Oleh: David Ardhian | Februari 13, 2009

Adaptasi Petani untuk Perubahan Iklim

Pertanian adalah kegiatan pengelolaan sumberdaya alam, dimana implikasi dari perubahan iklim adalah faktor penting. Studi yang dilakukan Yayasan Nastari dan Klinik Tanaman IPB (2007) di 26 komunitas petani dari 24 Kabupaten di Pulau Jawa, menguatkan fakta bahwa perubahan iklim berpengaruh signifikan pertanian. Dalam kasus serangan hama penyakit tanaman, ditemukan pergesaran dominasi hama dan penyakit yang menyerang tanaman. Beberapa hama yang tidak diperhitungkan menjadi permasalahan yang serius bagi petani seperti penggerek batang merah jambu (Sesamia inferens) yang merupakan kategori hama minor untuk tanaman padi, ditemukan mulai dominan di Indramayu, Magelang, Boyolali, Kulon Progo dan Ciamis). Untuk tanaman lain seperti bawang merah, serangan penyakit Fusarium oxysporum yang sebelum tahun 1997 bukan merupakan penyakit dominan menjadi permasalahan serius bagi petani Bawang Merah di Brebes pada tahun tahun terakhir.

Ledakan hama penyakit hanyalah satu diantara faktor kerentanan lain yang dihadapi petani terkait dengan perubahan iklim. Faktor utama adalah ketidakpastian akan ketersediaan air. Hal ini sangat terkait dengan musim yang mulai berubah keteraturannya, pada suatu saat terjadi musim kering panjang namun pada saat lain terjadi musim hujan dengan intensitas sangat tinggi. Pada tahun 2007, musim kering panjang mengakibatkan petani di wilayah paling utara di lumbung padi Karawang terpaksa menunda tanam sampai satu bulan. Namun ketika air mulai tersedia, terjadi curah hujan yang sangat tinggi sehingga petani terpaksa menanam 2 sampai 3 kali, karena pembibitannya rusak karena diterjang hujan. Pada tahun 2008 ini, kejadian menjadi terbalik dengan tahun sebelumnya. Petani di wilayah yang sama terpaksa menunda tanam hingga hampir 3 bulan karena intensitas hujan tidak kunjung reda sampai bulan Pebruari.

Penundaan tanam pada sampai 3 bulan membawa implikasi bagi kehidupan petani. Buruh tani mulai kekurangan simpanan beras, sementara itu tidak ada sumber pendapatan bagi mereka akibat belum dimulainya aktifitas olah lahan dan tanam. Bagi petani kecil, simpanan gabah  hanya cukup untuk 1-2 bulan ke depan, padahal mereka harus menunggu selama 4 bulan hingga masa pane.

Situasi tersebut kemudian memunculkan sebuah pertanyaan, bagaimana mendukung petani dalam menghadapi situasi perubahan iklim? Perubahan iklim dalam konteks penghidupan petani merupakan  kerentanan, sementara belum ada bentuk bentuk adaptasi yang mampu mengelola kerentanan tersebut. Program dan kebijakan pertanian sesungguhnya berpotensi untuk mendukung petani dalam adaptasi, namun sayangnya program pertanian masih berjalan seperti bussines as usual. Pemerintah seperti menunggu uang jatuh dari langit, dengan mengandalkan dana dana adaptasi bersumber dari lembaga internasional.

gorolan

gotong royong petani adalah modal sosial untuk adaptasi terhadap perubahan iklim

Pemerintah pusat dan daerah seperti kurang koordinasi dalam menghadapi berbagai kerentanan pada tingkat petani walaupun kasus kasus kerentanan tersebut telah terjadi pada tahun tahun sebelumnya. Sebagai contoh adalah kasus banjir di Pantura yang merendam puluhan ribu hektar sawah, namun pemerintah pusat secara responsif hanya menyediakan cadangan benih padi sebesar 30.000 ton. Permasalahan yang dihadapi petani akibat kebanjiran direduksi hanya permasalahan kerusakan benih padi semata. Banjir tidak dilihat sebagai tekanan terhadap penghidupan secara luas. Konsolidasi kebijakan dan program antara pemerintah pusat dan daerah seperti tidak terjadi, sehingga petani dibiarkan untuk melakukan acrobatic-social survival dalam menghadapi tekanan kerentanan tersebut.

Dalam situasi seperti ini seharusnya pemerintah pusat dan daerah mulai merumuskan skema adaptasi dan rencana lebih sistematis dalam mendukung petani dalam menghadapi tekanan perubahan iklim. Selain perbaikan infrastruktur seperti irigasi yang sudah rusak, diperlukan sebuah desain kelembagaan adaptasi pada tingkat lokal dengan menggerakkan potensi sumberdaya yang ada. Di daerah terdapat laboratorium pemantau hama, yang sesungguhnya punya informasi mengenai data curah hujan dan serangan hama dan penyakit. Pada tingkat lokal juga telah tersedia petugas penyuluh lapangan dan para petani pemandu, petani ahli dan para pemimpin lokal lainnya. Potensi tersebut sesungguhnya bisa mulai digerakkan untuk menyusun kerangka adaptasi pada tingkat lokal, yang bersifat spesifik untuk satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Pengembangan kelembagaan dengan pelibatan potensi sumberdaya lokal menjadi penting untuk mengembangkan kerangka adaptasi yang berdimensi jangka panjang. Ada tiga agenda penting yang bisa menjadi tema dalam kerangka adaptasi yaitu adaptasi pada budidaya dan pengelolaan agro-ekosistem, adaptasi pada aspek sosial ekonomi serta adaptasi pada  iklim itu sendiri. Adaptasi pada tingkat budidaya menyangkut pengembangan pilihan varietas, praktek budidaya dan pengelolaa agro-ekosistem serta manajemen air yang sesuai dengan perubahan kondisi yang ada. Adaptasi pada aspek sosial ekonomi mancakup pengembangan diversifikasi pendapatan, penguatan modal sosial serta bentuk bentuk kelembagaan ekonomi dalam menghadapi perubahan situasi yang ada. Mengembangkan kemampuan kelembagaan lokal untuk membaca trend perubahan iklim serta menerjemahkan dalam informasi adalah proses adaptasi yang sangat penting. Hal ini akan membantu petani dalam perencanaan usaha tani dengan baik.

Ketiga agenda tersebut, perlu dirumuskan menjadi ukuran ukuran adaptasi yang sesuai dengan kondisi lokal. Dengan demikian adaptasi perubahan iklim pada tingkat lokal dengan petani ujung tombaknya, sudah bisa segera dilakukan tanpa harus menunggu proyek dan bantuan dana internasional yang berjudul ”adaptasi”. Petani dengan pengalaman menghadapi kerentanan dalam beberapa tahun terkahir, memiliki banyak pengalaman dan cara cara mengatasi masalah atau yang disebut sebagai autonomous adaptation. Dengan demikian tugas pemerintah adalah mentransformasi autonomous adaptation menjadi planned adaptation, atau adaptasi yang lebih terencana.

Agak mengherankan, jika pemerintah pusat termasuk Dewan Nasional Perubahaan Iklim (DNPI) masih belum bergerak menuju pengembangan adaptasi skema komprehensif dan kongkret. Program adaptasi yang dimaksud, bukanlah program reguler yang dilabeli adaptasi, atau program adaptasi yang menunggu petunjuk dan dana dari internasional. Ada kesan, bahwa pemerintah dan DNPI lebih berkutat pada masalah kerumitan kelembagaan, kepentingan diantara mereka sendiri dan ketidakmauan bergerak tanpa ada dana segar baru. Adaptasi tidak berlangsung dalam ruang hampa, namun berada dalam berbagai inisiatif yang telah berjalan.  Jika adaptasi sulit diterapkan, sebenarnya masalahnya pada pemerintah dan bukan pada rakyat.

David Ardhian

Bogor, 13 Peb 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: