Oleh: David Ardhian | Desember 1, 2009

Strategi Adaptasi Perubahan Iklim Pertanian

Perundingan PBB tentang perubahan iklim di Kopenhagen tinggal menghitung hari. Juru runding akan sibuk untuk mencapai kesepakatan akan reduksi emisi, skema insentif dan mekanis pendanaan global untuk perubahan iklim. Namun para petani telah merasakan dampak perubahan iklim.

Setiap musim, petani menghadapi ketidakpastian iklim. Petani padi di Pantura mengeluh kesulitan air saat musim kering, namun kebanjiran pada musim penghujan. Petani padi di Indramayu, Ciamis, Magelang, Semarang, Boyolali dan Kulon Progo menemukan hama penggerek batang merah jambu, yang biasanya merupakan hama minor menjadi dominan (Nastari dan Klinik Tanaman IPB, 2007). Iklim tidak pasti, air menjadi langka dan pola serangan hama telah berubah.

Krisis iklim terus berlanjut tanpa menunggu hasil Kopenhagen. Keterlambatan bertindak dalam mengubah cara hidup dalam menghadapi pemanasan global telah menimbulkan konsekwensi. Rakyat miskin yang bergantung pada sumberdaya alam sensitif terhadap perubahan iklim, harus menerima kenyataan beradaptasi dengan dengan peningkatan suhu bumi.

Pemerintah Indonesia telah menyusun rencana adaptasi nasional untuk perubahan iklim. Dokumen tersebut masih merupakan kerangka makro dan belum operasional. Agenda adaptasi perubahan iklim masih merupakan agenda ‘sisipan’ dalam kerangka pembangunan nasional. Ada jarak antara program adaptasi perubahan iklim dengan program pembangunan yang berlangsung ‘bussiness as usual’.

Pertanian adalah sektor strategis penyokong ketahanan pangan, penghidupan mayoritas rakyat dan generator pembangunan pedesaan. Selain sensitif terhadap perubahan iklim, pertanian juga merupakan penyumbang bagi emisi gas rumah kaca. Diperlukan perhatian khusus untuk pengembangan kerangka adaptasi sektor pertanian ditengah tantangan kebutuhan pangan yang terus meningkat.

Ironisnya, yang terjadi justru sebaliknya. Program pertanian berjalan dengan logika peningkatan produksi dengan pola seperti biasa. Pemerintah mendorong penggunaan benih padi hibrida yang sebagian besar diimpor dari Cina dalam rangka peningkatan produksi pangan. Padi hibrida rakus akan unsur hara, sensitif terhadap serangan hama penyakit serta tidak sesuai realitas kesulitan petani akan kondisi iklim yang berubah.

Kerangka adaptasi setidaknya memuat beberapa hal : pertama adalah mengatasi faktor faktor kerentanan. Kerentanan bisa bersifat kejutan (shocks) seperti bencana alam, kecenderungan (trends) seperti penurunan kesuburan tanah maupun musiman (seasonilities) seperti ledakan hama dan penyakit. Setiap karakter kerentanan memerlukan strategi yang berbeda.

Kedua adalah memperkuat kapasitas respon petani. Diperlukan untuk mempersiapkan petani dalam jangka pendek dan jangka panjang untuk menyesuaikan dengan situasi iklim yang berubah. Strategi adaptasi mencakup pengembangan varietas, perbaikan kesuburan tanah, pengembangan inovasi teknologi budidaya dan kelembagaan petani dalam menghadapi tantangan krisis iklim.

Ketiga adalah pengelolaan resiko dalam perubahan iklim. Pengembangan informasi iklim sampai pada tingkat lokal, skenario dalam menghadapi bencana alam serta pengembangan best practices sebagai sumber informasi bagi petani adalah upaya penting dalam mengurangi resiko.

Adaptasi perubahan iklim seharusnya menjadi bagian tidak terpisahkan dalam program pembangunan pertanian, tidak berjalan secara terpisah. Program pembangunan pertanian dalam berbagai sub-sektor semestinya memuat prinsip dan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. Adaptasi merupakan sebuah proses, sehingga pelibatan petani dalam merancang kerangka adaptasi pada tingkat lokal menjadi sangat penting. Dengan atau tanpa Kopenhagen, adaptasi terhadap perubahan iklim adalah kebutuhan, bukan sebuah pilihan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: