Oleh: David Ardhian | Februari 14, 2009

Kebijakan Subsidi Benih dan Perang Varietas di Lumbung Padi

Awal tahun 2007 dicanangkan oleh pemerintah program peningkatan produksi beras nasional (P2BN) bertujuan untuk menaikkan produksi beras melalui upaya terpadu, dengan komponen utama adalah subsidi benih. Benih padi yang diberikan kepada petani adalah benih unggul bermutu dan benih hibrida. Dalam konteks tersebut, pemerintah membuka impor benih hibrida terutama dari China, namun tidak banyak mendapat kontroversi seperti ketika mengimpor beras yang berujung pada hak interplasi di DPR. Padahal dalam perspektif kedaulatan pangan, baik impor benih maupun dalam bentuk beras sama sama menggerogoti kemandirian pangan bangsa.

Betapa sederhananya ketika persoalan produksi beras direduksi pada masalah benih, karena masalah sesungguhnya sangat kompleks. Terutama dalam konteks budidaya adalah kerusakan lahan sawah yang terus menerus secara intensif menggunakan pupuk kimia dan digelontor berliter liter pestisida. Bayangkan jika di karawang, ada 85.000 hektar maka kebutuhan pupuk tinggal mengalikan 2-3 kwintal perhektar, bahkan petani sudah ada yang menggunakan sampai 5 kwintal per hektar. potensi varietas seperti ciherang saja sesungguhnya jauh dari potensi produksinya dalam kondisi rusak.

Namun P2BN tetap mengganggap benih merupakan faktor utama sehingga dibuka kembangkan lah persebarluasan benih hibrida. Seperti biasa, ketika benih hidrida dibuka naik produksi dalam negeri maupun impor maka jelas perusahaan skala transnasional yang menangkap peluang bisnis ini, selain perusahaan raksasa dalam negeri yang tiba tiba “peduli” dengan sektor pertanian. melalui tumpangan subsidi negara, mereka berupaya mengembangkan benih hibrida untuk disebarluaskan kepada petani kita, namun dibalik itu mana ada perusahaan yang tidak ingin mengeruk keuntungan untuk proyeksi jangka panjang. Dengan demikian maka sektor benih yang dulu benar2 masih didominasi oleh BUMN dan Pemerintah, kini terbuka penguasaan oleh korporasi.

Dilapangan, dalam kasus yang kami temui dan kesaksian petani menggambarkan dalam setahun terakhir terjadi perang varietas di lumbung padi. Perusahaan dengan berbagai jenis padi hibrida mencoba menguji pada skala lapangan. Perusahaan pengembangan benih hibrida tersebut sebagian besar adalah perusahaan yang juga memproduksi pestisida, sehingga mereka dalam uji biasanya memaketkan benih dengan pestisida produksinya. Selain antar perusahaan, pemerintah melalui BUMN pertanian juga mengembangkan benih hibrida yang diuji pada tingkat petani, namun juga masih bekerja sama dengan salah satu giant agribusiness company dari philipina. perusahaan swasta nasional tidak kalah gerak dengan berpatron perusahaan dari China.

Yang menarik dari penulusuran lapangan, ternyata partai politik dan perusahaan afiliasinya juga tidak diam. sejalan dengan momentum 2009, maka mereka juga menawarkan benih seperti MSP dan Super Toy, yang juga diujikan kepada petani. Dengan semaraknya perlombaaan pengenalan benih kepada petani, bagaimana sikap petani ?

Dalam panen raya, atau pemberitaan media massa selalu dinyatakan bahwa benih hibrida sukses mencapai 10-12 ton dalam ujinya. Untuk meyakinkan, maka yang memanen pun biasanya pejabat deptan atau pejabat kabupaten setempat. Namun seperti pengalaman Supertoy, hal seperti itu seharusnya tidak perlu terlalu diyakini karena kunci ketahanan pangan adalah mayoritas yang ditanam petani. Petani karawang, dalam diskusi di 8 kecamatan yang kami lakukan menyatakan beragam. Ada yang menyatakan hasil dari hibrida kurang, ada yang menyatakan memang meningkatkan produksi tapi banyak kedala lain yang jauh lebih penting dari ukuran produksi. pertama rakus unsur hara, rentan terhadap serangan hama dan penyakit, sulit merontokan padi dari bulirnya, ketika digiling berasnya pecah dan yang terpenting dihargai rendah oleh tengkulak atau pasar lokal. Yang pasti harganya mahal dan tidak bisa di benihkan lagi seperti ciherang atau cilamaya muncul.

Dari pengamatan, 80 % petani karawang musim terkahir menanam varietas ciherang buatan BUMN pertanian kita. Varietas perusahaan dan varietas politik tewas oleh pilihan petani yang ternyata memiliki pertimbangan rasional dibanding pemerintah. Petani di desa Cikuntul karawang dalam setiap siklus musim, selalu seperti kompak jika musim hujan menanam varietas Muncul dan jika musim kering menanam varietas Ciherang. Pertimbangan ini mencakup secara komprehensif faktor pengaruh, seperti adaptabilitas terhadap cuaca, serangan hama dan penyakit dan tingkat harga. Namun petani mengeluh karena kebutuhan pupuk kimia semakin meningkat, dan tanah semakin rusak.

Oleh karena itu maka apakah P2BN tepat menggunakan subsidi benih dan pengembangan hibrida sebagai jalan untuk peningkatan produksi. Mungkin bisa jika dilakukan mobilisasi kelembagaan ala revolusi hijau, dan petani pasti mau dan takut kalau tidak menanam. Tapi dengan persoalan yang ada mengapa tidak terpikir untuk subsidi bagi perbaikan kualitas lahan secara masif, sehingga akan mampu memberi dimensi jangka panjang bagi keberlanjutan dan perbaikan kualitas agroekosistem. Jika hutan gundul, maka program gerakan rehabilitasi hutan(gerhan) bisa bertrilyun anggaran mengapa perbaikan kualitas tanah tidak bisa dilakukan, padahal sama sama untuk menyelamatkan lingkungan. Kebijakan dan program selalu berdimensi ganda, dengan adanya kepentingan bisnis dibalik agenda mulia kebijakan. Dan kini petani Indonesia semakin berat tantangannya dengan adanya corporate concentration on agri-food system, sekarang termasuk sektor perbenihan padi.

David Ardhian

Bogor, 14 Pebruari 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: