Oleh: David Ardhian | Februari 13, 2009

Republik Pemasok Bahan Mentah

pict2067Dulu pada waktu masih SD, saya seringkali geram karena dalam pelajaran sejarah dikatakan bahwa penjajah dengan seenak perutnya mengangkut hasil bumi kita ke negaranya. Indonesia adalah negara budak, tanah koloni Kerajaan Belanda dimana penjajah membuka perkebunan dengan tenaga rakyat melalui sistem tanam paksa. Lalu perusahaan negara mereka yang bernama VOC  mengangkut hasil bumi tersebut ke negeri mereka dengan gratis.

Penjajah pada masa kolonial melakukan pengerukan hasil bumi negeri ini dengan todongan senjata. Rakyat takut dan tidak punya pilihan untuk menuruti apa kata mister penjajah tersebut karena todongan senjata. Rempah rempah, hasil perkebunan dan pertanian menjadi sumber kemakmuran neger penjajah pada waktu itu. Tapi diantara bangsa sendiri yang waktu itu mungkin belum sadar selalu saja ada yang mendapat manfaat. Para elit kerajaan dan bangsawan atau tokoh tokoh pemimpin lokal juga ada yang malah membantu penjajah karena mendapatkan manfaat baik finansial maupun keamanan atas eksistensinya sebagai tokoh.

Banyak muncul pemberontakan bersenjata dan selalu kalah karena dilakukan secara sporadis dan tidak ada rasa bersatu sebagai bangsa sampai akhirnya lahir tokoh tokoh terdidik yang mendorong terbentuknya republik ini dan keluar dari belenggu penjajahan.

Sudah hampir tujuh dekade, kita menjadi bangsa seperti sekarang ini. Tapi pertanian bangsa ini sepertinya tidak beranjak dari mentalitas seperti ketika dijajah. Kita masih saja mengekspor bahan mentah ke negara lain. Kini tidak ada penjajahan dengan todongan senjata di republik merdeka ini, yang ada adalah pengaruh ekonomi dan politik. Memang benar kata Mahathir Muhammad seorang pengagum Soekarno dari negeri jiran, yang mengatakan kalau penjajahan pikiran sudah terjadi maka senjata tidak diperlukan lagi.

Kita masuk dalam perangkap global agri-food chain yang sesungguhnya dikuasai negara kaya. Pertanian bangsa ini menjadi mata rantai paling hulu dalam sistem pangan global. Ambil contoh : Kakao atau coklat, dimana kita negara produsen coklat nomor tiga di dunia dan kita bangga akan itu. Lalu penghasil kopi lima besar dan kita bangga akan itu. penghasil sawit nomor dua besar di dunia dan kita bangga akan itu. Angka angka ekspor bahan mentah menjadi ukuran keberhasilan pembangunan pertanian bangsa. Para menteri dari rezim ke rezim di republik ini tersenyum lebar di depan kamera televisi mengumumkan kesuksesan peningkatan ekspor bahan mentah kita.

Sekarang kita mulai membuka wilayah dapur kita, dengan mendorong makanan pokok mayoritas penduduk negeri ini (beras-red) untuk diekspor dalam rangka meraih keuntungan dari lonjakan harga pangan dunia. Tidak ada penjajah dengan senjata, dan tidak ada VOC lagi. Perusahan besar negara kaya tinggal bekerja sama dengan perusahaan nasional milik orang sekitar penguasa untuk “investasi” dalam sektor pertanian dalam kerangka pemenuhan global suply chain. Peningkatan kebutuhan jagung dunia karena negara kaya perlu untuk bioetanol, menjadi peluang bagi para pedagang tanah air untuk memasok jagung ke pasar internasional, pun demikian kelapa sawit untuk biodiesel.Belum lagi berbagai produk perkebunan kita yang lain.

Baru baru ini tersiar kabar, bahwa krisis pangan membuat negara yang punya duit pun juga ketakutan. Perusahaan Korea mendapatkan konsesi untuk sewa lahan sampai 99 tahun di Madagaskar, yang luasnya separuh dari luas negara belgia hanya untuk menanam jagung. Beberapa pedagang dari Timur Tengah telah menjajaki kemungkinan untuk investasi di Indonesia untuk pemenuhan kebutuhan beras dalam mengamankan ketahanan pangan mereka. Dan bangsa ini bangga jika mampu melayani investor untuk menanamkan duitnya di negeri ini. Petani kita mungkin akan senang jika mendapat keuntungan yang berlipat dibanding dijual ke tengkulak lokal dan lebih menjanjikan jika masuk dalam ekspor ke negara lain.

Situasi ini akan terus berlangsung, petani dan pertanian kita akan masuk dalam global supply chain yang didominasi perusahaan negara kaya. Dan juga harus bersiap diri jika kejatuhan harga akan terjadi karena volatilitas harga internasional bisa terjadi karena spekulasi perdagangan komoditas. Masuk dalam kerangka ekspor berimplikasi pada perlunya standar dan sertifikasi kelayakan produk untuk masuk dalam pasar internasional. Petani mulai belajar untuk menyesuaikan produk dengan standart apa yang akan dimakan oleh rakyat negara maju, jika tidak jangan harap bisa diterima.

Kebanggaan sebagai republik pemasok bahan mentah seakan menutup mata akan pentingnya membangun industri pangan nasional yang tangguh. Industri pangan skala raksasa telah menguasai pasar di republik ini, tanpa sempat kita membangun apalagi menyaingi.

Pertanian bangsa ini menjadi ironis karena nilai tambah produk dinikmati oleh pedagang perantara dalam dan luar negeri dibanding oleh rakyat sendiri. Adalah wajar jika pertanian kita jalan di tempat, kemiskinan petani terus berlanjut walaupun angka ekspor kita meningkat dari tahun ke tahun. Mungkinkah bangsa ini mampu menjadi republik yang berdaulat pangan ?

David Ardhian

Bogor, 13 Peb 09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: