundang kekaguman sekaligus keraguan. Masih teringat dalam awal perjalanan P2BN, ketika terjadi kesulitan pemerintah pusat dalam pengadaan dan distribusi benih padi unggul ketika terjadi penolakan beberapa bupati dan walikota untuk mekanisme penunjukkan langsung, sehingga memperlambat benih unggul sampai pada para petani. Pada tahun 2007, terjadi situasi iklim yang ekstrem sehingga menimbulkan ketidakpastian dalam produksi dan berbagai kasus kebanjiran di daerah sentra produksi. Pada tahun yang sama, untuk mendukung pengadaan benih dan peningkatan produksi, pemerintah membuka kran impor benih padi hibrida, sehingga membuka peluang bagi korporasi turut menguasai sektor perbenihan padi yang selama ini didominasi BUMN.

Pada tahun 2008, dalam kondisi iklim yang kondusif sumbangan terbesar peningkatan produksi bukan dari penggunaan padi hibrida. Penyebarluasan padi hibrida masih dalam taraf uji coba dan masih terbatas penggunaannya. Petani masih belum bisa sepenuhnya mengadopsi padi hibrida karena berbagai kendala seperti teknis budidaya yang baru, kerentanan terhadap serangan hama utama dan kebutuhan unsur hara yang tinggi. Selain itu petani mengeluhkan hambatan lain seperti kesulitan dalam perontokan bulir dari jerami, beras pecah saat digiling dan harga yang murah ketika dijual di pasaran.

Dari studi kasus yang dilakukan di 8 kecamatan pada daerah lumbung padi Karawang, menggambarkan bahwa hampir 80 persen petani menanam varietas Ciherang pada musim terakhir. Varietas ini disebarkan pemerintah sejak tahun 2000, dan menjadi varietas idaman petani di daerah sentra padi di pulau Jawa. Varietas ini secara evolutif, menjadi primadona petani menggantikan idola sebelumnya yakni IR 64. Penerimaan atas varietas ini lebih banyak dipengaruhi oleh proses belajar petani terhadap kemampuan adaptasi varietas terhadap iklim dan serangan hama penyakit. Oleh karena itu kesuksesan swasembada beras 2008, tidak lepas dari upaya pemerintah sejak tahun 2000 dalam memperkenalkan beberapa verietas yang sesuai dengan kebutuhan petani.

Swasembada beras 2008 juga merupakan hasil dari pengorbanan petani yang sangat keras justru karena dampak program pemerintah sendiri. Kenaikan BBM pada bulan Mei 2008, mendorong peningkatan biaya produksi pada musim terakhir sebesar 20-30 persen terutama komponen produksi seperti pupuk, sewa traktor, upah buruh tani dan pengangkutan. Kenaikan biaya produksi ini menekan pendapatan petani, walaupun tingkat produksi pada musim panen terakhir relatif lebih baik.

Dengan demikian kesuksesan swasembada beras 2008 sangat disangsikan jika semata mata karena peran tunggal program P2BN yang ”baru” dimulai tahun 2007.  Karenanya,  menggunakan swasembada beras untuk iklan kesuksesan pemerintah berkuasa bukanlah hal yang bijaksana dan mengundang dugaan politisasi menjelang pemilu 2009.  Program P2BN seharusnya diletakkan dalam konteks yang tepat, terutama untuk mendorong kemandirian dan kesejahteraan petani secara luas. Program ini jangan sampai menjadi ”kuda troya” bagi penguasaan korporasi atas sektor perbenihan padi terutama dengan pengembangan benih padi hibrida. Swasembada beras tidak akan berarti jika dicapai dengan kemerosotan hidup petani, dan ketergantungan petani atas benih dari korporasi. Hal ini penting agar swasembada semu seperti tahun 1984, tidak terulang kembali.

David Ardhian

14 Pebruari 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: