Oleh: David Ardhian | Februari 14, 2009

Praktek Pertanian Ekologis dan Konservasi Keanekaragaman hayati

pict0075-copy

Pertanian ekologis dalam praktek adalah penerapan metoda dan teknologi pertanian untuk menghasilkan produksi pangan dan pertanian secara berkelanjutan, dengan beberapa prinsip : (i) mengurangi ketergantungan dan aplikasi input luar terutama input kimia yang mencemari ekosistem pertanian (ii) memanfaatkan sumberdaya lokal untuk mendukung produksi pertanian dan pangan (iii) penerapan kearifan pengetahuan lokal dan pengembangan teknologi yang sesuai dengan konteks lokal (iv) pemanfaatan keanekaragaman hayati pertanian (agrobiodiversity) baik keaneragaman tanaman, serangga dan mikroba tanah untuk kesehatan ekosistem pertanian (agro-ecosystem health)

Dengan demikian secara konseptual, konservasi keanekaragaman hayati sesungguhnya adalah tujuan utama dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pertanian ekologis. Dalam hal tersebut maka istilah keanekaragaman hayati pertanian (agro-biodiversity) muncul untuk mempertegas bahwa pertanian ekologis merupakan wilayah kelola bagi konservasi keanekaragaman hayati.

Konservasi keanekaragaman hayati (agro-biodiversity) merupakan bagian tak terpisahkan dari praktek pertanian ekologis yaitu :

(i) Pengembangan kesuburan tanah (soil health) dengan pupuk organik dan kompos memberikan kontribusi bagi peningkatan keanekaragaman mikroba berguna dalam tanah – microbial diversity

(ii) Pemanfaatan keanekaragaman tanaman dalam lahan pertanian, melalui berbagai praktek multi croping system, pemanfaatan tanaman sela dan tanaman pelindung, dan berbagai fungsi keragaman tanaman dalam ekosistem pertanian – plant diversity

(iii) Pengelolaan hama dan penyakit tanaman secara terpadu dengan pemanfaatan musuh alami dan keanekaragaman serangga untuk mengurangi resiko ledakan hama dan penyakit tanaman – insect diversity

Dengan berbasis pada pengetahuan lokal dan pengembangan teknologi sesuai konteks lokal maka pertanian ekologis juga memberikan ruang bagi tumbuhnya keragaman pengatahuan (knowledge diversity). Pertanian ekologis juga merupakan bagian dari sistem sosial budaya masyarakat pedesaan yang beragam sehingga memberikan ruang bagi keragaman institusi pengelolaan (institutional diversity).

Dengan demikian maka dimensi konservasi keanekaragaman hayati dalam konteks pertanian ekologis adalah terintegrasi dalam praktek dan tujuan. Bisa dikatakan bahwa pertanian ekologis adalah pemanfaatan dan pelestarian keanekaragamanhayati untuk produksi pertanian berkelanjutan, penguatan penghidupan masyarakat dan kesehatan ekosistem.

Dalam praktek pertanian ekologis merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh petani mulai dari aspek perbenihan, pengolahan tanah, pengelolaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan teknik yang selaras dengan kelestarian lingkungan. Praktek pertanian ekologis adalah upaya untuk memberikan nilai tambah dalam produksi sembari menjaga dan memperbaiki kualitas agro-ekosistem pertanian.

Dalam aspek perbenihan petani banyak yang telah bernisiatif untuk melakukan konservasi benih. Mereka melestarikan dan menyeleksi benih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Mulai tumbuh inisiatif petani untuk membangun bank bank benih pada tingkat lokal. Hal ini selaras dengan penganekaragaman hayati jenis tanaman atau plasma nutfah pada tingkat lokal.

Pada pengolahan tanah, petani dalam praktek pertanian ekologis memanfaatkan sumberdaya alam lokal seperti dedaunan dan kotoran ternak sebagai pupuk alami. Hal ini merupakan upaya untuk menganekaragamkan kekayaan mikrobiologi dalam tanah. Dengan kekayaan tersebut maka akan menekan peran mikroba yang berlaku sebagai penyakit tanaman, sehingga selain menyuburkan tanah juga mengurangi resiko serangan penyakit tanaman.

Pada praktek pengelolaan tanaman, petani dalam praktek pertanian ekologis membuat lanskap pertanian menjadi semakin beragam sesuai dengan kebutuhan produksi. Tanaman utama, dilengkapi dengan tanaman tanaman sela dan disekeliling lahan. Tanaman sela bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan untuk mengantisipasi kejatuhan harga pada tanaman utama, sementara itu tanaman pagar dipilih untuk fungsi fungsi tertentu misalnya sebagai penolak serangan hama atau penarik serangan hama sehingga tanaman utama terlindungi.

Kita mengenal praktek pengendalian hama terpadu (PHT), yang merupakan pengelolaan hama yang menekankan pada prinsip budidaya tanaman sehat dan konservasi musuh alami. Musuh alami adalah serangga predator hama, yang membantu menekan populasi hama. Konservasi ini hanya bisa dilakukan jika petani menekan penggunaan pestisida serendah mungkin.

Lebih lanjut pertanian ekologis akan merangsang kreatifitas petani serta munculnya inovasi inovasi baru dalam praktek sesuai dengan kondisi lokal yang beragam. Hal ini akan memacu tumbuhnya keragaman pengetahuan dan mengurangi ketergantungan petani dari pihak luar. Pertanian ekologis menjadi sarana untuk pemberdayaan petani, serta mendukung kemandirian petani.

David Ardhian

Bogor, 14 Pebruari 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: